Mengenal Perbedaan Konflik Orang Tua dan Konflik Anak

RUANGNEGERI.com – Konflik merupakan sebuah keadaan yang menimbulkan pertentangan dari pihak yang berbeda. Kehadiran konflik ini tidak hanya ditemui di lingkungan luas, namun juga di lingkungan yang lebih sempit seperti keluarga.

Dalam keluarga, konflik bisa terjadi antar orang tua atau anak. Ketika anak sudah mulai bisa berpikir sendiri, biasanya mereka akan terlibat konflik dengan orang tuanya karena sudah mempunyai pemikiran sendiri.

March H. Bornstein (2002) dalam bukunya Handbook of Parenting: Children and Parenting (Vol. 1)menjelaskan bahwa di sebagian besar keluarga, periode konflik secara bertahap akan diselesaikan ketika remaja yang lebih tua mulai melihat nilai sosial.

Adapun orang tua, mulai juga mulai bisa menghormati otoritas anak mereka yang sudah dewasa. Semakin bertambah usia anak, semakin besar pula kemungkinan konflik akan timbul dalam keluarga.

Namun, jika anak masih berada dalam masa balita, maka konflik yang timbul hanya hadir sebatas pada keinginan yang tidak terpenuhi lalu menangis tersedu-sedu. Setelah anak berhenti menangis, maka konflik pun selesai.

Hal itu tentu berbeda dengan konflik yang dialami oleh orang tua. Para orang tua yang memiliki konflik cenderung akan menyimpannya dan selesai dalam waktu yang lama.

BACA JUGA: Pentingnya Identifikasi Gender Anak, Orang Tua Harus Tahu

Perbedaan Konflik Orang Tua dan Konflik Anak

Konflik yang dimiliki oleh orang tua dan anak tentu saja berbeda. Orang tua mempunyai konflik yang lebih kompleks, sedangkan anak cenderung mempunyai konflik yang lebih ringan.

Ini adalah perbedaan mendasar antara konflik orang tua dan anak. Konflik orang tua yang ada juga bisa berhubungan dengan anak. Selama hidupnya, orang tua akan selalu memiliki konflik dengan anaknya.

Konflik yang dirasakan oleh orang tua lebih berhubungan dengan nalurinya sebagai orang tua yang ingin memberikan hal terbaik untuk anaknya. Sedangkan konflik anak akan terjadi pada lingkup sesuai dengan tahap perkembangannya.

Shefali Tsabary (2010) dalam bukunya The Conscious Parent, menjelaskan bahwa ketika orang tua sedang dalam keadaan gelisah, frustasi atau lelah, maka kemungkinan besar orang tua akan merusak proses pendisiplinan yang sudah dilakukan pada anaknya.

Orang tua banyak melakukan kesalahan, terutama ketika menetapkan batasan dengan anak-anak yang berasal dari konflik internal yang membuat ego berubah menjadi konflik.

Daniel J. Siegel & Tina Payne Bryson (2014) dalam bukunya No-drama Discipline : The Whole-Brain Way To Calm The Chaos and Nurture Your Child’s Developing Mind, menjelaskan bahwa setiap kali anak-anak berperilaku tidak baik, mereka memberi orang tua kesempatan untuk memahami mereka dengan lebih baik.

Selain itu, anak-anak juga akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bantuan yang mereka butuhkan untuk belajar. Mereka juga sering kali bertingkah karena mereka belum mengembangkan keterampilan di bidang tertentu.

Anak akan selalu bertingkah yang menyebabkan konflik antara dirinya dengan orang tua. Konflik ini akan hilang dengan seiring waktu atau malah berlangsung sepanjang waktu. Tentunya jika kedua belah pihak tidak ada yang mengalah.

Untuk mengalah dalam suatu konflik, yang menjadi masalah utama bukanlah siapa yang benar dan salah. Melainkan bagaimana kedua pihak bisa memahami keadaan satu sama lain yang berbeda.

BACA JUGA: Beberapa Cara Menanamkan Konsep Diri pada Anak

Hubungan antara Orang Tua dan Anak

Hubungan antara orang tua dan anak akan berlangsung seumur hidup. Ketika anak sudah dewasa dan berumah tangga, hubungan erat dengan orang tuanya masih tetap terjadi.

Entah ada konflik atau tidak, hubungan ini akan terus berlanjut. Hubungan orang tua dengan anak akan berujung pada konflik ketika muncul pertarungan keinginan dari pemikiran yang kaku.

Shefali Tsabary (2010) kembali menjelaskan bahwa konflik dengan anak-anak tidak bisa dihindari oleh orang tua. Orang tua sebaiknya tidak menghindari konflik yang terjadi, karena konflik bisa menjadi kesempatan untuk lebih berkembang.

Ketika orang tua menghindari konflik, serta takut mengambil tindakan tegas atas nama anaknya, maka hal itu menunjukkan kasih sayang yang protektif.

Orang tua seperti ini kemungkinan besar akan membesarkan anaknya dengan keyakinan yang meragukan keberadaan mereka sendiri. Hal itu bisa memancarkan rasa rendah diri pada diri anak.

BACA JUGA: Yuk, Intip Pentingnya Kolaborasi dalam Parenting Anak!

Berdamai dengan Konflik

Sebagai orang tua yang baik, anak harus diajarkan bagaimana cara terbaik untuk berdamai dengan konflik yang ada. Jika anak tidak bisa hidup berdampingan dengan konflik sederhana yang muncul sejak usia kecil, maka anak akan lebih kesulitan ketika menghadapi berbagai masalah ketika dewasa.

Daniel J. Siegel &Tina Payne Bryson (2011) dalam bukunya The Whole-Brain Child: 12 Revolutionary Strategies To Nurture Your Child’s Developing, mengatakan bahwa orang tua bisa membantu anak-anak menghindari semua konflik.

Jika anak mulai berinteraksi, maka mereka akan menghadapi pertengkaran dan ketidaksepakatan. Orang tua dapat mengajari mereka beberapa keterampilan dasar pemikiran. Sehingga mereka akan tahu cara mengelola konflik dengan cara yang sehat dan produktif.

Orang tua dapat mengajari anak untuk memastikan semuanya kembali baik-baik saja setelah konflik terjadi. Sebagai contoh, ketika anak bertengkar dengan temannya, maka orang tua bisa memintanya untuk segera minta maaf dan berbaikan kembali.

Orang tua bisa mengajarkan bahwa minta maaf tidak hanya dilakukan oleh orang yang bersalah.

Dengan begitu, maka ketika anak sudah merasa semua baik-baik saja, maka anak akan memahami bahwa segala sesuatu yang berantakan dapat diperbaiki kembali.

Serumit apapun konfliknya, anak harus dapat berdamai dengan keadaan yang dapat muncul sewaktu-waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *