Militer AS Kembangkan Kendaraan Perang Robotik Bertenaga Listrik

RUANGNEGERI.com – Angkatan Darat (AD) Amerika Serikat sedang mengembangkan teknologi mesin listrik yang nantinya akan digunakan pada kendaraan taktis dan kendaraan tempur.

Melansir dari laman Military.com (22/09/2020), izin pengembangan telah didapatkan dari Komando Pusat AD melalui Divisi Persyaratan Manuver Angkatan Darat.

Direktorat Pengembangan dan Integrasi Kemampuan Manuver di Fort Benning, Georgia yang akan mengembangkan alat tersebut. Elektrifikasi kendaraan taktis dan tempur diperlukan untuk mengurangi ketergantungan AD pada bahan bakar fosil.

Di dunia industri, elektrifikasi kendaraan telah mengalami kemajuan secara signifikan. Dengan demikian, pengembangan mesin listrik dibutuhkan agar dapat dimanfaatkan dengan maksimal.

Direktur Futures and Concept Center Angkatan Darat AS, Letjen Eric Wesley mengungkapkan keberhasilan dari mimpi besar pengembangan teknologi Tesla milik Elon Musk.

Para perancang dan ilmuwan di sana telah membuktikan bahwa teknologi motor listrik dapat dipakai untuk menjalankan kendaraan besar.

Selain bermitra dengan Tesla, korps militer tersebut juga bekerja sama dengan CALSTART. Sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada pengembangan efisiensi transportasi. Selain itu juga dengan Textron dan anak perusahaannya, Howe&Howe.

CALSTART sendiri telah berpengalaman dalam bekerja sama dengan pelaku bisnis dan pemerintah di negara bagian AS. Sedangkan Textron telah berhasil membangun sebuah kendaraan robotik elektrik.

Pada umumnya, mesin (baik kendaraan maupun jenis mesin lainnya) menggunakan bahan bakar fosil. Namun sejak beberapa tahun belakangan, tren penggunaan bahan bakar listrik terus meningkat.

Perlahan namun pasti, industri otomotif akan bergerak menuju elektrifikasi. Diikuti oleh pergeseran penggunaan oleh individu dalam masyarakat. Dengan begitu, harga suku cadang untuk mesin konvensional akan meningkat. Selain juga pasokannya akan berkurang.

Itu sebabnya, Angkatan Darat AS berusaha beralih kepada mesin listrik. Karena “teknologi yang tersedia sejalan dengan kemampuan yang kami kejar,” tutup Wesley.

BACA JUGA: Militer AS Siapkan Teknologi Drone Terbaru yang Serba Otomatis

Robot Tempur Bertenaga Listrik

Bicara tentang penggunaan mesin bertenaga listrik pada alutsista, M5 Ripsaw Robotic Combat Vehicle (RVC) atau kendaraan tempur bertenaga robot tercatat merupakan terobosan besar para ilmuwan AS dalam bidang militer.

Melansir dari National Defense Magazine (02/10/2020), tahap uji coba RVC dengan dimasukkan menjadi bagian dari alat berat dikabarkan berhasil. Meski tidak semuanya berjalan seperti yang direncanakan, namun fase uji coba diklaim telah mencapai kemajuan yang bagus.

Alutsista hasil kerja sama ilmuwan pada Laboratorim Angkatan Darat AS dan Textron System ini adalah jenis kendaraan perang medium robotik. Dioperasikan tanpa awak, M5 Ripsaw sudah mulai diteliti dan dikembangkan sejak awal tahun 2020 ini.

Empat unit prototype versi campuran diesel dan listriknya akan segera dikirimkan ke Angkatan Darat AS paling lambat akhir tahun ini. Sementara untuk versi listriknya dijadwalkan akan dikirim pada musim semi tahun 2021.

RCV ini adalah versi militer untuk jenis kendaraan tak berawak besutan Howe&Howe. Anak perusahaan Textron. Angkatan Darat memilih RCV versi ringan dan sedang dahulu. Sedangkan untuk kendaraan berat masih butuh penelitian lebih lanjut.

Versi ringan lainnya juga sedang dikembangkan peneliti AD bersama QinetiQ. Jika berhasil, RCV ini akan menggantikan personel tentara untuk bertempur melawan pasukan musuh.

M5 Ripsaw RCV buatan Textron memiliki bobot 10 ton. Bentuknya menyerupai tangki ringan dengan tenaga diesel dan motor listrik hybrid.

Untuk versi listrik-diesel akan dilengkapi dengan “dua motor listrik hybrid berkekuatan 900 tenaga kuda dan diesel range extender,” kata Michael Howe, Wakil Presiden Senior Howe&Howe.

Generator diesel range extender akan membuat RCV menjadi lebih bertenaga. Diklaim mampu menjelajah hingga 300 sampai 400 mil. Sementara versi listriknya tidak memakai generator ini.

Namun Howe menjamin keduanya memiliki tenaga yang persis sama. M5 Ripsaw RCV bisa dikatakan ujung tombak bagi pengembangan teknologi mesin listrik bagi modernisasi militer Angkatan Darat negeri Paman Sam.

BACA JUGA: 4 Kapal Perang Baru Rusia Sedang Disiapkan untuk Mengantisipasi NATO

Menurunkan Penggunaan Bahan Bakar Minyak

Jika dibandingkan, mesin listrik memiliki banyak kelebihan dari mesin konvensional. Mesin listrik suaranya lebih halus dan perawatannya lebih sederhana.

Selain itu, mesin listrik juga tidak memerlukan banyak suku cadang dan rangkaian yang rumit seperti mesin konvensional.

Kendaraan bertenaga listrik juga lebih jauh jangkauannya. Pengoperasiannya pun mudah serta lebih hemat biaya. Sumber daya listrik lebih murah dibandingkan bahan bakar fosil.

Hal itu tentu saja akan berpengaruh pada anggaran korps militer Angkatan Darat. Dimana nominal yang sama dapat memperoleh bahan bakar yang lebih banyak.

Tantangan terbesarnya adalah soal pengisian ulang daya baterainya. Terutama bagi alutsista yang digunakan dalam mode jarak jauh.

Namun, tantangan ini juga sedang dalam tahap pemecahan. Laboratorium Angkatan Darat AS bekerja sama dengan Universitas Illinois untuk pengembangan teknologi auto recharge. 

Dengan teknologi ini, alutsista elektrik akan mampu mengisi sendiri dayanya tanpa membutuhkan bantuan personel tentara.

Mungkin masih butuh beberapa tahun lagi sampai Angkatan Darat AS bisa menggunakan kendaraan berat bertenaga listrik.

Begitu juga militer negara-negara lain serta untuk tujuan sipil. Sejauh ini, kendaraan ringan dan peralatan yang lebih kecil sudah menggunakan teknologi ini.

Jika teknologi ini terus berkembang, maka tren kendaraan alat berat bertenaga listrik baik militer maupun sipil, akan dapat mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil dan minyak dunia secara signifikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *