Seberapa Besar Pengaruh Pengasuhan Ibu terhadap Keadaan Psikis Anak?

RUANGNEGERI.com – Orang tua sudah pasti memberikan pengaruh besar pada perkembangan anak. Seorang anak yang masih kecil, apalagi masih bayi, tentu akan menerima berbagai macam pengaruh dari lingkungan sekitar sehingga memberikan andil yang konsisten dalam perkembangannya.

Hal apapun yang diterima anak, semua akan mempengaruhi keadaan psikisnya. Lalu hal apa yang paling mempengaruhi keadaan psikis seorang anak? Tentu saja pengasuhan, terutama pengasuhan dari seorang ibu.

Ibu adalah sosok pertama yang dikenal oleh seorang anak dalam hidupnya. Kehadiran ibu memberikan pengaruh paling besar pada perkembangan anak, terutama psikis seorang anak.

Keadaan psikis selalu menjadi tumpuan pada setiap tahap perkembangan seorang anak. Bahkan, psikis ini juga mempunyai pengaruh besar pada pembentukan kepribadian anak.

March H. Bornstein (2002) dalam bukunya Handbook of Parenting: Children and Parenting, mengatakan bahwa pada masa balita ada tiga tahap yang akan dilewati, yaitu latihan (berdiri dan berjalan ke lingkungan sekitar) serta pemulihan hubungan (pertengkaran dengan ibu).

Selain itu juga terkait dengan individualisasi. Yakni terbentuknya rasa keseimbangan yang terlepas antara kekuatan dan ketergantungan pribadi.

Setiap anak yang sedang berkembang menuju individualisasi atau kemandirian akan dibantu oleh seorang ibu yang dapat secara fleksibel menanggapi tuntutan yang saling bertentangan.

Sehingga dapat dipahami bahwa seorang ibu mempunyai peran yang besar bagi perkembangan seorang anak. Ketika anak terlahir di dunia, cara ibu mengasuhnya akan memberi pengaruh pada keadaan psikis hingga membentuk kepribadian anak hingga dewasa.

BACA JUGA: Pentingnya Identifikasi Gender Anak, Orang Tua Harus Tahu

Perkembangan Psikis Anak

Sadar atau tidak, diakui atau tidak, keadaan psikis setiap anak selalu berbeda. Perbedaan keadaan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti lingkungan, pola asuh hingga pengalaman diri mereka sendiri. Semua hal yang dirasakan oleh anak akan memberikan andil besar dalam perkembangan psikis anak.

Seorang ibu harus mampu memahami setiap perkembangan psikis seorang anak. Pola asuh yang diberikan juga harus berdasarkan tahapan perkembangan psikis yang sesuai, sehingga anak bisa tumbuh dengan lebih optimal.

Ibu adalah orang yang paling dekat dengan seorang anak, sehingga bagaimana seorang ibu bersikap memberikan pengaruh yang besar pada psikis anak.

Sebagai contoh, ibu yang mengasuh anaknya dengan keras, maka anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang bersifat keras pula. Lalu anak yang diasuh ibunya dengan lembut, maka anak tersebut akan mempunyai kepribadian yang penuh kasih.

Shefali Tsabary (2010) dalam bukunya The Conscious Parent, mengatakan bahwa seorang ibu yang tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi rasa sakit anaknya atau membantu anaknya mengatasi rasa sakitnya sendiri, maka akan membuat seorang anak tidak bisa merasakan emosinya.

Sebagai seorang ibu yang baik, daripada membiarkan anaknya merasa sakit hati dan kehilangan haknya, maka dirinya bisa berusaha untuk membuat percaya bahwa anaknya cukup kuat untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Sikap semacam ini akan membuat anak lebih besar hati dan menciptakan rasa percaya diri yang kuat.

Sikap tersebut akan membantu anak memiliki mental yang lebih baik. Mental atau psikis anak akan terbentuk dengan lebih optimal melalui sikap pengasuhan ibu yang sesuai dengan keadaan anak.

Daniel J. Siegel & Tina Payne Bryson (2011) dalam bukunya The Whole-Brain Child: 12 Revolutionary Strategies To Nurture Your Child’s Developing, mengatakan bahwa seorang ibu dari balita yang sedang berkembang, dapat dengan cepat menemukan tentang apa yang dapat ia lakukan.

Hal itu sangat diperlukan untuk meningkatkan integrasi antara otak kiri dan kanan sang anak. Kecerdasan natural anak akan bisa berkembang dengan pola asuh yang baik.

Ketika balita tersebut mulai tumbuh lebih besar, seorang ibu dapat kembali melihat buku parenting untuk melihat daftar contoh dan saran yang paling relevan dengan tahap perkembangan baru anaknya.

Sehingga bisa dipahami bahwa apa yang diberikan seorang ibu pada anaknya harus sesuai dengan tahap perkembangannya agar keadaan psikisnya berkemban lebih optimal.

BACA JUGA: Beberapa Cara Menanamkan Konsep Diri pada Anak

Hubungan Antara Ibu dan Anak

Ibu dan anak merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hubungan keduanya memberikan andil besar pada keadaan psikis anak. Tanpa hubungan yang baik, seorang anak tidak akan mempunyai perkembangan jiwa yang optimal.

Keadaan psikis anak yang dapat terkontrol dan tidak dapat terkontrol dipengaruhi oleh pengasuhan ibu yang diberikan setiap harinya. Setiap orang tua tidak boleh lupa jika keadaan psikis seorang anak memberikan pengaruh yang berkesinambungan pada masa depannya nanti.

Martin Maldonado-Duran, M.D (2002) dalam bukunya Infant and Toddler Mental Health Models of Clinical Intervention With Infants and Their Families, menyebutkan bahwa seorang ibu yang bijaksana akan memahami sebagian besar perkembangan anaknya.

Dengan begitu, ibu akan memberikan ruang bagi anak untuk bisa memberikan berbagai hal pada anak yang aktif. Ibu dan anak dapat membuat kesepakatan di mana mereka menegosiasikan setiap pergerakannya setiap hari. Misalnya saja anak tidak boleh berkeliaran di jalan raya.

Ketika ibu dan anak terlibat dalam sebuah konflik atau perbedaan pendapat, itu adalah hal yang wajar. Konflik merupakan sebuah ekspresi dari hal apa saja yang terjadi dalam setiap interaksi ibu dan anak.

Konflik juga dapat dinilai sebagai tanda yang menunjukkan bahwa ada dua individu yang saling berhadapan. Bahkan seorang anak yang baru berusia beberapa bulan juga bisa mempunyai hubungan yang bertentangan dengan ibunya, seperti halnya ketika anak menangis.

Pemikiran seorang bayi berkembang diiringi dengan perkembangan sang ibu. Hubungannya dengan ibu, ayah, saudara kandung dan anggota keluarga lainnya akan selalu berkembang selama masa kanak-kanak dan remaja.

Seorang ibu pun pada akhirnya dapat bertukar peran dengan pasangannya untuk menciptakan hubungan pengasuhan dan pola interaksi parenting seimbang di keluarga.

Dengan demikian, meskipun orang yang pertama kali dikenali oleh seorang anak adalah ibu, namun bayi tetap membutuhkan peran orang lain demi menciptakan hubungan dan interaksi sosial yang sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *