Satu Langkah Maju untuk Ketersediaan Vaksin Covid-19

RUANGNEGERI.com – Hasil uji coba vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh AstraZaneca dan Universitas Oxford akan dipublikasikan pada tanggal 20 Juli mendatang.

Melansir dari Reuters (15/07/2020), saat ini uji coba sudah mencapai tahap 3 dan menentukan apakah vaksin ini benar-benar efektif melawan Covid-19. Namun hasil uji coba tahap pertama ini masih harus dilaporkan untuk melihat keamanannya.

Pengembang vaksin yang diberi nama AZD1222 ini akan mempublikasikan data tahap 1 pada akhir Juli nanti. Di seluruh dunia sendiri, telah dikembangkan lebih dari 100 vaksin untuk menghentikan virus tersebut.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan bahwa AZD1222 dari AstraZeneca adalah vaksin yang paling cepat pengembangannya saat ini.

Sementara, ada sekitar 24 vaksin lainnya yang sedang berada pada tahap uji coba dengan tingkatan beragam. Vaksin produksi Tiongkok bekerja sama dengan Oxford adalah salah satunya.

Melansir dari Associated Press (15/07/2020), menyebutkan bahwa vaksin hasil pengembangan Moderna Inc bekerja sama dengan AS telah menunjukkan kemajuan efektif dan akan memulai uji coba tahap 3 pada 27 Juli nanti.

Para peneliti diberitakan telah melaporkan hasil dari uji coba tahap 1 yang berlangsung bulan Maret 2020. Uji coba ini melibatkan 45 orang relawan.

Penelitian menunjukkan bahwa para relawan mengalami netralisasi antibodi di dalam aliran darah mereka. Seperti yang dirilis di New England Journal of Medicine. Hal ini merupakan “kunci molekul untuk menghambat infeksi”.

Kondisi itu sama seperti kondisi para pasien yang sembuh secara alami dari Covid-19. Dr. Lisa Jackson, kepala penelitian, menyatakan bahwa ini adalah “penghambat utama yang diperlukan untuk menentukan langkah berikutnya.”

Hasil ini akan menentukan apakah “vaksin tersebut benar-benar melindungi penerimanya dari infeksi.” Sejauh ini hasil uji coba menunjukkan hasil yang positif.

“Ini adalah berita baik,” ujar dokter Anthony Fauci, kepala National Institute of Allergy and Infectious Diseases, Amerika Serikat. Sekitar 30.000 orang akan ikut serta menjadi relawan untuk uji coba tahap 3 nanti.

Jika uji coba tahap 1 dari vaksin produksi Moderna hanya diikuti oleh relawan berusia muda, maka uji coba tahap 3 akan melibatkan orang lanjut usia. Kelompok ini lebih rentan terhadap infeksi Covid-19 dibandingkan mereka yang berusia muda.

Ia menyatakan bahwa selain para lansia, mereka yang memiliki kondisi penyakit kronis juga akan dilibatkan. “Termasuk para penduduk kulit hitam dan orang-orang Latin,” pungkasnya.

Dicanangkan seluruh penelitian dan uji coba akan selesai pada akhir tahun 2020 ini. Sehingga awal tahun 2021 vaksin diharapkan sudah bisa tersedia.

BACA JUGA: Dampak Covid-19 terhadap Ekosistem Laut

Akankah Tersedia untuk Seluruh Negara di Dunia?

Di tengah optimisme atas pengembangan vaksin Covid-19, beberapa ahli mulai memikirkan cara agar vaksin tersebut bisa tersebar merata ke seluruh dunia.

Fauci mengatakan bahwa uji coba vaksin ini secara global dianggap seperti “perlombaan untuk menunjukkan siapa juaranya.” Namun lebih jauh, dia menekankan bahwa usaha ini adalah untuk “menyediakan vaksin bagi seluruh dunia, bukan hanya negara kita (AS) saja.”

WHO mengharapkan akan ada 2 juta dosis yang bisa dibagikan ke negara-negara dengan ekonomi lemah pada akhir 2021. Termasuk vaksin yang diinisasi oleh kerja sama nirlaba internasional seperti Gavi.

Kate Elder dari Doctors Without Borders mengatakan bahwa Gavi memiliki “posisi yang sangat bagus karena mereka benar-benar mengedepankan nama baik dari perusahaan farmasi.”

Tanpa kerja sama internasional dengan lembaga nirlaba, para ahli berpendapat akan sulit menyebarkan vaksin merata hingga ke seluruh dunia.

“Para politisi merasa jika negara mereka tidak membayar perusahaan farmasi, rakyat tidak akan mendapat vaksin. Dan itu buruk bagi negara mereka,” ujar Yannis Natsis, politisi Aliansi Kesehatan Publik Eropa.

Menurutnya negara-negara kaya akan berpikir berulang kali sebelum berbagi vaksin dengan negara miskin.

Gavi sendiri adalah sebuah badan kerjasama publik swasta yang digagas oleh Bill dan Melinda Gates Foundation. Badan ini membeli vaksin untuk sekitar 60 persen anak-anak di dunia.

Dalam dokumen yang mereka kirimkan pada negara-negara pendonor bulan lalu, Gavi menyebutkan bahwa negara yang mendonorkan uang untuk Fasilitas Covax ini akan memiliki “kesempatan dan benefit yang lebih besar dalam portofolio vaksin Covid-19”.

Gavi menyebutkan bahwa negara pendonor akan mendapat vaksin sejumlah 20% dari populasinya. Saat vaksin dan ujicobanya telah ditemukan dan terbukti efektif. Jumlah itu boleh digunakan sesuai keinginan negara tersebut.

Negara miskin yang juga bekerja sama dalam usaha pengadaan vaksin secara teori juga akan mendapat 20% dari populasinya. Tapi harus digunakan untuk mengimunisasi rakyatnya sesuai dengan kerangka distribusi yang ditetapkan oleh AS.

Negara donor boleh (tapi tidak diharuskan) mendonasikan vaksin yang mereka miliki jika jumlahnya melebihi keperluan negara tersebut. Sekilas perjanjian ini terlihat baik dalam usaha menyebarkan vaksin secara merata.

Namun hal ini dikritisi oleh Anna Mariott dari Oxfam International. Ketentuan ini menurutnya hanya akan memberi negara kaya bagian yang lebih besar.

Negara-negara tersebut akan “membeli seluruh persediaan yang ada sebisa mereka dan akhirnya membatasi jumlah yang bisa didistribusikan ke seluruh dunia.”

Dr. Seth Berkley, CEO Gavi menyanggah. Menurutnya Gavi hanya ingin “membantu menyelesaikan masalah vaksin untuk semua orang.” Walau dia mengakui bahwa ada kelemahan pada ketentuan tersebut. Masalah akan terjadi “seandainya negara pendonor menaikkan jumlah populasi atau tidak mau berbagi vaksin.”

Saat ini ada sekitar 75 negara maju dan lebih dari 90 negara dengan ekonomi lemah yang ikut serta dalam kerja sama pengadaan vaksin ini.

BACA JUGA: Rumput Laut dapat Menyelamatkan Peradaban Manusia?

Vaksinasi dari Abad Ke Abad

Saat ini, vaksinasi secara massal merupakan cara paling ampuh untuk menghambat perkembangan penyakit. Sejarah secara resmi menyatakan vaksinasi pertama kali dilakukan pada tahun 1796 oleh Edward Jenner.

Dr. Edward Jenner lahir di Berkeley, 17 Mei 1749. Setelah mendapati kasus cacar sapi pada pasiennya, ia bereksperimen dengan menularkan virus tersebut kepada seorang anak berusia 8 tahun bernama James Phipps.

Setelah James sembuh, Jenner menginveksikan virus variola ke luka yang dibuatnya di tangan anak itu. James Phipps tidak terkena variola karena virus cacar sapi telah membuat antibodinya tahan terhadap variola.

Penemuan ini dilanjutkan Jenner dengan 23 percobaan lainnya. Termasuk pada anaknya yang berusia 11 bulan. Keseluruhan hasilnya dia tuangkan ke dalam buku An Inquiry the Causes and Effects of the Variolae Vaccinae.

Setelah sempat ditolak dan dimentahkan, metode vaksinasi yang dilakukan Jenner akhirnya dikembangkan kembali oleh Louis Pasteur di abad ke 19.

Sejak saat itulah vaksinasi secara resmi dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap wabah penyakit. Gelar Bapak Imunologi pun disematkan pada Edward Jenner.

Selain cacar, tercatat beberapa vaksinasi juga dilakukan untuk menanggulangi penyakit rabies (1855), pes (1897), hepatitis B (1981).

Kasus besar cacar terakhir adalah tahun 1977  di Somalia. Sementara polio diharapkan bisa teratasi paling lambat tahun 2000, walau belum sepenuhnya berhasil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *