Menelisik Berbagai Tradisi Pingitan di Indonesia

RUANGNEGERI.com – Indonesia adalah negara yang kaya. Negeri dan tanah air kita ini diberkahi dengan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa mempesona. Maka, tak heran jika Yok Koeswoyo menyebutkan dalam lagunya yang berjudul Kolam Susu, “orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

Tak hanya kekayaan alam, Indonesia juga diberkahi dengan kekayaan dan keanekaragaman budaya yang tersebar di seluruh Nusantara, dari Sabang hingga Merauke.

Indonesia memiliki ribuan suku bangsa, ratusan bahasa dan puluhan kepercayaan yang melahirkan ratusan ribu tradisi adat dan budaya.

Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kemendikbud mencatat bahwa Indonesia memiliki 1331 kelompok suku bangsa dan 652 bahasa daerah yang berbeda-beda.

Sebagai implikasi dari keragaman suku bangsanya, negeri kita ini memiliki ragam tradisi adat dan budaya. Uniknya, ragam tradisi yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara ini, tak jarang memiliki kesamaan substansi atau makna yang terkandung di dalamnya.

Meskipun tempat di mana tradisi tertentu lahir dan berkembang saling berjauhan, tetapi mereka memiliki kesamaan dalam hal substansi. Unik bukan?

Padahal, sering kali tak ada interaksi antara kedua atau lebih suku bangsa yang memiliki kesamaan tradisi, jarak lokasinya juga tak dekat, tetapi isi tradisinya bisa sama.

Tradisi apa contohnya? Banyak. Salah satunya adalah tradisi pingitan sebelum melakukan serangkaian prosesi adat dalam pernikahan.

Kamu pastilah tak asing dengan istilah pingitan bukan? Secara sederhana, pingitan dapat dimaknai sebagai tradisi saling mengasingkan diri antara calon pengantin perempuan dan laki-laki sebelum melangsungkan prosesi pernikahan.

Meskipun saling mengasingkan diri, tetapi biasanya yang menjalani berbagai prosesi dalam pingitan adalah perempuan. Calon pengantin laki-laki hanya tidak diperbolehkan bertemu dengan calon pengantin perempuan.

Apabila kamu familiar dengan tradisi pingitan dari Suku Jawa, ternyata suku lainnya juga memiliki tradisi yang serupa lho! Mari kita ulas satu per satu tradisinya ya.

Dipingit, Tradisi Pingitan dari Suku Jawa

Seperti yang kita ketahui, tradisi pingitan yang paling populer sejauh ini adalah dari Adat Jawa. Meskipun, seiring dengan berkembangnya zaman, tradisi ini sudah mengalami banyak perubahan.

Bahkan, tak jarang keluarga-keluarga Jawa sendiri tidak lagi melakukan tradisi ini dalam pernikahan-pernikahan yang mereka gelar.

Namun, ada baiknya kita mempelajari atau setidaknya mengetahui tradisi pingitan dari Suku Jawa ini. Pada masa lalu, ketika perempuan-perempuan harus menjalani tradisi ini sebelum pernikahan mereka, masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi kehormatan seorang perempuan.

Bagi keluarga-keluarga Jawa pada saat itu, khususnya keluarga priyayi dan bangsawan Jawa, perempuan merupakan simbol kehormatan keluarga. Dan, pandangan ini masih tetap dipercaya oleh sebagian besar keluarga Jawa hingga saat ini.

Sebelum mengalami perubahan akibat perkembangan zaman, dalam pernikahan adat Jawa, pingitan merupakan syarat mutlak dilangsungkannya sebuah pernikahan.

Ketika dipingit, calon mempelai perempuan tidak boleh keluar rumah. Apalagi menemui calon mempelai laki-laki, haram hukumnya ketika sedang dipingit.

Berapa lama masa pingitan ini dilakukan?

Dalam tradisi dan adat masyarakat Jawa, masa pingitan ini dilakukan satu hingga dua bulan sebelum melangsungkan pernikahan.

Secara sederhana, gambaran mengenai pingitan dapat kita temukan mirip dengan karantina mandiri ketika situasi pandemi Covid-19.

Hanya saja, bedanya adalah, pada masa pingitan, calon mempelai perempuan juga menjalani serangkaian pelatihan terkait pekerjaan rumah tangga. Selama masa pingitan, calon pengantin perempuan juga perlu belajar untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang ideal.

Selain itu, dalam masa pingitan perempuan juga menjalani perawatan mulai ujung rambut hingga ujung kaki agar ketika hari pernikahan tiba, aura kecantikannya lebih menonjol. Para calon pengantin perempuan ini diluluri dengan rempah-rempah.

Selain perawatan tubuh dari luar, biasanya para perempuan ini juga dianjurkan untuk berpuasa. Tujuannya tidak lain adalah mendoakan keselamatan dan kebahagiaan kedua mempelai.

Karia, Tradisi Pingitan dari Suku Muna  

Dalam bahasa Muna, Karia berarti pingitan. Kariya berasal dari kata “kari” yang berarti pembersihan. Tradisi pingitan dari Suku Muna di Sulawesi Tenggara ini tidak hanya dilakukan oleh gadis-gadis yang akan menikah, tetapi juga dilakukan oleh gadis-gadis yang beranjak dewasa.

Tidak seperti tradisi pingitan dari adat Jawa yang dilakukan cukup lama yaitu satu hingga dua bulan, Karia hanya dilakukan dalam dua hari dua malam.

Uniknya, para gadis yang menjalani tradisi kriya ini akan dimasukkan ke dalam sebuah ruangan yang gelap gulita, tanpa penerangan sedikit pun. Juga, tanpa bantal, guling maupun selimut.

Di tengah suasana gelap gulita di ruangan itu, gadis-gadis yang menjalani Karia akan mendapatkan berbagai petuah na nasihat berkaitan dengan peralihan dari masa remaja menuju dewasa.

Juga, bagi gadis-gadis yang hendak menikah, petuah-petuah yang diberikan akan berkaitan dengan pembinaan rumah tangga.

Berbagai dengan tradisi pingitan lainnya, Karia tidak hanya dilakukan seorang diri. Melainkan, boleh dilakukan secara bersama-sama antara gadis yang beranjak dewasa dan yang akan melangsungkan pernikahan.

Tak jarang, ada 5 hingga 6 gadis dalam sekali prosesi Karia. Biasanya, para gadis yang telah dianggap menuju dewasa akan diikutsertakan untuk melakukan prosesi upacara bersama kakak mereka yang akan menikah.

Ika Pratiwi & Pendais Hak (2017) dalam tulisan berjudul Tradisi Karia Pada Masyarakat Muna di Kecamatan Wakorumba Selatan Kabupaten Muna, menganalisis aspek edukasi dari tradisi Karia.

Mereka menyimpulkan bahwa nilai-nilai kultural yang ditonjolkan dalam tradisi tersebut antara lain adalah kedisiplinan, kebersihan (kesucian), kerukunan keluarga serta kepedulian sosial.

Piare, Tradisi Pingitan dari Suku Betawi

Tak hanya Suku Jawa dan Muna, Betawi juga memiliki serangkaian tradisi menjelang pernikahan. Termasuk tradisi pingitan, yang bernama Piare.

Seperti apa tradisi Piare ini dilakukan? Dan apa perbedaannya dengan tradisi pingitan dari adat Jawa dan Muna sebelumnya? Mari kita ulas bersama-sama.

Dalam budaya Betawi, untuk menjadi ratu sehari, seorang calon pengantin perempuan harus melewati prosesi dipiare.

Piare dilakukan sebagai persiapan menuju pernikahan yang berupa serangkaian perawatan kecantikan yang dilakukan dalam kurun waktu sebulan penuh bahkan lebih.

Hal itu harus dilakukan oleh pendampingan dari Tukang Piare. Biasanya Tukang Piare merupakan perempuan sepuh yang dianggap memahami adat Betawi dan telah terbiasa membimbing pengantin melakukan prosesi Piare.

Dalam adat pernikahan Betawi, Tukang Piare berbeda dengan penata rias. Istilah penata rias biasanya mengacu pada penata rias pada hari pernikahan. Sedangkan Tukang Piare khusus untuk mengurus prosesi Piare hingga selesai.

Beragam perlengkapan perlu disediakan sebelumnya. Yakni kembang 7 rupii (setaman), Paso tanah, Gayung batok, Pedupaan dengan setanggi/gahru. Semua itu nantinya bakal diletakkan di pelaminan.

Sehari menjelang pernikahan, akan ada semacam upacara kecil yang menandai serah terima tanggung jawab dari Tukang Piare kepada tukang atau penata rias.

Piare berisikan serangkaian perawatan bagi calon pengantin perempuan. Mulai perawatan kecantikan dari luar menggunakan lulur hingga perawatan dari dalam menggunakan jejamuan godokan. Selain itu juga ada pantangan mengonsumsi makanan tertentu.

Setiap harinya selama dipiare, calon pengantin perempuan akan dilulur menggunakan bahan dari rempah-rempah pilihan. Ramuan lulur yang digunakan oleh Tukan Piare tidak akan kamu temukan di pasaran.

Sebab, tukang Piare membuat sendiri ramuannya dengan mempertahankan sisi tradisionalitas perawatan kecantikan yang dilakukan sehingga menggunakan bahan-bahan yang alami.

Jadi, ketika menjalani prosesi Piare ini, calon pengantin akan merasakan sensasi perawatan back to nature.

Ada yang unik dari tradisi piare adat Betawi ini, yaitu calon pengantin tidak boleh mandi sama sekali. Cuci muka dan berwudhu tetap diperbolehkan. Tapi biarpun tidak mandi selama sebulan penuh, calon pengantin tetap wangi dan bersih kok.

Sehari jelang hari pernikahan, barulah calon pengantin boleh mandi. Itu pun dengan upacara siraman dengan kembang 7 rupa, seperti halnya yang kita temui pada adat Jawa.

Upacara ini diawali dengan pembacaan doa, kemudian calon pengantin menuju tempat siraman yang telah dihias sedemikian rupa.

Peralatan yang digunakan pada siraman ini di antaranya, gayung yang terbuat dari batok kelapa, dupa, paso dari tanah liat dan 7 kembang tersebut.

Dalam ritual ini, orang tua beserta keluarga akan menyiram calon pengantin secara bergantian. Terakhir, siraman akan dilakukan oleh Tukang Piare. Selanjutnya, calon pengantin perempuan masih harus menjalani upacara Ditangas, yaitu mandi uap.

Uap ini dihasilkan dari rempah-rempah seperti pandan, daun jeruk purut, akar wangi, sereh dan daun dilem. Upacara mandi uap ini bertujuan untuk membersihkan sisa-sisa lulur dan mencegah keluarnya keringat secara berlebihan.

Setelah menjalani serangkaian prosesi Piare yang ditutup dengan upacara mandi uap, calon pengantin dipercaya akan membuat pangling semua orang dengan kilauan kulitnya yang bersih, mulus dan lembut.

Upacara Posuo, Tradisi Pingitan di Buton

Posuo merupakan tradisi pingitan dari Buton, Sulawesi Tenggara. Tradisi ini mirip dengan Kariya dari Muna, dimana para gadis (dalam bahasa Buton disebut sebagai Kabuabua) yang beranjak dewasa (Kalambe) harus menjalani ritual atau upacara tertentu.

Di Buton, ritual itu bernama Posuo. Melansir dari Infobudaya.net (21/12/2019), upacara Posuo dimaksudkan untuk mempersiapkan masa peralihan dari seorang gadis menuju kedewasaannya dengan memperkenalkannya pada hal baik dan buruk yang harus bisa mereka bedakan.

Posuo dilakukan di sebuah bilik atau kamar yang disebut dengan Suo. Ritual ini dipimpin oleh seorang tokoh adat Buton yang disebut dengan Bhisa.

Pada tahap pertama, para gadis akan menjalani ritual Pauncura. Yakni sebuah ritual adat untuk mengukuhkan para gadis sebagai peserta upacara Posuo.

Pada tahap ini, prosesi dipimpin oleh Bhisa senior yang disebut sebagai Parika. Parika akan menyampaikan pesan-pesan penting mengenai tujuan diselenggarakannya upacara Posuo.

Adapun pesan yang disampaikan adalah mengenai status baru para gadis sebagai kalambe (gadis dewasa), maka mereka harus memiliki rasa malu yang besar.

Dalam artian bahwa si gadis harus bisa membedakan perilaku baik dan buruk, memanfaatkan waktu untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat serta menyayangi kedua orang tua mereka untuk mendapatkan restu keduanya.

Selanjutnya, ketika gendang atau sepa (dinding papan) dibunyikan, maka resmilah Posuo dimulai. Uniknya, gendang atau sepa ini tidak boleh dibunyikan secara sembarangan.

Ia hanya dibunyikan ketika peserta Posuo bergerak melakukan kegiatan tertentu seperti mandi, makan dan masuk ke toilet.

Gendang akan berhenti dibunyikan ketika peserta Posuo mulai tertidur, dan akan dibunyikan kembali jika mereka melakukan aktivitas tertentu.

Posuo ini dilakukan dalam waktu yang beragam, mulai empat hingga tujuh hari, ada pula yang lebih dari itu. Pada saat menjalani Posuo, para peserta dibekali dengan pendidikan kehidupan dan spiritual yang disampaikan oleh Bhisa.

Selain itu, para peserta juga menjalani perawatan dengan rempah-rempah alami seperti kunyit dan tepung beras yang digunakan sebagai lulur.

Saat menjalani Posuo, para peserta harus mematuhi berbagai peraturan yang ditetapkan. Mereka tidak boleh makan berlebihan selama 7 hari atau lebih itu, sebab buang air besar dilarang dalam masa Posuo.

Mereka hanya boleh makan dalam piring kecil yang disebut sebagai piri-piri, itu pun harus dikontrol dan diawasi oleh Bhisa.

Ritual selanjutnya yang harus mereka jalani sebelum menyelesaikan serangkaian upacara Posuo adalah Bhaliana Yimpo dan Mata Kariya. Dalam ritual Bhaliana Yimpo, para peserta diubah posisi tidurnya dari kepala menghadap ke selatan menjadi menghadap ke barat.

Sedangkan dalam ritual Mata Kariya, para gadis akan dimandikan dengan wadah dari tanah liat yang disebut dengan Bhosu. Air yang digunakan untuk memandikan para gadis ini diambil dari 4 sumber mata air yang berbeda.

Khusus untuk gadis yang akan menikah, air di dalam bhosu akan dicampur dengan bunga Cempaka dan Kamboja.

Kemudian, para gadis diberkati dengan doa-doa disertai dengan pembungkusan bantal, guling dan tikar pandan yang dilakukan oleh Parika. Puncak ritual Mata Kariya adalah para gadis didandani dengan pakaian khusus yang disebut dengan busana Ajo Kalambe.

Setelah itu, barulah para gadis diperkenankan meninggalkan kamar Suo yang menandakan para gadis itu telah dewasa.

***

Itulah tadi beberapa tradisi pingitan yang dilakukan di berbagai suku dan adat yang berbeda di Indonesia. Tentu masih banyak adat dari suku lain yang melakukan tradisi pingitan dengan caranya masing-masing.

Tulisan ini, seperti judulnya, hanya ingin menelisik beberapa tradisi pingitan yang tersebar di Nusantara.

Apabila terbersit di pikiran kalian bahwa tradisi-tradisi itu sudah tidak relevan dengan kondisi hari ini, barangkali itu benar. Mungkin kalian akan berpikir bahwa tradisi pingitan merupakan simbol ketidakadilan terhadap perempuan.

Sebab, hanya dibebankan pada perempuan saja. Belum lagi, ternyata ada tradisi pingitan yang terkadang dipandang kurang sesuai dengan hak asasi manusia.

Akan tetapi, kita perlu mengakui bahwa tradisi-tradisi pingitan itu merupakan budaya Nusantara yang perlu dirawat. Pada dasarnya tradisi itu dilakukan atas dasar tujuan yang mulia.

Berbagai tujuan serta makna filosofi yang disimbolkan melalui tradisi tersebut juga sebenarnya sangatlah dalam.

Yakni untuk membangun rasa rindu, kepercayaan antara calon pengantin, melatih kesabaran, kedisiplinan, merawat diri, kesucian dan lain sebagainya. Selain itu juga agar terhindar dari mara bahaya di masa depan dengan adanya doa-doa yang diberkati.

Nilai-nilai filosofis tersebut jelas merupakan bekal yang penting dalam menjalani bahtera rumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *