Penerimaan Orang Tua, Kunci Segala Metode Pengasuhan

RUANGNEGERI.com – Mengasuh anak memerlukan keahlian tersendiri yang harus bisa disesuaikan dengan kondisi perkembangan anak. Oleh karena itu, setiap orang tua tidak bisa mengasuh anak dengan metode asal tanpa memperhatikan bagaimana kondisi anak.

Satu-satunya hal yang harus diperhatikan ketika mengasuh anak adalah penerimaan dari orang tua. Mengapa harus menerima?

Karena hanya dengan menerima segala hal dalam diri anak, orang tua bisa memasuki dunia anak dan mengerti apa yang terbaik untuk dunianya.

Stephanie Petrie dan Sue Owen (2005) dalam bukunya Authentic Relationships in Group Care for Infants and Toddlers, mengatakan bahwa yang paling penting dalam mendidik anak adalah menerima dan menghormati individu pada tingkat pemahamannya sendiri.

Hal ini sangat berguna untuk mengkomunikasikan penerimaan dan rasa hormat itu setiap hari. Menerima solusi sebagai hasil dari pemikiran mereka sendiri dapat dijadikan sebagai batu loncatan menuju peningkatan kualitas.

Setiap tantangan atas konsekuensi dari pilihan yang dipilih oleh anak sendiri adalah pelajaran berharga yang siap untuk dipelajari demi kematangan pemikirannya.

Orang tua yang tidak mau menerima setiap keputusan anak dapat dipandang sebagai individu yang tidak mau terbuka dan tidak menghormati anak sebagai individu yang mandiri.

Jika setiap keputusan hidup anak berada di tangan orang tua, maka itu sama artinya dengan orang tua tidak membiarkan anaknya berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya.

Hal ini tentu bukan sesuatu yang tepat karena anak yang terbiasa hanya menurut pada keputusan orang tua. Mereka tidak akan bisa memutuskan sesuatu yang penting di kemudian hari.

Orang tua harus memahami bahwa anak pada akhirnya akan menjadi individu yang mandiri dan berhak atas hidupnya sendiri.

BACA JUGA: Kapan Anak Mulai Mengenal Bahasa dan Mempelajarinya?

Pandangan Anak Atas Penerimaan Orang Tua

Tanpa disadari, bagaimana cara orang tua menerima anak sangat mempengaruhi kondisi psikis anak. Anak yang merasa diterima kehadirannya, tentu mempunyai kepribadian yang berbeda dengan anak yang merasa dirinya tidak diterima oleh orang tuanya.

Daniel J. Siegel & Tina Payne Bryson (2014) dalam bukunya No-drama Discipline: The Whole-Brain Way To Calm The Chaos And Nurture Your Child’s Developing Mind, menegaskan bahwa setiap anak itu berbeda dan tidak ada pendekatan atau strategi pengasuhan yang akan berhasil setiap saat.

Tujuan paling jelas dalam semua pengasuhan adalah mendapatkan kerja sama dan membantu anak berperilaku dengan cara yang dapat diterima. Hal itu bisa dilakukan dengan cara menggunakan kata-kata yang baik dan menghindari perilaku yang tidak dapat diterima seperti memukul atau berkata kasar.

Lebih lanjut, March H. Bornstein (2002) dalam bukunya Handbook of Parenting: Children and Parenting, mengutarakan bahwa ketika orang tua dan anak-anak bersama, mereka akan menunjukkan kasih sayang yang kurang terbuka selama masa kanak-kanak daripada masa sebelumnya.

Anak-anak merasakan bahwa orang tua kurang menerima mereka, selama tahun akhir masa kanak-kanak. Bahkan penurunan kasih sayang yang terlihat ini sangat dirasakan ketika anak berusia antara 3 dan 12 tahun.

Sikap penuh kasih yang berkurang dari orang tua akan membuat anak merasa tidak lagi diterima oleh orang tua. Meski hal ini banyak didominasi oleh orang tua yang sudah memiliki kepercayaan positif untuk anak, namun anak tetap membutuhkan metode pengasuhan yang penuh kasih sebagai wujud keberadaannya diterima.

Begitu orang tua memahami dan menerima kenyataan mendasar ini, maka orang tua akan lebih mampu menanggapi dengan cara terbaik dalam menghormati anak dan hubungannya.

Orang tua bisa tetap menghormati bagaimanapun kondisi anak sambil tetap memperhatikan perilaku anak yang perlu ditangani.

BACA JUGA: Mengenal Perbedaan Konflik Orang Tua dan Konflik Anak

Menerima Anak Apapun Kondisinya

Orang tua yang mau menerima anak dengan apa adanya tanpa menuntut anak untuk menjadi ini dan itu akan jauh lebih baik untuk kondisi psikisnya.

Ketika orang tua merasa marah atau kecewa karena anaknya tak bisa menjadi yang mereka inginkan, maka anak akan merasa bahwa dirinya tidak diinginkan dan tidak berguna. Hal ini sangat salah kaprah dalam dunia pengasuhan.

Shefali Tsabary (2010) dalam bukunya The Conscious Parent, menjelaskan bahwa menerima anak-anak dalam keadaan apa adanya menuntut orang tua untuk menyerahkan gagasan tentang siapa mereka seharusnya.

Dengan begitu, orang tua dapat menanggapi dengan tepat saat anak membutuhkan peran orang tua. Orang tua harus dapat membantu anak memahami apa saja yang dapat diterima.

Ketika anak mulai berperilaku buruk, orang tua perlu memberi tahu kapan waktunya berhenti. Hal ini akan membuat anak mempelajari makna yang lebih dari aturan tentang yang baik dan buruk atau dapat diterima dan tidak dapat diterima.

Menerima anak-anak apa adanya akan membuat orang tua juga bisa menerima jenis orang tua yang dibutuhkan untuk anak tertentu.

Kemampuan orang tua untuk menerima anak secara langsung juga terkait dengan kemampuan untuk menerima dirinya sendiri. Bagaimana orang tua mampu menerima kondisinya tercermin pada bagaimana caranya menerima anak.

Hidup adalah sebuah proses yang terus berjalan dan tidak ada jalan hidup yang sama bagi setiap orang. Seorang anak yang nantinya menjadi orang dewasa tentu juga tidak sama dengan anak yang lainnya.

Dari pada menuntut anak untuk menjadi apa yang orang tua inginkan, potensi anak akan lebih berkembang jika apa yang dimilikinya dikembangkan dengan baik.

Entah anaknya adalah seorang yang ramah, pandai bernyanyi, sulit menghitung, tak bisa berlari, tempramental atau pembicara hebat, orang tua harus menerimanya dengan lapang.

Apapun kondisinya, menerima dengan penuh keikhlasan hati adalah cara pengasuhan yang terbaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *