Mengenal Molonthalo, Tradisi Kehamilan di Gorontalo

RUANGNEGERI.com – Kehadiran Islam di dalam suatu kelompok masyarakat tidak lantas menghilangkan suatu kebiasaan atau tradisi yang sudah terbentuk. Ritual-ritual yang sudah lama ada tetap banyak yang dilanjutkan, hanya isinya diubah dengan unsur-unsur dari ajaran Islam.

Banyaknya tradisi adat istiadat yang berkembang di suatu masyarakat merupakan warisan dari nenek moyang. Di antara tradisi-tradisi atau adat istiadat tersebut telah ada sebelum agama Islam masuk ke Indonesia, yang pada akhirnya setelah Islam masuk menambahkan corak tersendiri bagi budaya Islam.

Masyarakat Islam yang sebelumnya menganut tradisi dan adat istiadat tersebut, tidak serta merta dapat meninggalkan tradisi mereka terutama dalam hal kepercayaan terhadap nenek moyang mereka.

Ketika seorang bayi lahir misalnya, orang tuanya disyariatkan untuk melaksanakan aqiqah. Yaitu dengan cara menyembelih seekor kambing jika yang dilahirkannya seorang perempuan, dan dua ekor kambing jika yang dilahirkan laki-Iaki.

Di Gorontalo secara umum, banyak ditemukan jenis upacara adat warisan nenek moyang Gorontalo yang dipertahankan meskipun tidak dipungkiri telah banyak juga yang punah.

Terkait dengan kehamilah, upacara ritual Molonthalo telah dilakukan sejak zaman dahulu pada setiap istri yang hamil tujuh bulan anak pertama. Tradisi adat itu adalah upacara seputar kelahiran dan keremajaan, yang telah baku pada masyarakat Gorontalo.

BACA JUGA: Mengenal Tradisi Barzanji pada Masyarakat Bugis

Apa itu Molonthalo?

Melansir dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Molonthalo merupakan upacara adat selamatan yang menandai tujuh bulan usia kehamilan. Orang Jawa menyebutnya dengan istilah upacara Nujuh Bulanan, dalam dialek Melayu Manado disebut dengan Upacara Raba Puru (usap perut).

Upacara adat Molonthalo dilaksanakan bukan saja hanya sebagai sebuah tradisi yang telah baku dan harus dilestarikan. Namun lebih dari itu, yakni diyakini sebagai sebuah upacara yang sakral atas dasar wujud pencarian keberkahan akan hadirnya anggota keluarga baru.

Acara ini merupakan pernyataan dari keluarga pihak suami bahwa kehamilan pertama adalah harapan yang terpenuhi akan kelanjutan turunan dari perkawinan yang sah.

Selain itu juga merupakan maklumat kepada pihak keluarga kedua belah pihak, bahwa sang istri benar-benar suci dan sekaligus menjadi motivasi/nasihat bagi gadis-gadis lainnya untuk menjaga diri dan kehormatannya.

Tradisi kehamilan ini merupakan ritual adat yang diberlakukan bagi seorang perempuan hamil dalam usia kandungannya yang beranjak 7 hingga 8 bulan.

Sebagaimana lazimnya sebuah tradisi yang merupakan bagian dari sistem kebudayaan, maka ritual tradisi ini juga mengandung unsur dan nilai filosofis kearifan lokal.

Maknanya adalah berkaitan dengan keinginan agar terwujudnya keselamatan yang tidak hanya diperuntukkan bagi sang ibu, tetapi juga bagi sang bayi serta suami dari ibu yang mengandung.

BACA JUGA: Tradisi Unik Suku Sasak di Lombok, ‘Menculik’ Gadis yang Hendak Dinikahi

Prosesi Tradisi Molonthalo

Persoalan kehamilan adalah persoalan hidup dan mati, sehingga berbagai macam cara yang dilakukan oleh masyarakat untuk meringankan dan memudahkan pada saat persalinan.

Khususnya di daerah Gorontalo, pada umur kehamilan 7-8 bulan diadakan upacara Molonthalo sebagai doa selamat agar dalam persalinan nanti dimudahkan oleh Allah swt.

Mustakimah (2014) melalui tulisan berjudul Akulturasi Islam dengan Budaya Lokal dalam Tradisi Molonthalo di Gorontalo, menjelaskan prosesi dari Tradisi Molonthalo di Gorontalo sebagai berikut:

1. Pelaksana

Upacara dilakukan oleh kerabat pihak suami dengan bidan. Hulango atau bidan kampung harus memenuhi beberapa persyaratan: (1) beragama Islam; (2) mengetahui seluk beluk usia kandungan; (3) mengetahui urutan upacara adat molonthalo; (4) mengetahui lafal-lafal yang telah diturunkan oleh leluhur dalam pelaksanaan acara tersebut, dan; (5) diakui oleh kelompok masyarakat sebagai bidan kampung.

Selain itu juga disertai oleh imam atau hatibi. Yaitu orang yang ditokohkan sebagai pelaksana keagamaan yang mampu dan mahir lafal doa salawat (mo’odelo).

Kemudian diikuti oleh dua orang anak perempuan usia 7-9 tahun yang lengkap dengan orang tuanya (payu lo liinutii). Selain itu juga disertai dua orang ibu.

2. Persiapan

Hulante yang berbentuk seperangkat bahan di atas baki, terdiri dari beras dua cupak atau tiga liter. Di atasnya terletak tujuh buah pala, tujuh buah cengkeh, tujuh buah telur, tujuh buah limututu (lemon sowanggi), tujuh buah mata uang yang bemilai Rp. 100.-

3. Pelaksanaan

Molone’o adalah mengetahui keadaan perut sapi ibu yang hamil tentang usia bayinya, yang dihitung dari berhentinya haid (tiloyonga) atau sampai pada satu bulan.

Caranya adalah dengan mengurut perut sang ibu dengan jari tengah pada kedua tangan terbuka. Peristiwa ini ditandai dengan mongadi mtlawati. Pelaksanannya adalah pada hari Jumat, yang disahkan oleh hatibi atau yang ditokohkan.

Modu’oto adalah mengetahui umur bayi, yang dihitung dari saat molonc’o, yaitu berusia tiga bulan. Caranya adalah dengan mengurut perut sang ibu dengan tapak tangan pada sisi-sisi perut.

Peristiwa ini ditandai dengan mongadi anlnwati, pada hari Jumat pagi sebelum embun menguap, dengan pertimbangan pada saat itu perut sang ibu masih lembut untuk diurut, agar jabang bayi tetap pada posisi yang sebenarnya.

Pertama-tama, Hulango menyiapkan bahan-bahan atau atribut adat sebagaimana yang telah diuraikan pada persiapan. Kemudian memberikan tanda (bontho) dengan alawahu tilihi pada dahi, leher, bagian bawah tenggorokan, bahu, lekukan tangan dan bagian atas telapak kaki, bawah lutut.

Hal itu bermakna bahwa sang ibu akan meninggalkan sifat-sifai inazmumnh (tercela) dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya nanti. Tanda di dahi adalah sebagai pernyataan untuk tidak menyembah selain Allah swt.

Adapun tanda di leher merupakan pernyataan untuk tidak memakan makanan yang haram. Tanda di bahu, lekukan tangan, bagian kaki, bagian bawah lutut sebagai pernyataan diri untuk bertanggungjawab atas amanat Allah swt.

BACA JUGA: Menelisik Berbagai Tradisi Pingitan di Indonesia

Makna dalam Tradisi Molonthalo

Tradisi Molonthalo merupakan adat atau kebiasaan yang sering dilakukan oleh masyarakat Gorontalo. Dalam pelaksanaannya, masyarakat Gorontalo menggunakan simbol-simbol kebudayaan yang memiliki makna dan arti yang diyakini oleh masyarakatnya.

Dalam prosesi pelaksanaan adat Molondhalo ini sebenarnya terkandung makna kebersamaan yang sangatlah besar. Prosesi adat molonthalo yang sering kita saksikan ini merupakan wujud sebuah persatuan dalam kebersamaan antara pihak perempuan dan pihak laki-laki.

Yakni dalam proses pernikahan, kedua keluarga akan lebih dipersatukan dengan adanya kerja sama didalamnya, terutama dalam hal prosesinya dan persiapannya.

Lebih dari itu, bukan hanya kedua keluarga saja yang akan dipersatukan dalam prosesinya tetapi juga masyarakat lingkungan sekitar. Hal ini terlihat dalam pelaksanaannya tetangga sekitaran rumah juga ikut andil dalam pelaksanaan ini, saling membantu dalam persiapannya, ikut bahagia dan juga ikut mendoakan.

Lalu, ada makna keselamatan dalam pelaksanaan adat ini dikaitakan dengan keselamatan sang jabang bayi dan ibunya yang harus dijaga keselamatannya. Sebab pada dasarnya, kehamilan pertama dalam rumah tangga itu memang sangatlah rawan dengan kejadian-kejadian yang tidak diinginkan untuk bayinya terutama dalam gangguan setan.

Kemudian untuk ibunya pun hal yang sama diinginkan untuk keselamatannya. Kehamilan pertama itu semua belum pernah merasakan. Semuanya masih merupakan hal yang baru terjadi dari sejak ngidam, masa-masa kehamilan, hingga pada masa kelahiran. Oleh karenanya, permohonan keselamatan ini penting untuk dilaksanakan.

Dalam prosesi pelaksanaan dan sakralnya tradisi adat Molonthalo ini terlihat makna yang terkandung dalam pelaksanaan prosesinya. Kalau diperhatikan dengan saksama dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mungkin manfaatnya sangatlah besar.

Namun dalam prakteknya, kini hanya sebagian kecil masyarakat saja yang paham dan mengikuti prosesi ini dengan baik serta menerapkannya dalam kehidupan.

Padahal, adat itu merupakan sesuatu hukum yang tidak tersurat tetapi tersirat dan wajib untuk diterapkan bagi masyarakat yang mempercayainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *