Microsoft Akan Mengganti Jurnalisnya dengan AI

RUANGNEGERI.com – Sebuah perusahaan teknologi multinasional asal Amerika Serikat, Microsoft, akan menggantikan puluhan jurnalis di situs web Microsoft Network (MSN).

Teknologi mutakhir tersebut akan menggunakan sistem otomatis untuk memilih berita, laporan media AS dan juga Inggris. Algoritma berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dipilihnya untuk melakukan tugas editorial mereka.

Staf karyawan yang memelihara halaman beranda berita di situs web Microsoft MSN dan browser Edge-nya yang telah digunakan oleh jutaan orang Inggris di setiap harinya, telah diberitahu bahwa mereka tidak lagi diperlukan. Robot sekarang dapat melakukan pekerjaan yang biasa mereka kerjakan untuk memproduksi berita.

Menurut sebuah laporan Seattle Times (29/05/2020), sekitar 50 karyawan tidak tetap yang dikontrak melalui agen kepegawaian Aquent, IFG dan MAQ Consulting ini memiliki sisa batas kerja hingga 30 juni.

Tim produser jurnalis penuh waktu akan tetap dipekerjakan dan dipertahankan oleh perusahaan. Namun semua pekerjaan produser berita yang dikontrak telah dieliminasi.

Dalam sebuah penyataannya, pihak Microsoft mengatakan bahwa hal itu dilakukan sebagai bagian dari evaluasi bisnisnya.

“Seperti semua perusahaan, kami mengevaluasi bisnis kami secara teratur. Ini dapat menghasilkan peningkatan investasi di beberapa tempat dan dari waktu ke waktu, penempatan kembali di tempat lain. Keputusan ini bukan merupakan hasil dari pandemi saat ini” kata juru bicara Microsoft, dilansir dari halaman berita BBC (30/05/2020).

Seperti beberapa perusahaan teknologi lainnya, Microsoft membayar organisasi berita untuk menggunakan konten mereka di situs webnya. Tetapi tetap mempekerjakan jurnalis untuk memutuskan cerita mana yang akan ditampilkan dan bagaimana mereka disajikan.

BACA JUGA: Mungkinkah Bekerja Dari Rumah Menjadi Tren di Masa Depan?

Keluhan dari Mantan Karyawan

Beberapa karyawan berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bila MSN akan menggunakan AI untuk menggantikan pekerjaan produksi yang telah mereka lakukan. Pekerjaan itu termasuk menggunakan algoritma untuk mengidentifikasi tren berita dari puluhan mitra penerbitan.

Selain itu juga untuk membantu mengoptimalkan konten dengan menulis ulang tajuk utama maupun menambahkan foto yang lebih baik. Atau pun bisa juga berupa tayangan slide.

“Sudah semi otomatis selama beberapa bulan kebelakang, tetapi sekarang kecepatan penuh sudah di depan. Mendemoralisasikan (manusia) kalau berpikir mesin bisa menggantikan kita, tapi ya begitulah” kata salah satu kontraktor yang diberhentikan.

Melansir dari The Guardian (30/05/2020), diberitakan bahwa selain pekerjaan produksi, karyawan kontrak juga merencanakan konten, memelihara kalender editorial situs web berita mitra dan memberikan konten kepada mereka. Salah satu anggota staf yang bekerja di tim juga mengeluhkan hal yang sama.

“Saya menghabiskan seluruh waktu saya membaca tentang bagaimana otomatisasi dan AI akan mengambil semua pekerjaan kami. AI telah merampas pekerjaan saya” ujarnya.

Orang tersebut menambahkan bahwa keputusan untuk mengganti manusia dengan perangkat lunak terlalu berisiko. Karena staf yang ada berhati-hati untuk tetap berpegang pada pedoman editorial yang sangat ketat.

Yakni memastikan bahwa pengguna tidak disajikan dengan konten kekerasan atau tidak pantas ketika membuka browser mereka. Ini yang sangat penting bagi orang-orang yang mengunjungi situs web tersebut.

BACA JUGA: Moralitas Beberapa Miliarder AS Saat Pandemi Covid-19

Upaya MSN dalam Menyajikan Berita

Kekhawatiran akan sebuah kualitas berita yang ditampilkan memang menjadi hal perlu ditanggapi dengan serius. Terlebih ketika berita yang dipublikasikan justru dapat menggiring berita palsu dan menyesatkan.

Hal ini telah disiasati oleh Microsoft News. Mereka akan menggunakan AI untuk memindai konten, memahami dimensi seperti kesegaran, kategori, jenis topik, konten opini dan potensi popularitas.

“Kemudian menyajikannya untuk editor kami. Algoritma kami menyarankan foto yang sesuai untuk dipasangkan dengan konten untuk membantu menghidupkan cerita. Editor kemudian menyusun berita utama sepanjang hari di berbagai topik, sehingga pembaca kami mendapatkan berita terbaru dari sumber terbaik”.

Tim yang bekerja di situs Microsoft tidak melaporkan berita asli, tetapi masih melakukan kontrol editorial. Selain itu juga memilih cerita yang diproduksi oleh organisasi berita lain dan mengedit konten dan berita utama yang sesuai dengan format.

Artikel-artikel itu kemudian di-host di situs web Microsoft. Skema tersebut tetap membuat perusahaan teknologi, Microsoft harus berbagi pendapatan iklan dengan penerbit aslinya.

Kurasi manual dari berita juga memastikan bahwa tajuk berita jelas dan sesuai untuk formatnya. Sambil mendorong penyebaran opini politik dan menghindari berita yang tidak dapat dipercaya. Kemudian menyoroti artikel menarik dari outlet yang lebih kecil.

Dalam hal ini, Microsoft telah berupaya untuk menghapus penggunaan tenaga manusia yang biayanya masing-masing sekitar AS $ 40 per jam atau sekitar Rp 600,000. Beberapa pihak media mencurigai bahwa langkah itu didorong oleh tim Bing, yang saat ini memiliki Microsoft News.

Pertumbuhan MSN

MSN telah mengalami sejumlah perubahan sejak diluncurkan sebagai Microsoft Network pada tahun 1995. Setelah menjadi portal web dan situs internet default untuk jutaan komputer pribadi, MSN menawarkan konten asli dan tautan ke berita, cuaca dan olahraga.

MSN menelusuri akarnya kembali ke Windows 95. Microsoft bekerja dengan ribuan penerbit dan organisasi berita untuk memberi daya pada platform beritanya.

Pada 2013, Microsoft memutar kembali konten berita asli dan mulai memotong karyawan. Pada 2014, perusahaan itu meluncurkan versi yang dirancang ulang yang bermitra dengan situs berita lain dengan membayar mereka untuk mendistribusikan kembali konten mereka.

Saat ini telah memiliki hampir 500 juta pengguna bulanan di 140 negara di seluruh web, seluler dan email. Di mana layanan berita sepenuhnya bergantung pada kemitraan tersebut tanpa konten berita asli sendiri.

Beberapa perusahaan teknologi besar sedang bereksperimen dengan penggunaan AI dalam jurnalisme. Yakni dengan berinvestasi pendanaan Google dalam proyek-proyek untuk memahami penggunaannya. Meskipun upaya untuk otomatisasi penulisan artikel belum diadopsi secara luas.

Menggunakan robot untuk menentukan berita utama dan berita yang dilihat pembaca adalah topik perdebatan sengit. Perusahaan teknologi besar, seperti Facebook dan YouTube juga mengalami dilema serupa dengan harus berbagi keuntungan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *