Pertikaian Tiongkok-India Pertaruhkan Ekonomi Kedua Negara

RUANGNEGERI.com – Pasca pertempuran perbatasan yang mematikan antara Tiongkok dan India, keduanya terkunci dalam ketegangan diplomatik dan militer.

Hal ini menjadi taruhan tinggi bagi ekonomi kedua pihak negara. Mengingat hubungan perdagangannya yang besar dan ikatan yang erat dalam teknologi.

India tercatat sebagai negara yang paling banyak melakukan impor barang dari Tiongkok. Lalu selama dekade terakhir, India dan Tiongkok juga memungkinkan adanya kenaikan satu sama lain sebagai pembangkit tenaga teknologi yang muncul.

Teknologi besar di Tiongkok sebelumnya dikabarkan telah menginvestasikan miliaran dolar ke perusahaan rintisan terbesar di India.

Padahal telah diketahui bahwa pembuat ponsel cerdasnya mendominasi pasar negara itu. Orang India juga berbondong-bondong menggunakan aplikasinya, seperti TikTok. Kini, perselisihan itu mengancam hubungan mereka.

Tumbuhnya sentimen anti-Tiongkok di India telah mendorong seruan untuk memboikot produk dan layanan dari Negeri Tirai Bambu.

Sementara, aturan baru tentang investasi asing dapat membatasi kemampuan Tiongkok untuk memanfaatkan ledakan internet India.

BACA JUGA: Microsoft Akan Mengganti Jurnalisnya dengan AI

Hubungan Mendalam Tiongkok-India

Menurut sebuah laporan yang diterbitkan oleh lembaga pemikir kebijakan luar negeri, India Gateway House mengungkapkan bila dalam lima tahun terakhir, Tiongkok telah menciptakan tempat yang signifikan untuk dirinya sendiri di sektor teknologi India.

Melansir dari CNN.com (17/06/2020), Tiongkok memasuki kancah teknologi India dengan membanjiri pasar gawai murah dari jenama seperti Xiaomi, Oppo, dan juga menanamkan modal ke startup India.

Gateway House memperkirakan bahwa investor Tiongkok telah menggelontorkan sekitar AS $ 4 miliar ke startup teknologi India sejak 2015.

Selain itu juga terdapat 30 unicorn di India bernilai lebih dari $ 1 miliar yang dimiliki oleh investor Tiongkok. “Tiongkok berharap menjadi pemain dominan di pasar internet ini” kata Amit Bhandari, rekan di Gateway House.

Alibaba misalnya, telah berinvestasi di perusahaan e-commerce India Snapdeal, Paytm dompet digital, dan platform pengiriman makanan Zomato.

Sukanti Ghosh, kepala Asia Selatan untuk think tank Albright Stonebridge Group yang berbasis di Washington juga mengungkapkan bahwa India merupakan kunci bagi Tiongkok untuk menjadi kekuatan dominan dalam teknologi global.

“Saya tidak percaya ada orang yang merugi dalam hubungan ini. Kedua negara telah memperoleh secara substansial hubungan dengan strategi dominasi Tiongkok, dan meningkatnya persaingan dengan Amerika Serikat” ujar Ghosh.

Khrisnan, Reporter surat kabar The Hindu mengatakan bila India bergantung pada Tiongkok untuk semuanya. “Dari mesin berat dan semua jenis telekomunikasi dan peralatan listrik, hingga bahan-bahan farmasi aktif” katanya.

Dalam laporannya di Brookings, Krishnan memperkirakan bahwa total investasi saat ini dan yang direncanakan dari Tiongkok ke India setidaknya $ 26 miliar.

Perdagangan antara kedua negara mencapai lebih dari $ 87 miliar pada tahun fiskal 2018-2019, menurut Departemen Perdagangan India. Tiongkok adalah mitra dagang terbesar kedua India tahun itu, tepat di belakang Amerika Serikat.

Tetapi hubungan itu sepihak. Ekspor Tiongkok jauh lebih banyak ke India daripada sebaliknya. “Ini adalah ketergantungan struktural pada Tiongkok yang tidak akan diatasi dengan kampanye boikot,” katanya.

Krishnan mengatakan bahwa adanya pengetatan aturan investasi asing langsung atau FDI baru-baru ini tidak bertujuan menghentikan investasi Tiongkok ke India.

BACA JUGA: Di Tengah Pandemi, India dan Bangladesh Diterpa Angin Topan

Tetapi lebih tentang mengarahkan investasi Tiongkok ke daerah-daerah di mana ia akan lebih bermanfaat bagi India. Yakni ke dalam fasilitas pabrik yang secara nyata dapat menghasilkan pekerjaan.

Pada awal tahun ini, India memang telah mengisyaratkan pihaknya mengambil langkah untuk mengekang pengaruh Tiongkok yang terus tumbuh.

Bulan April lalu, pemerintah mengumumkan bahwa FDI dari negara-negara yang berbagi perbatasan darat dengan India akan menjadi subyek pengawasan lebih lanjut.

Pengetatan aturan FDI ialah pesan kepada perusahaan Tiongkok bila mereka masih dapat mengekspor perangkat lunak dan perangkat keras ke India. Tetapi mereka tidak akan dapat mendominasi ekosistem internet India.

“Pada dasarnya, Tiongkok tidak akan memiliki lari bebas di pasar ini” pungkas Bhandari.

BACA JUGA: Pemerintah Tiongkok Memperluas Penggunaan Aplikasi Kesehatan untuk Menilai Gaya Hidup Warganya

Pasang-Surut Hubungan Keduanya di Himalaya

Sejak sebulan lalu, ketegangan telah meningkat di Himalaya. Tepatnya di salah satu perbatasan darat terpanjang di dunia antara New Delhi dan Beijing.

Keduanya menuduh satu sama lain telah melampaui Garis Kontrol Aktual (LAC). Yaitu garis demarkasi yang didefinisikan secara longgar yang memisahkan kedua senjata nuklir tetangga.

LAC, yang beroperasi antara Aksai Chin yang dikuasai Tiongkok, dan sisa wilayah Jammu dan Kashmir yang disengketakan, telah disusun usai pertikaian perbatasan kedua negara pada tahun 1962.

Pasukan yang dilaporkan membangun di sepanjang garis telah menimbulkan kekhawatiran bila kedua belah pihak secara perlahan dapat kembali ke arah konflik. Terutama karena media Tiongkok dan India telah menerbitkan seruan untuk bertindak.

Mengutip dari laman BBC.com (18/06/2020), juru bicara kementerian luar negeri India, Anurag Srivastava mengatakan para menteri luar negeri kedua negara telah berbagi percakapan melalui telepon tentang perkembangan dan menyetujui bahwa situasi keseluruhan harus ditangani secara bertanggung jawab.

“Membuat klaim yang berlebihan dan tidak dapat dipertahankan bertentangan dengan pemahaman ini” kata Srivastava seperti dikutip oleh Press Trust dari kantor berita India.

Sementara itu, sebuah pernyataan Tiongkok mengutip Wang yang mengatakan “Tiongkok kembali menyatakan protes keras kepada India dan menuntut pihak India untuk meluncurkan penyelidikan menyeluruh serta menghentikan semua tindakan provokatif untuk memastikan hal yang sama tidak terjadi lagi.”

Pensiunan jenderal India, Singh mengatakan bahwa bagian dari masalahnya pertikaian ini adalah adanya perbatasan de facto, LAC yang sangat tidak jelas.

“Di tingkat strategis dan operasional, kedua militer telah menahan diri. Namun pada tingkat taktis, tatap muka terjadi karena perbedaan persepsi tentang di mana perbatasan sebenarnya.”

“Karena LAC tidak digambarkan di lapangan. Sementara tatap muka diselesaikan secara lokal, yang terkait dengan pembangunan infrastruktur. Seperti jalan dan benteng pertahanan, yang biasanya membutuhkan waktu lebih lama dan membutuhkan kombinasi inisiatif militer dan diplomatik,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *