Mengenal Tradisi Barzanji pada Masyarakat Bugis

RUANGNEGERI.com – Agama yang merupakan aspek penting dalam kehidupan masyarakat, telah menjadi kebudayaan dan tidak bisa dipisahkan begitu saja.

Aspek religiusitas pada pola keberagaman setiap pemeluk agama akan menimbulkan respon untuk melakukan ajaran itu. Bagi pemeluknya, menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari menjadi sesuatu yang sakral.

Pada masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan banyak terdapat upacara ritual yang digunakan untuk mengekspresikan spiritualisme ke dalam berbagai bentuk modus dan tindakan. Satu di antaranya adalah upacara pembacaan Barazanji yang diselenggarakan secara berulang-ulang sesuai dengan keperluan-keperluan upacara.

Tradisi ini masih banyak ditemukan dalam berbagai acara seperti upacara aqiqah, perkawinan, sunatan, selamatan dan lain-lain. Kegiatan ini sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam. Penamaan tradisi barasanji diambil dari kitab epos Barazanji, kitab tentang kepahlawanan dan kemuliaan Muhammad sebagai Rasul.

Kitab ini ditulis oleh Ja’far bin Abd. Karim bin Abdul Rasul Al-Barazanji Al-Madani yang berisi sejarah sosial kehidupan sang Rasul.

Masuknya ajaran Islam ke Sulawesi Selatan, serta dipilihnya pembacaan kitab Barazanji sebagai salah satu tradisi menunjukkan bahwa pengaruh dari datangnya Islam sangat kuat hingga mampu menjadi ruh pada tradisi masyarakat setempat.

Dipilihnya pembacaan kitab Barazanji sebagai satu ‘modus.’ Hal itu mungkin dimaksudkan sebagai satu cara paling efektif dalam menelusuri sejarah sosial kehidupan sang Rasul.

Mungkin juga dimaksudkan sebagai metode yang tepat untuk dapat diterima dalam memindahkan norma dan nilai Islam ke masyarakat setempat, melalui pemindahan ingatan dan kenangan tentang rasul.

Secara spiritual, tradisi pembacaan barazanji berfungsi sebagai media pemindahan dan penyebaran nilai-nilai agamis antara generasi sekarang dan generasi yang lebih dahulu. Yakni sebagai bentuk kontemplasi terhadap makna kehadiran seorang Nabi/Rasul atas kemaslahatan umat manusia.

BACA JUGA: Grebeg Maulud: Menjaga Tradisi dalam Perayaan Maulid Nabi

Sejarah Barzanji

Munculnya pembacaan barzanji menjadi suatu tradisi belum dapat ditelusuri berdasarkan penanggalan secara pasti. Acuan yang berbentuk bukti tulisan yang dapat menguraikan secara rinci tentang kapan pembacaan barazanji diselenggarakan sebagai tradisi belum dapat ditentukan.

Diskusi dan pembicaraan ilmiah tentang hal ini hanya sampai pada perkiraan saja. Demikian juga pembicaraan ilmiah tentang pengarang kitab barazanji, Ja’far bin Husain bin Abdul Karim bin Muhammad bin Abdul Rasul Al-Barazanji Al-Madani belum banyak ditemukan secara rinci.

Itu pula sebabnya, dapat dimengerti mengapa banyak pihak mendapat kesulitan menemukan acuan atau referensi yang komprehensif seperti itu.

Tradisi barzanji dipekirakan muncul pada tradisi peringatan Maulid, tepatnya pada waktu Perang Salib sedang berkecamuk, yakni sekitar abad ke-6 Hijriah atau pada abad ke-13 Masehi.

Barzanji diperlakukan sebagai bentuk seni sastra dan diperlombakan pada peringatan Maulid. Pembacaan barzanji, pada waktu itu, dimaksudkan sebagai upaya menghidupkan dan memelihara syariat Islam serta semangat juang di kalangan Muslim.

Kyai Haji Farid Wajdi dalam Aminuddin (1998:2), menyebutkan bahwa barzanji adalah sejarah sosial dari kehidupan Rasulullah. Kyai Haji Farid Wajdi menambahkan bahwa sesungguhnya barzanji bukanlah kitab tertua. Kitab tentang kehidupan sosial Rasul justru ditulis oleh Muhammad bin Ishak dan Al-Hafidh Ibn Dahiyah.

Sayangnya, buku yang ditulis oleh kedua orang ini belum banyak dijumpai di Indonesia. Kitab tentang sejarah sosial kehidupan Rasul yang sampai di Indonesia adalah kitab yang ditulis oleh Maulid Syaraful Anaam, Maulid Ad-Dibai dan Ja’far Al-Barazanji.

Berbeda dengan Kyai Haji Farid Wajdi, Al-Allamah dalam Wahida (1999:5), ia menafsirkan bahwa barzanji bukanlah judul atau nama sebuah kitab. Barzanji tidak lain adalah nama dari satu suku, sebagaimana al-Makassar, al-Bugis, atau al-Mandar yang berdiam di Sulawesi Selatan.

Penafsiran bahwa barzanji adalah nama satu suku didasarkan pada kenyataan bahwa barzanji tidak lain adalah nama satu kampung di Iraq.

Alasan mengapa barzanji menjadi nama satu kampung dapat menjelma menjadi nama satu kitab terletak pada kedua nenek Ja’far, yaitu Sayyid Isa dan Sayyid Musa. Kedua Sayyid ini, dengan penjelasan yang kurang memadai, dianggap pernah melarikan diri dari Iraq karena diusir oleh khalifah Abbasiah yang memegang kekuasaan pada saat itu.

Dalam pelarian, kedua Sayyid ini singgah di satu kampung barazanji dan menghabiskan malam di tempat ini. Pada malam-malam pertama, Sayyid Isa bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW dan memerintahkan agar keduanya tetap saja tinggal di tempat ini.

Melalui mimpi, keduanya juga diperintahkan oleh Nabi untuk membangun masjid, sembari Nabi membuat lingkaran. Di dalam lingkaran itu diperintahkan digali karena di bawahnya terdapat air. Sejak itu, kedua Sayyid ini berdiam di tempat ini. Di tempat yang sama, banyak keturunan kedua Sayyid ini menjadi ulama yangbergelar Al-Barazanji.

Ada versi lain tentang asal mula barzanji. Mengutip dari inibaru.id, disebutkan bahwa barzanji ialah suatu doa-doa, puji-pujian dan penceritaan riwayat Nabi Muhammad saw yang dilafalkan dengan suatu irama atau nada yang biasa dilantunkan ketika kelahiran, khitanan, pernikahan dan Maulid Nabi Muhammad saw.

Isi Berzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, yang disebutkan berturut-turut yaitu silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi Nabi/Rasul. Di dalamnya juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad saw, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.

Nama Berzanji diambil dari nama pengarangnya, yaitu Syekh Ja’far al-Barzanji bin Hasan bin Abdul Karim. Ia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj.

Karya tersebut sebenarnya berjudul ‘Iqd al-Jawahir (Bahasa Arab, artinya Kalung Permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, meskipun kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

BACA JUGA: Menyambut Ramadhan dengan Tradisi Meugang di Aceh

Aspek Sosiologis dan Spiritual

Berdasarkan keterangan dari KH. Abd. Latif Amien (Ketua MUI Kab. Bone) yang dikutip dari tulisan Anna Rahma Syam, dkk (2016) melalui tulisan berjudul Tradisi Barzanji dalam Persepsi Masyarakat Kabupaten Bone, menyatakan bahwa masyarakat melaksanakan Barzanji merupakan wujud kecintaan kita kepada Nabi Muhammad saw.

Perumpamaanya seperti ini, jika seseorang menyukai atau mencintai sesuatu tentu dia akan selalu mengingat, menyebutnya dan meneceritakannya kepada orang lain. Seperti halnya dengan Barzanji yang di dalamnya mengandung banyak shalawat ketika dibaca.

Hal itu tentulah menunjukkan kecintaan kita kepada Nabi. Satu kali saja kita bershalawat kepada Nabi, maka akan mendapatkan 10 kali pahala. Oleh karena itu, membaca Barzanji berarti telah menunjukkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw.

Selain itu, tujuan orang-orang turut melaksanakan Barzanji adalah untuk memperoleh keberkahan, agar hajat masyarakat diberkahi oleh Allah swt, dilancarakan dan diberi keselamatan dalam setiap proses hajatnya maupun setelahnya. Dengan begitu, maka membaca Barzanji berarti kita juga telah menunjukkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw.

Pada akhirnya, pembacaan Barzanji tidak hanya berperan sebagai bagian dari rangkaian upacara dalam berbagai acara. Namun juga berperan sebagai upaya mengajarkan masyarakat tentang sifat dan karakter dari Nabi. Tema barzanji Bugis yang dibacakan ada yang menjelaskan sifat Nabi dari segi moralitas, dan berbicara mengenai sifat kenabian.

Upacara pembacaan barazanji memiliki arti penting bagi pemeliharaan siklus kehidupan sosial budaya masyarakat setempat. Secara sosiologis, tradisi ini berfungsi sebagain perekat antar keluarga dan antar anggota masyarakat. Tradisi ini juga merupakan kesempatan atau merupakan tempat dimana para warga dapat bersilaturahmi kembali.

Secara spiritual, tradisi pembacaan barazanji berfungsi sebagai media pemindahan dan penyebaran nilai-nilai spiritualitas antara generasi sekarang dan generasi yang lebih dahulu.

Tradisi seperti ini secara alamiah memberi kesempatan bagi anggota keluarga dan anggota masyarakat. Hal itu dilakukan secara turun-temurun serta berulang-ulang dengan tujuan untuk melakukan kontemplasi terhadap makna kehadiran seorang rasul atas kemaslahatan umat manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *