Pengasuh Non-Parental, Apa Plus Minusnya?

RUANGNEGERI.com – Parental dapat diartikan sebagai orang tua atau garis keturunan keluarga. Dalam dunia parenting, faktor garis keturunan selalu memberikan dampak tertentu pada perkembangan anak.

Bagi orang tua yang berkarier di luar rumah, mempunyai anak tentu menjadi tantangan tersendiri. Mereka akan mempertimbangkan dengan matang bagaimana cara terbaik untuk mengasuh putra putrinya.

Ada yang memilih untuk keluar dari pekerjaan dan fokus merawat anak, ada pula yang memilih untuk menyewa pengasuh anak.

Dari kedua pilihan tersebut, memilih menyerahkan anak kepada pengasuh selama orang tua bekerja menjadi pilihan sebagian besar orang tua. Hal ini dilakukan demi memastikan kebutuhan si kecil dapat terpenuhi hingga dewasa.

Biasanya, para orang tua akan menitipkan buah hatinya di tempat penitipan anak yang terpercaya. Tempat penitipan anak diyakini akan bisa memberikan pembelajaran terbaik karena pengasuh yang ada sudah profesional dan terjamin.

Namun, hal itu masih menimbulkan pro dan kontra. Anggapan bahwa orang tua adalah sosok terbaik yang dibutuhkan seorang anak tetap menjadi fokus utama sebagian besar kalangan.

Anggapan tersebut tidaklah sepenuhnya salah, mengingat orang tua memberikan pengaruh terbesar dalam perkembangan anak.

March H. Bornstein (2002) dalam buku berjudul Handbook of Parenting: Children and Parenting (Volume 1), menyebut bahwa bayi akan memperoleh keuntungan paling besar dari pengasuhan orang tua.

Sebab, masa-masa tersebut merupakan fase atau tahapan di mana pengasuhan orang dewasa akan banyak memberikan pengaruh yang signifikan bagi anak.

BACA JUGA: Kecerdasan Naturalis Anak, Bagaimana Cara Mengoptimalkannya?

Kelebihan Pengasuh Non-Parental

Pengasuh non-parental merupakan sebutan yang biasa disematkan pada siapapun yang memberikan jasa untuk mengasuh anak tanpa hubungan darah. Pengasuh ini bisa berupa pengasuh panggilan yang bisa datang ke rumah atau di tempat penitipan anak.

Keputusan orang tua untuk menitipkan anaknya pada tempat penitipan, bukanlah sesuatu yang 100% salah. Hal ini justru dapat dibilang sebagai sarana pembelajaran baru bagi si kecil.

Stephanie Petrie & Sue Owen (2005) dalam bukunya Authentic Relationships in Group Care for Infants and Toddlers, menjelaskan bahwa sebagian besar penitipan anak saat ini telah diatur secara ketat. Yakni adanya peraturan yang jelas terkait untuk pelatihan dan pengembangan staf, kurikulum bayi atau balita hingga peran dan keterlibatan dari orang tua.

Hal itu menunjukkan bahwa di tempat penitipan anak atau pengasuh non-parental, setiap anak akan mendapatkan bimbingan atau pembelajaran yang berkualitas. Apa yang diberikan oleh pengasuh non-parental belum tentu bisa diberikan oleh orang tua.

Menyerahkan anak pada pengasuh juga bisa membuat anak lebih mandiri. Anak yang terbiasa bersosialisasi dan berkolaborasi dengan orang lain akan lebih memiliki kepercayaan diri.

Selain itu, anak juga sekaligus bisa berlatih untuk menempatkan diri dengan baik dalam lingkungannya.

BACA JUGA: Baby School VS Daycare, Mana yang Lebih Baik?

Kekurangan Pengasuh Non-Parental

Meski pengasuh non-parental mempunyai kelebihan karena memperoleh pelatihan yang berkualitas, namun pengasuhan yang diberikan tidaklah sama dengan orang tua. Tidak dipungkiri jika pengasuh non-parental tetap tidak akan bisa memberikan kasih sayang layaknya orang tua asli.

Kehangatan dan ekspresi fisik dari kasih sayang terhadap anak yang didapat dari pengasuh tidak pernah bisa menyamai orang tua. Peran ibu tidak akan bisa digantikan oleh pengasuh non-parental, begitu pula peran ayah.

Ibu akan cenderung mencium, memeluk, berbicara, tersenyum, merawat dan menggendong dengan alami dan penuh kehangatan. Sedangkan ayah mempunyai kaitan yang erat dengan interaksi fisik yang menyenangkan.

Hubungan antara orang tua dengan anak tersebut secara natural akan tumbuh berkembang dengan rasa hormat, kehangatan, pertimbangan, kerjasama dan kompromi.

Pengasuh non-parental juga tidak bisa mengendalikan hal-hal yang terjadi pada anak selama di luar pengawasannya. Mereka tidak banyak mengetahui apa saja yang terjadi pada anak ketika sedang tidur. Selain itu, pengasuh non-parental juga tidak mengawasi perkembangan anak secara teratur selama 24 jam.

Meski begitu, Shefali Tsabary (2010) dalam bukunya The Conscious Parent, menjelaskan bahwa pengasuhan anak di setiap langkah dan aktifitasnya, kapan dan oleh siapa pun, tentulah lebih baik dari pada tidak sama sekali.

Akhir kata, setiap orang tua tentu ingin melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dalam hal ini, orang tua dapat memilih untuk pengasuh non-parental atau tidak. Semua tergantung pada pemahaman dan kondisi orang tua.

Kesalahan dalam pola pengasuhan akan sangat berdampak bagi masa depan anak dan juga orang tua di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *