Latihan Militer Tiongkok Dinilai sebagai Upaya Menekan Taiwan

RUANGNEGERI.com – Tiongkok kembali menggelar latihan perang di wilayah laut dan udara Taiwan. Upaya ini banyak dinilai media Barat sebagai upaya untuk menekan Taiwan dan sekutunya yang mendukung kemerdekaan Taiwan.

Langkah itu juga sebagai ajang guna memamerkan kekuatan persenjataan mereka. Hingga kini, Tiongkok belum berhasil menaklukkan Republik Tiongkok (nama resmi Taiwan). Serta menarik wilayah tersebut kembali ke dalam kuasanya.

Melansir dari laman berita Associated Press (16/09/2020), Ma Xiaoguang, dari Kantor Urusan Taiwan Kabinet Tiongkok mengatakan bahwa latihan tersebut disebabkan oleh tindakan pemimpin Taiwan sendiri.

Yakni sebagai bentuk dari “komitmen kami selama ini atas penyatuan Taiwan.” Negeri Tirai Bambu tersebut perlu menegaskan kembali pengaruhnya pada rakyat Taiwan. Khususna setelah Partai Progresif Demokratik kembali terpilih untuk berkuasa.

Sebab, partai tersebut cenderung keras pada niat Tiongkok dan berupaya untuk merdeka. Tiongkok juga melakukan latihan tempur massal di lepas pantai Taiwan. Tepatnya antara daratan Taiwan dan kepulauan Pratas.

Pesawat anti kapal selam tersebut menerobos wilayah udara Taiwan selama dua hari. Namun kemudian dihalau oleh Angkatan Udara Taiwan.

Mengutip dari Reuters (17/09/2020), hal itu dinilai sebagai bentuk provokasi dan ancaman serius bagi stabilitas regional. “Kami mampu mengalahkan semua upaya kemerdekaan Taiwan,” tegas Ma.

Sebelumnya, Beijing diberitakan telah berulang kali berusaha merayu Taiwan. Salah satunya dengan penyatuan politik di bawah kerangka One Country Two System atau Satu Negara Dua Sistem. Namun, sejauh ini upaya tersebut dinilai masih belum berhasil.

Karena itu, upaya pamer kekuatan militer melalui latihan perang di wilayah Taiwan diyakini menjadi pilihan berikutnya. Beijing makin kerap melakukannya, khususnya setelah Presiden Tsai Ing Wen kembali terpilih. Selama ini ia banyak dikenal dengan sikapnya yang ingin lepas sepenuhnya dari Tiongkok.

Upaya pendekatan politis yang dilakukan Tiongkok melalui Partai Nasionalis Taiwan juga belum berhasil. Partai yang lebih ramah telah kehilangan tajinya dalam beberapa tahun terakhir.

Taiwan juga tidak mengirim delegasi pada forum ekonomi dan lintas budaya yang diselenggarakan di Kota Xianmen beberapa waktu lalu.

Partai yang menguasai politik Taiwan selama beberapa dekade terakhir telah kehilangan kepercayaan publik karena dianggap terlalu dekat dengan Beijing. Sepak terjangnya dinilai bisa ‘menggadaikan’ Taiwan.

Langkah lain berikutnya yang ditempuh adalah mengisolasi pemerintahan Presiden Tsai. Beijing berhasil memangkas sekutu politik Taiwan hingga tinggal 5 negara saja.

Selain itu juga memblokir akses Taiwan untuk mengikuti pertemuan internasional. Hal itu dinilai sebagai upaya untuk memaksa Presiden Tsai agar mengakui bahwa Taiwan adalah bagian Tiongkok.

Itu sebabnya, Taiwan hingga sekarang masih menjadi bayang-bayang Tiongkok.

BACA JUGA: UU Keamanan Nasional Hong Kong: Kontroversi dan Potensi Ancamannya

Sejarah Terpecahnya Taiwan-Tiongkok

Mengutip dari laman berita BBC, bagi Tiongkok daratan, Taiwan dianggap sebagai provinsi mereka yang membangkang serta berusaha melakukan makar. Namun bagi rakyat Taiwan, mereka meyakini sebagai negara terpisah, dan ingin melepaskan diri dari kekuasaan Tiongkok.

Beijing menggunakan fakta sejarah penemuan pulau Taiwan untuk mengklaim daerah tersebut. Taiwan pertama kali muncul dalam catatan pasukan ekspedisi Tiongkok pada tahun 239 Sebelum Masehi.

Taiwan sempat dijajah Belanda dari tahun 1624-1661. Lalu diperintah oleh Dinasti Qing sejak 1683-1895. Sejak abad ke-17, Taiwan telah menjadi destinasi migran dari Guangdong dan Fujian. Sebagian besar melarikan diri dari kondisi sulit di Tiongkok.

Tahun 1895, ketika Tiongkok kalah perang dari Jepang, Taiwan jatuh kepada negeri Matahari Terbit. Baru setelah Perang Dunia II, Tiongkok kembali menguasai Taiwan. Perselisihan Tiongkok-Taiwan dimulai sejak tahun 1949.

Saat itu, pemimpin demokratis Tiongkok, Chiang Kai Sek, melarikan diri ke kepulauan Taiwan dari tekanan Mao Tse Tung. Chiang dan pengikutnya disebut-sebut sebagai populasi Tiongkok daratan.

Jumlahnya kemudian bertambah menjadi 1,5 juta orang atau sekitar 14 % dari populasi Taiwan. Kelompok itu kemudian menguasai perpolitikan daerah tersebut selama bertahun-tahun.

Di bawah Partai Nasionalis Taiwan pimpinan Chiang Cing Kuo, Taiwan dan Tiongkok pernah melakukan perdamaian pada tahun 1980. Tiongkok memberikan opsi “Satu Negara Dua Sistem” seperti yang ditawarkan pada Hong Kong.

Namun, tawaran itu ditolak Taiwan. Setelah itu, hubungan keduanya kembali menegang. Praktis hanya kebijakan terkait investasi dan kunjungan yang mulai melunak.

Ketika pemilu tahun 2000 yang mengakhiri kekuasaan Partai Nasionalis Taiwan, Beijing nampak mulai waspada kembali. Presiden Chen Shui Bian dari Partai Progresif Demokratik terpilih sebagai presiden.

Presiden Chen dikenal sangat mendukung kemerdekaan Taiwan. Ia terpilih kembali pada tahun 2004. Hal itulah yang membuat Tiongkok bersikap keras dengan mengeluarkan UU Anti Pemisahan Diri.

Pada Januari 2016, Tsai Ing Wen terpilih menjadi presiden kembali. Ia juga merupakan sosok yang memiliki tekad untuk membawa Taiwan merdeka dari Tiongkok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *