Kapal Pengintai Terdampar di Skotlandia Masih Misterius, Diduga Milik AS

RUANGNEGERI.com – Sebuah kapal tanpa awak ditemukan terdampar di pantai Pulau Tiree Skotlandia, dua pekan lalu. Drone berbentuk perahu tersebut kandas dan terjepit di antara dua buah batu.

Melansir dari laman Forbes (19/10/2020), hingga kini belum ada klaim resmi atas kepemilikan kapal tersebut. Namun berbagai spekulasi mengarah pada Amerika Serikat.

Para ahli senjata maritim dengan cepat mengidentifikasi perahu tersebut sebagai Liquid Robotics Wave Glider. Yakni, perahu robotik buatan AS bermuatan kecil yang dapat menyebar sendiri sejauh ribuan mil.

Ciri utama Wave Glider ini adalah tiga set panel surya di bagian depan dan pegangan di haluannya. Kapal drone ini juga memiliki tiga antena berwarna hitam. Diduga untuk telekomunikasi, GPS dan telemetri muatan.

Sebenarnya, selain kapal ada lagi bagiannya yang berbentuk seperti kapal selam dengan sirip. Berguna untuk menangkap energi kinetis dari gelombang laut agar kapal bisa bergerak ke depan.

Akan tetapi bagian itu tidak ditemukan. Kemungkinan hilang di laut lepas. Sementara, salah satu antena ditemukan di tepi pantai. Sejak ditemukan pada tanggal 28 September lalu, kapal drone tersebut sudah mengundang kehebohan.

Nyaris satu minggu tidak ada yang mengklaim kepemilikannya. Angkatan Laut dan Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa kapal itu bukan miliknya. Tinggal AS yang belum mengeluarkan pernyataan.

Dengan kondisinya yang cukup rusak, bagian tepi yang aus dan lamanya waktu sejak ditemukan hingga ditanggapi, sepertinya GPS drone ini sudah rusak. Atau kehabisan daya akibat kerusakan yang dialaminya hingga berhenti memancarkan transmisi.

BACA JUGA: Militer AS Siapkan Teknologi Drone Terbaru yang Serba Otomatis

Dugaan Mengarah ke AS

Melansir dari Forbes (07/10/2020), tidak semua angkatan laut di dunia menggunakan drone kapal seharga yang ditaksir mencapai $ 350 ribu seperti ini (Rp 5,1 miliar). Apalagi ketika korps tersebut kehilangan senjata mata-matanya dan masih ‘santai’.

Lagipula, AS adalah negara dengan pangkalan militer terdekat dengan Pulau Tiree yang berpenghuni 653 orang. Pangkalan militer lainnya adalah milik Inggris, yang telah menyangkal sebagai pemilik kapal drone.

Walau pada tahun 2016 pernah bereksperimen dengan alat ini sebagai senjata mata-mata otonom. Kuat dugaan bahwa drone ini adalah alat mata-mata untuk mendeteksi kapal selam dan mempelajarinya.

Atau sebagai alat komunikasi dengan pos penjagaan lepas pantai Faslane. Walau dengan jangkauan ribuan mil alat ini bisa diluncurkan dari mana saja.

Rusia juga membuat alat mirip Wave Glider dengan nama Fugu. Mengingat alat ini bisa membawa macam-macam perlengkapan, termasuk alat komunikasi dan senjata.

Namun alat yang terdampar tersebut dipastikan bukan milik Rusia. Pernyataan dari Liquid Robotics, perusahaan pembuatnya, menyebutkan bahwa mereka sedang berusaha menjangkau alat tersebut.

Perusahaan itu juga sudah “melibatkan pengguna terakhir drone ini dan menghubungi mereka. Kami yakin mereka sedang berkoordinasi dengan pihak berwenang.”

Selain militer, para ilmuwan juga sering menggunakan alat seperti ini untuk meneliti biota laut. Namun yang satu ini lebih terlihat seperti milik militer alih-alih peneliti maritim.

Misalnya warna abu-abu yang menyamar secara sempurna. Para peneliti biasanya menggunakan warna kuning dengan bendera berwarna mencolok agar mudah terlihat. Alat ini juga tidak memiliki lampu navigasi, reflektor radar serta komposisi antena yang tidak biasa.

Wave Glider yang ditemukan ini seperti sengaja berlayar dalam mode siluman. Sehingga sangat riskan tertabrak kapal lain memang. Itulah kenapa kondisinya rusak, antenanya copot dan alat pendorongnya terlepas.

BACA JUGA: 4 Kapal Perang Baru Rusia Sedang Disiapkan untuk Mengantisipasi NATO

Kendaraan Tanpa Awak yang Bertahan Lama di Laut

Liquid Robotic Wave Glider adalah sejenis Autonom Unit Vehicle atau kendaraan otonom (tanpa awak). Dengan kecepatan antara 1-2 knot, drone ini dapat bertahan di lautan hingga berbulan-bulan. Tiga set panel surya di atasnya akan memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi optimal.

Penggeraknya sendiri tidak berada di badan kapal, tapi terendam di dalam air. Berbentuk kapal selam dengan sirip pendayung, alat ini akan mengubah gelombang laut menjadi pendorong kapal.

Alat serupa pernah digunakan oleh kelompok ilmuwan Cefas di Laut Utara Inggris. Dalam misi memantau jumlah persediaan ikan di daerah tersebut.

Alat yang ditemukan di Skotlandia ini memiliki sensor yang berada di bawah air, seperti yang digunakan oleh militer Inggris pada tahun 2016.

Wave Glider dengan ciri persis seperti ini juga pernah ditemukan di pantai Irlandia Utara, pada September 2019 lalu. Seperti halnya Wave Glider di Skotlandia, yang satu ini juga tidak diklaim oleh siapapun.

Dikuptip dari Maritime-executive.com (20/10/2020), hal itu memunculkan dugaan bahwa pemiliknya tidak ingin diketahui. Atau sedang melakukan aksi mata-mata di perairan Inggris.

Perusahaan pembuatnya, Liquid Robotics adalah perusahaan yang berbasis di California, AS. Perusahaan ini pernah melakukan kerja sama dengan Inggris pada tahun 2016.

Selain itu juga kemitraan dengan Angkatan Laut Kerajaan Inggris dalam latihan Unmanned Warrior Maritime Autonomous Systems (MAS) tahun 2017. Saat itu, Wave Glider mereka berhasil melacak UUV (Underwater Unit Vehicle) otonom dan kapal selam diesel-listrik.

Wave Glider dengan modifikasi ini juga terlihat di lepas pantai Florida. Dikenali sebagai alat yang digunakan dalam program perburuan Angkatan Laut AS, Sensor Hosting Autonomous Remote Craft (SHARC).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *