Meski Terkoreksi, Pemulihan Ekonomi Jepang Lebih Baik Dari AS dan Tiongkok

RUANGNEGERI.com – Perekonomi Jepang jatuh ke dalam resesi untuk pertama kalinya sejak tahun 2015. Hal itu terjadi sebagai akibat dari wabah Covid-19 yang telah membuat kegiatan ekonominya banyak terhenti.

Angka yang dirilis oleh Kantor Kabinet pada Senin, 18 Mei 2020, menunjukkan pertumbuhan tahunan Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang menyusut hingga 3,4 persen dalam tiga bulan pertama di tahun 2020.

Pada kuartal keempat 2019, ekonomi Jepang menyusut 6,4 persen yang disebabkan oleh kenaikan pajak penjualan dan Topan Hagibis. Hal ini mendorong Jepang secara teknis telah mengalami resesi.

Covid-19 ini menimbulkan kekacauan ekonomi di berbagai dunia dengan angka kerugian secara global tidak kurang dari AS $ 8,8 triliun. Selain Jepang, sebelumnya Jerman dan Prancis juga telah mengumumkan bila negaranya mengalami resesi.

Ekonomi negara terbesar ketiga di dunia ini kemungkinan akan semakin memburuk pada periode April-Juni. Survei yang baru-baru ini dirilis oleh Pusat Penelitian Ekonomi Jepang memperkirakan bahwa tingkat tahunan pertumbuhan PDB riil akan menyusut 21,33 persen dari kuartal sebelumnya.

Sementara itu, Jepang kembali memperpanjang karantina wilayah hingga 31 Mei. Tetapi pemerintah Jepang pada hari Kamis lalu mengangkatnya di 39 dari 47 prefektur Jepang di tengah tren penurunan kasus baru.

Memiliki lebih dari 16.000 kasus Covid-19 dan 750 kematian, 39 prefektur tetap berlakukan karantina wilayah. Hal itu juga berlaku di beberapa kota besar seperti Tokyo Hokkaido, Kyoto, Osaka serta Hyogo, dimana hampir setengah dari populasi Jepang tinggal dan kekuatan ekonominya berada di sana.

Penduduk di 39 area juga telah diperintahkan untuk menahan diri dari melintasi perbatasan prefektur dan mengadakan pertemuan besar. Hal ini semakin membuat banyak bisnis merasa kesulitan untuk menormalkan operasi mereka.

“Ketidakpastian yang berasal dari penyebaran virus juga telah memukul investasi modal swasta karena perusahaan membatasi program pengeluaran mereka,” kata Naoya Oshikubo, ekonom senior di SuMi TRUST, sebagaimana dilansir di laman CNA (18/05/2020).

Dalam upaya untuk mengurangi dampak terburuk dari krisis, Perdana Menteri, Shinzo Abe berjanji untuk memberikan setiap warga negara selebaran uang tunai ¥ 100.000 atau setara Rp 13,8 juta.

Abe juga mengumumkan paket stimulus 1 triliun Dollar. Bank Sentral Jepan, yakni Bank of Japan memperluas langkah-langkah stimulusnya untuk meredam pukulan ekonomi pandemi tersebut.

Menteri Revitalisasi Ekonomi Jepang, Nishimura Yasutoshi, juga telah memperkirakan penyusutan ekonomi setelah memperpanjang masa karantina wilayah. Untuk itu, ia akan mengambil kebijakan dengan menambah anggaran tambahan kedua di tahun ini.

Nishimura mengatakan ia ingin membuat kerangka kerja yang akan melindungi bisnis, pekerjaan dan mata pencaharian masyarakat demi menyelamatkan ekonomi Jepang, apa pun yang terjadi.

Baca juga: Sikap “Berlebihan” Vietnam Mengatasi Covid-19

Data Resesi Ekonomi Jepang Tahun 2005-2020

Ekonomi Jepang Masih Lebih Baik Meski Menyusut Drastis

Kendatipun mengalami penurunan, perekonomian negeri Matahari Terbit tersebut masih tercatat lebih baik dibandingakan Amerika Serikat dan Tiongkok khususnya.

Industri mobil, mesin utama ekonomi Jepang, telah menderita dari penurunan tajam dalam ekspor. Banyak merek otomototif besar seperti Toyota dan Honda, mengalami penurunan penjualan di seluruh dunia.

Pada bulan Maret, ekspor mobil nasional turun 13,1 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dan komponen mobil turun 17,9 persen. Melansir data dari SMBC Nikko Secruities Inc, gabungan laba bersih perusahaan yang terdaftar di Bagian Pertama Bursa Efek Tokyo tenggelam hingga nyaris 70 persen % dibandingkan dengan tahun sebelumnya selama periode Januari-Maret.

Tingkat pengangguran masih relatif rendah di Jepang, sebesar 2,5 persen di bulan Maret. Tapi itu bisa jauh lebih tinggi karena ekonomi yang memburuk kemungkinan akan semakin mengurangi belanja konsumen.

Takahide Kiuchi, ekonom eksekutif di Nomura Research Institute, memperingatkan bahwa tingkat kemungkinan akan naik menjadi hampir 7 persen dalam kasus terburuk, lebih parah daripada setelah krisis keuangan global.

Pariwisata, yang telah lama menjadi pendorong perekonomian Jepang, juga sangat terpukul karena pandemi membuat pengunjung asing tidak datang. Kunjugan wisatawan turun sebanyak 90 persen. Covid-19 juga memaksa penundaan Olimpiade Tokyo 2020.

Baca juga: Uni Eropa Siap Menyambut Wisatawan di Musim Panas

Meskipun demikian, bila dibandingkan dengan negara-negara maju lain, ekonomi Jepang nampak lebih baik. Melansir dari laman BBC.com (18/05/2020), para ekonom memprediksi ekonomi Jepang akan menyusut pada laju tahunan 22 persen pada periode April-Juni. Namun kontraksi AS justru diperkirakan akan lebih dari 25 persen.

Tingkat penurunan tahunan 3,4 persen pada kuartal pertama 2020 juga lebih rendah dibandingkan dengan AS yang mengalami tingkat penurunan tahunan 4,8% pada periode yang sama. Hal ini merupakan penurunan paling tajam untuk ekonomi Amerika, sejak depresi hebat pada tahun 1930-an.

Tiongkok, ekonomi terbesar kedua di dunia, mengalami pertumbuhan ekonomi menyusut sebesar 6,8% dalam tiga bulan pertama tahun 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ini adalah kontraksi kuartalan pertama sejak negeri Tirai Bambu melakukan pencatatan resmi atas kegiatan ekonominya.

Meskipun belum bisa dipastikan angkanya, baik AS maupun Tiongkok, dikonfirmasi secara teknis telah mengalami resesi ekonomi. Hal itu nampak pada pertumbuhan ekonominya yang masih negatif dalam dua kuartal secara berturut-turut.

Para ekonom memperkirakan kedua negara adidaya tersebut bakal mengumumkan keadaan resesi yang sebenarnya dalam beberapa bulan mendatang.

Firdhausy Amelia

Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *