Bagaimana Kpop Menjadi Hiburan Bernilai Jutaan Dollar?

RUANGNEGERI.com – Korean Pop atau Kpop saat ini menjadi fenomena yang melanda dunia. Tahukah Anda jika hal ini tidak serta merta tercipta begitu saja? Kpop ternyata merupakan hasil dari sebuah proses sejak puluhan tahun silam.

Keberhasilan BTS (Bangtan Boys, sebuah boy band asal Korea Selatan yang beranggotakan 7 orang) hingga menembus pasar Amerika Serikat serta kemenangan Parasite dalam perhelatan Oscar 2020 mengukuhkan posisi negeri Gingseng dalam panggung showbiz dunia.

Melansir dari Statista.com (20/08/2020), hingga tahun 2019, BTS tercatat menjadi artis dengan penjualan album terbanyak dengan jumlah penjualan sebanyak 3.72 juta unit. Di tahun yang sama, industri musik juga menyumbang pemasukan Korea Selatan dari sektor ekspor sebesar AS $564,2 juta (sekitar Rp8 triliun).

Sebuah angka yang sangat fantastis dari indusrti hiburan Korea Selatan. Belum lagi ditambah dari sektor pariwisata yang juga kian meningkat.

Baik keberhasilan Kpop sebagai industri maupun keberhasilan BTS itu sendiri tidak didapat secara instan. Para anggota BTS dikenal menjalani pelatihan selama beberapa tahun terlebih dahulu sebelum resmi debut.

Kpop sendiri harus berproses selama lebih dari 20 dekade terlebih dahulu sebelum mencapai puncak kesuksesan seperti sekarang ini.

Baca juga: Ketika Kampanye Trump Dikalahkan Pengguna TikTok dan Fans K-Pop

Apa itu Kpop?

Kpop atau Korean Pop adalah salah satu genre musik yang dibuat di Korea Selatan. Dari sisi produk musik, Kpop umumnya memiliki beberapa ciri yaitu: pertama, menggunakan bahasa Korea dengan campuran sedikit bahasa Inggris.

Kedua, ditampilkan dengan tarian yang energik dan video musik (MV) yang terkesan artistik dan mahal; dan ketiga, merupakan genre yang mencampurkan genre yang sebelumnya sudah ada seperti Rock, Pop, Hip Hop dan lain lain.

Sedangkan dari segi proses produksi musik industri Kpop dikenal dengan proses produksinya yang terstruktur. Saat ini, setidaknya ada 4 perusahaan hiburan terbesar di Korea Selatan yaitu SM Entertainment, JYP Entertainment, YG Entertainment dan Big Hit Entertainement.

Masing masing perusahaan mengelola artis dari masa pra-produksi. Beberapa di antaranya adalah audisi dan pelatihan hingga masa pasca produksi seperti distribusi album, pembayaran gaji hingga berbagai masalah hukum.

Baca juga: Diboikot, Facebook Akan Melabeli Postingan yang Melanggar Ketentuan

Selain itu, keseriusan pendanaan juga sangat tinggi. Biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi Kpop ini tidak tanggung-tanggung. Agensi Kpop berani mengeluarkan biaya yang besar untuk membuat satu buah video musik.

Sebut saja video musik “One Shoot” dari boy group B.A.P yang menelan biaya lebih dari AS $900 ribu atau setara dengan Rp12,7 miliar. Selain itu juga ada video musik “Come Back Home” dari 2ne1 yang menelan biaya lebih dari $500 ribu.

Biaya produksi Kpop tersebut juga mencakup biaya pelatihan saat idol Kpop masih dalam tahap training hingga biaya pembelian hak cipta lagu. Beberapa perusahaan agensi artis Kpop tidak jarang membeli lagu hasil karya produser luar negeri untuk dinyanyikan artis mereka.

Selain struktur dan pendanaan, pelatihan (training) calon artis juga tergolong lama dan ketat. Artis Kpop akan bisa menjalani debut setelah melewati proses pelatihan yang panjang dan seleksi yang ketat.

Dalam menjalani masa pelatihan, mereka tidak hanya dilatih bernyanyi dan menari. Namun juga diajari cara memainkan alat musik dan Bahasa Korea.

Baca juga: Bagaimana Industri Hiburan Bisa Bertahan di Masa Depan?

Kpop Generasi Pertama: Seo Taiji & Boys serta Berdirinya SM Entertainment

Tidak ada batasan yang pasti kapan permulaan dari sebuah generasi Kpop dan kapan zaman generasi tersebut berakhir. Namun banyak kalangan bersepakat bahwa Kpop dimulai dengan debutnya Seo Taiji and Boys pada tahun 1992 dan didirikannya SM Entertainment oleh Lee Soo Man pada tahun 1995.

Seo Taiji and Boys tercatat sebagai musisi pertama yang memasukkan Rap dan bereksperimen dengan musik pop AS di kancah industri musik Korea Selatan saat itu. Billboard mencatat dari tiga album pertama dari grup terjual lebih dari 1,6 juta keping di Korea Selatan. Sementara album keempat mereka terjual nyaris 4 juta keping.

Sedangkan SM Entertainment adalah salah satu agensi manajemen artis tertua dan terkemuka di Korea Selatan. Agensi ini diketahui terus menerus berhasil menelurkan idol Kpop papan atas. Sebut saja H.O.T, BoA hingga Red Velvet dan NCT.

Bahkan nama pendiri sekaligus executive producer agensinya, Lee Soo Man, pada tahun 2020 dijadikan nama jalan di Los Angeles sebagai pengakuan atas hasil kerja kerasnya merintis Hallyu Wave.

Baca juga: Melihat Tantangan dan Peluang Diplomasi Ekonomi Indonesia Pasca Covid-19

Generasi Kedua: Ekspansi ke Luar Negeri dan Penggunaan Media Sosial

Sebagaimana batasan dimulainya generasi pertama, tidak ada tenggat waktu yang pasti kapan Kpop generasi kedua dimulai. Namun periode ini berkisar antara tahun 2003 hingga 2012.

Salah satu ciri idol Kpop generasi kedua ini adalah perubahan citra dari “Mysterious, untouchable celebrity” menjadi “Friendly neighborhood star.” Ciri lain yang terdapat pada industri Kpop pada generasi ini di antaranya adalah:

1. YouTube mulai banyak dipakai sebagai media pemasaran. Mulanya, aplikasi ini secara tidak sengaja ditemukan oleh mantan CEO SM Entertaiment, Kim Young Min, ketika membeli iPhone di Jepang pada tahun 2008. Hingga kini, YouTube masih menjadi salah satu media pemasaran utama Kpop.

2. Model bisnis Kpop berubah dari Business to Consumer menjadi Business to Business dengan merilis video di Youtube;

3. Fokus penjualan album beralih dari album fisik ke album digital. Seperti yang kita ketahui bahwasanya seiring dengan perkembangan teknologi digital, penjualan album fisik terus mengalami penurunan pada paruh akhir dekade 2000-an.

Alih-alih berusaha meningkatkan penjualan album fisik, pada periode ini Kpop sudah mulai berubah fokus ke album digital.

4. Industri Kpop mulai berekspansi ke pasar luar negeri terutama ke Jepang, Tiongkok dan serta beberapa negara di kawasan Asia Tenggara.

5. Idol Kpop berkewarganegaraan asing mulai banyak bermunculan. Sebut saja Nickkhun 2PM (Thailand) dan Hangeng serta Henry eks Super Junior (Tiongkok). Salah satu hal yang menarik dari pemilihan warga negara asing (WNA) untuk menjadi anggota idol Kpop adalah kemampuannya dalam Bahasa Inggris.

Contoh idol Kpop generasi ini yang fasih berbahasa Inggris adalah Nickkhun 2PM, Jay Park eks 2PM, Tiffany Girl’s Generation, Henry eks Super Junior dan Amber F(x). Tujuannya tentu saja untuk menjangkau masyarakat internasional secara lebih luas algi.

Beberapa Idol Kpop yang debut dalam periode ini adalah TVXQ (2004), Super Junior (2005), Big Bang (2006), Girl’s Generation (2007), Wonder Girls (2007) dan 2ne1 (2009).

Baca juga: Di Bawah Paksaan, Google Akhirnya Bersedia Membayar Media untuk Artikel Berita

Generasi Ketiga (2012-sekarang): Gangnam Style dan BTS

Kesuksesan Kpop secara internasional mulai terlihat ketika lagu Nobody dari Wonder Girls yang viral pada tahun 2008. Namun tidak dapat dipungkiri bahwasanya Kpop mulai mencuri perhatian publik internasional secara lebih luas ketika Gangnam Style pada tahun 2013.

Ini tercatat berhasil menjadi video YouTube pertama yang ditonton oleh lebih dari 1 miliar orang diseluruh dunia.

Pada tahun 2013 pula, boy group Kpop terbesar saat ini yaitu BTS (Bangtan Sonyeondan) debut. BTS yang berasal dari agensi kecil perlahan lahan tumbuh menjadi pesaing kuat boy group EXO yang telah debut satu tahun sebelumnya dan digadang-gadang menjadi pembuka Kpop group generasi ketiga.

BTS dan EXO bersama dengan Seventeen dan NCT pada periode ini berhasil menjual lebih dari 1 juta keping album baik album fisik maupun digital diseluruh dunia. Guiness World Records, di bulan Agustus 2020 mencatat bahwa album terakhir BTS berhasil terjual sebanyak 4.265.617 keping album di seluruh dunia. Bahkan disebut menjadi musisi Korea dengan penjualan album terlaris sepanjang masa.

Tidak kalah dengan boy group, hingga penghujung tahun 2020, album terbaru girl group BlackPink juga berhasil menembus 1 juta kopi penjualan di seluruh dunia. Pencapaian ini menjadi sebuah pencapaian baru, mengingat album terlaris dari girl group pada generasi sebelumnya tidak sampai menmbeus angka tersebut.

Dengan pencapaian ini, musisi Kpop kini banyak diundang ke dalam acara acara berbasis internasional terkemuka seperti Billboard Music Award, Coachella Festival dan bahkan masuk dalam pembahasan di sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Baca juga: Memaknai Diplomasi Alat Kesehatan Korea Selatan terhadap Indonesia

Kpop Menjadi Sarana Diplomasi Korea Selatan

Perkembangan Kpop tidak lepas dari dukungan pemerintah Korea Selatan. Pada pertengahan dekade 90-an, Korea Selatan dikejutkan dengan jumlah pendapatan film Jurassic Park yang bahkan melebihi jumlah pendapatan dari ekspor otomotif Hyundai di periode yang sama.

Sejak saat itu, Pemerintah Korea Selatan menggerakkan penelitian dan mendorong ekspor dalam bidang seni dan budaya di kancah internasional.

Pada tahun 2012 misalnya, Kementerian Budaya, Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan menggelontorkan dana hingga $33,5 miliar (senilai hampir Rp500 triliun) untuk membantu mempromosikan budaya Korea.

Di tahun 2021, pemerintah juga telah menyiapkan dana sebesar $585 juta untuk mendukung industri Kpop di tengah pandemi Covid-19. Selain mendukung Kpop dengan suntikan dana, pemerintah juga menggunakannya sebagai instrumen yang membantu diplomasi dan pembentukan citra Korea Selatan di luar negeri.

Tae Young Kim & Dal Yong Jin (2016) melalui penelitian berjudul Cultural Policy in the Korean Wave: An Analysis of Cultural Diplomacy Embedded in Presidential Speeches, menyimpulkan bahwa sejak tahun 1997 hingga tahun 2014 khususnya, terdapat banyak tren positif dari penggunaan Kpop sebagai medium diplomasi Seoul.

Contoh yang paling menonjol dari hal ini adalah Pidato Presiden Korsel, Park Geun Hye pada MAMA (Mnet Asian Music Award) pada tahun 2014. Selain itu juga dari penampilan Red Velvet di Korea Utara serta pidato BTS di dalam sidang PBB tahun 2018 lalu.

Itulah beberapa faktor yang melatar-belakangi pertumbuhan Kpop hingga menjadi industri musik terkemuka seperti saat ini. Sinergisitas antara sektor swasta, pemerintah, ahli teknologi serta pegiat seni dan budaya sangat berperan besar.

Farichatul Chusna

Alumnus Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, penggemar Kpop dan Budaya Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *