Mimpi Besar Elon Musk: Inovasi Teknologi Tesla Bisa Mengubah Dunia

RUANGNEGERI.com – Sosok Elon Musk dianggap sebagai iron man sesungguhnya dalam dunia nyata. Miliarder satu ini telah mendirikan perusahaan Tesla, serta SpaceX yang baru-baru ini menjalani eksplorasi ke Mars.

Kedua perusahaan raksasa tersebut tetap memperhatikan pengaruh teknologi terhadap lingkungan. Sehingga dampaknya terhadap atmosfer bumi, perubahan iklim dan lingkungan manusia tetap diperhatikan.

Pembahasan kali ini akan menguak visi bisnisnya, yakni perusahaan kendaraan listrik yang mengubah masa depan umat manusia. Baik itu ditinjau dari sisi inovasi teknologi dan pertumbuhan saham perusahaan.

Baca juga:

Elon Musk: Teknologi Tesla Yang Mengubah Dunia

Melansir dari laman CNBC (03/07/2020), sejak duduk di bangku perguruan tinggi tahun 1992, ternyata Elon Musk memprediksi hal-hal yang mampu mengubah dunia. Beberapa hal yang diimpikannya tersebut antara lain;

Pertama, terciptanya energi berkelanjutan dinilai menciptakan teknologi energi lebih bersih. Energi berkelanjutan yang dimaksud bukanlah penambang gas alam, batu bara, dan minyak bumi.

Melainkan energi listrik yang dapat diperbarui dan tidak menimbulkan dampak buruk bagi umat manusia. Hal inilah yang melatarbelakangi berdirinya perusahaan kendaraan listrik Tesla.

Kedua, teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan mempermudah segala hal. Di mana teknologi ini merupakan gabungan dari kecerdasan digital dan kecerdasan manusia secara kolektif.

Musk pun melalui mesin Neuralink berhasil menciptakan antarmuka bandwith, gabungan antara AI dan otak manusia. AI tersebut akan disematkan dalam bentuk chip Nvidia yang menjadi andalan teknologinya.

Ketiga, internet. Era tahun 1990-an telah diprediksi akan “mengubah manusia secara fundamental”. Ia sangat meyakini bahwa dengan internet, perubahan luar biasa akan sangat nyata.

“Saya tidak akan menganggap ini sebagai sekedar pengetahuan, namun hal itu sangatlah nyata,” ujarnya.

Baca juga:

Teknologi Mobil Listrik Tesla

Saham Tesla (TSLA) menjadi wajah baru dalam dunia otomotif. Citra perusahaan dan inovasi kendaraan berhasil menyaingi Ford (NYSE: F) dan General Motors (NYSE: GM). Meskipun relatif baru, sahamnya kini tercatat  sebagau yang kedua terbesar di dunia, hanya di bawah Toyota.

Banyak orang menyamakan perkembangan Tesla seperti Apple karena mampu mengalahkan para pesaingnya. Bayangkan saja sudah menjadi rahasia umum jika perusahaan Ford memproduksi mobil paling berharga di AS selama dua dekade.

Terlepas dari dampak pandemi Covid-19 yang memperburuk perekonomian AS, Tesla mampu menaikkan laba hingga 38 persen dari hasil penjualan mobilnya.

Dilaporkan pula dalam Shanghai Gigafactory, Tesla memproduksi seperempat juta mobil khusus dipasarkan ke Tiongkok. Model terbaru diproduksi melalui pabriknya yang berada di Shanghai yakni SUV 3 dan Crossover SUV Y.

Sedangkan, untuk luar Tiongkok memfokuskan proyek produksi mobil di Berlin. Tujuannya untuk memenuhi potensi permintaan di Pasar Eropa. Perusahaan ini terus mengembangkan teknologi inovatif untuk meraup lebih banyak pelanggan.

Misalnya kemampuan baterai mobil listrik, desain eksterior dan interior, hingga teknologi chip AI. Mobil listrik merek ini juga menggunakan sistem AC hemat energi dan ramah lingkungan.

Selain itu, Tesla juga menggandeng perusahaan Panasonic sebagai mitra penyedia baterai. Tujuannya adalah dikhususkan untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan baterai di Nevada Gigafactory yang saat ini menyimpan energi 35 GWh.

Proyek baterai tersebut rencananya akan ditingkatkan menjadi 54 GWh untuk mendorong skala produksi kendaraan lebih besar. Namun, Tesla menunjukkan gelagat akan pecah kongsi dari Panasonic. Pasalnya, ekspansi pabriknya menuntut pengembangan baterai sendiri melalui proyek rahasia Roadrunner.

Sehingga, para pengguna mobil ini di masa depan dapat mengisi sendiri baterai mobil melalui panel surya. Setelah proyek baterai tersebut selesai dan berhasil, Tesla akan mengembangkan teknologi self-driving canggih.

Didukung dengan teknologi AI, mobil listrik akan mengemudi sendiri tanpa perlu dikendarai oleh manusia. Elon Musk bersama Tesla akan terus melakukan pembaruan perangkat keras dan perangkat lunaknya.

Secara keseluruhan, pertumbuhan teknologinya berpotensi mendatangkan keuntungan yang konsisten di masa depan.

Baca juga:

Kondisi Saham Tesla Meroket

Laman CNN.com (03/07/2020) menyebutkan bahwa apabila dibandingkan harga sahamnya selama 10 tahun lalu dengan hari ini sangat berbeda jauh. Popularitas mobil listrik  mengundang banyak investor, sehingga berdampak langsung pada kenaikan saham.

Berbeda dengan kondisi 10 tahun lalu, ketika penawaran umum perdana (IPO) sahamnya hanya dihargai AS $ 17. Sedangkan, harga perusahaan saat itu berhenti di angka 1,7 miliar.

Dalam satu dekade terakhir, sahamnya telah memperoleh investor 5.677 persen atau sekitar 45 persen per tahun. Penjualan mobilnya juga luar biasa, sepanjang tahun 2010 disinyalir nominal penjualannya mencapai 200 miliar Dollar atau setara dengan 3000 triliun Rupiah.

Sejak awal tahun 2020, mengalami kenaikan saham sekitar 130 persen. Awalnya, naik 0.1 persen menjadi $ 960,31 setelah lama tidak melakukan pembukaan penawaran.

Pada akhir tahun 2019, sahamnya melonjak 26 persen dalam waktu singkat. Kenaikannya terjadi dengan signifikan, melampaui $ 1.000, 1.100 dan 1.200 Dollar. Bahkan, nilai perusahaannya saat ini telah melebihi perusahaan blue chip S&P 500.

Wedbush Dan Ives, analis dari Wall Street memprediksi bahwa saham Tesla dapat terus melonjak hingga 66 persen lagi selama 12 bulan mendatang dan mencapai harga AS $ 2,000 per lembar saham.

Apabila saham perusahaan telah mencapai $ 2,000, maka dapat dipastikan bahwa nilai perusahaan akan naik menjadi $ 370 miliar. Jika dinilai dengan Rupiah, maka nilai total perusahaan tersebut diprediksi akan mencapai lebih dari Rp 5.000 triliun, dua kali lipat dari APBN Indonesia di tahun 2020.

Peningkatan inovasi teknologinya disebut-sebut membuat pengaruh besar terhadap pergerakan saham. Terutama tingginya permintaan atas SUV Y Model Tesla di pasar Tiongkok. Saham perusahaannya juga dinilai bergerak mendekati delapan perusahaan raksasa Amerika.

Seperti  Apple (AAPL), Microsoft (MSFT), Amazon (AMZN), pemilik Google Alphabet (GOOGL), Facebook (FB), Berkshire Hathaway (BRKB) Warren Buffett, Visa (V) dan Johnson & Johnson (JNJ).

Peningkatan saham ini terjadi antara lain adalah berkat penjualan mobil listrik Model S, Model X, SUV Y Model yang lebih terjangkau.

Rosalina Pertiwi Gultom

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *