Israel Gempur Pemukiman Desa di Palestina Hingga Rata

RUANGNEGERI.com – Ketika perhatian dunia sedang tertuju pada pemilihan Presiden Amerika Serikat, tantara Israel diberitakan melakukan penghacuran sebuah desa kecil Palestina di Tepi Barat pada Selasa 3 November lalu.

Hampir 80 rumah warga Palestina, serta 18 tenda yang menampung 11 keluarga di desa utara Khirbet Humsa dihancurkan dalam satu hari.

Mengutip dari The Guardian (05/11/2020), sebanyak 73 orang termasuk 41 anak-anak terpaksa harus mengungsi ketika tantara Israel menghancurkan rumah mereka dan harta benda milik komunitas Palestina di Khirbet al-Fawqa berupa kendaraan dan traktor.

Abdelghani Awada, salah satu penduduk yang kehilangan tempat tinggal akibat operasi tersebut, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa Israel hanya memberi waktu 10 menit untuk mengevakuasi rumah mereka. Kemudian, mereka mulai membuldoser secara rata.

Selain rumah penduduk, buldoser itu turut merobohkan 29 tenda dan gudang yang digunakan sebagai kandang ternak, 3 gudang penyimpanan, 9 tenda yang digunakan sebagai dapur, 10 toilet portabel, 10 kandang ternak, 23 wadah air dan 2 panel surya.

Selain itu juga, tempat makan dan air untuk ternak serta lebih dari 30 ton pakan ternak juga ikut dihancurkan.

BACA JUGA: Hadapi Iran dan Hizbullah, Israel Siapkan Satelit dan Kapal Perang Baru

Israel Menganggapnya Sebagai Perumahan Ilegal

Warga Harb Abu al-Kbash diketahui sudah tinggal di wilayah tersebut sejak 1967. Namun ketika Israel secara paksa menduduki Tepi Barat dan Yerusalem Timur, membuat ratusan ribu warga Palestina terpaksa harus mengungsi.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu sejak awal tahun ini memang telah merencanakan niatnya untuk melakukan pencaplokan dari tanah yang disebutnya sebagai Area C. Hal itu mencakup Lembah Jordan sebagai bagian dari misi besar membangun “Israel Raya.”

Lembah Jordan merupakan sebidang tanah perbatasan strategis. Area tersebut terbentang dari Laut Galilea hingga Laut Mati. Lembah ini diketahui merupakan rumah bagi sekitar 60.000 warga Palestina.

Tetapi menurut laporan PBB, hampir 90 persen tanahnya saat ini sudah berada di bawah kendali penuh Israel. Termasuk di dalamnya merupakan daerah militer tertutup.

Selain itu juga terdapat serta sekitar 50 permukiman pertanian yang menampung sekitar 12.000 orang Israel. Dengan begitu, Israel merasa berhak melakukan tindakan apa pun di atas tanah tersebut.

Seorang warga yang terkena dampak mengaku bahwa tindakan yang dilakukan Israel kali ini adalah sebuah ketidakadilan yang sangat merugikan. Warga tidak tahu-menahu akan serangan membabi-buta secara tiba-tiba tersebut.

“Kami tidak tahu mereka akan datang dan kami tidak mempersiapkan diri, dan sekarang kami menghadapi hujan” ungkap Abu al-Kabash, seorang ayah dengan delapan anak.

Kemudian dia menambahkan bahwa “mereka datang di masa lalu untuk menghancurkan beberapa bangunan. Tetapi ini adalah pembongkaran terbesar sejauh ini, ini adalah seluruh desa,” tambahnya.

Dalam sebuah pernyataan, pasukan militer Israel (IDF) bertanggung jawab atas urusan sipil di Tepi Barat. IDF menyebut bahwa bangunan yang sudah mereka hancurkan tersebut telah dibangun secara ilegal di zona tembak atau area pelatihan militer.

Selain itu, Israel berdalih bahwa “penegakan dilakukan sesuai dengan otoritas dan prosedur, dan tunduk pada pertimbangan operasional.” Sementara warga mengaku bahwa daerah itu digunakan untuk pertanian, jarang sekali digunakan untuk latihan militer.

Laman berita Reuters (05/11/2020) melaporkan bahwa pada Kamis pagi, penduduk sudah pindah kembali dengan menggunakan tenda yang disumbangkan oleh kelompok bantuan Palestina.

Sebuah kelompok bantuan Palestina telah menyediakan tenda sebagai tempat penampungan sementara bagi penduduk yang kehilangan rumah mereka.

Namun tenda yang ada saat ini belum bisa menampung semua keluarga. Masih banyak penduduk desa tidur di puing-puing gubuk mereka yang hancur.

“Tempat tidur kita adalah tanah. Atap kita adalah langit. Kami berharap orang-orang akan datang dan melihat situasi kami. Mereka akan melihat bahwa Israel, yang berpura-pura menjadi negara pengasih, sedang mengejar kami,” keluhnya.

BACA JUGA: Menerka Arah Kebijakan Joe Biden Sebagai Presiden AS Terpilih

Uni Eropa Mendesak Israel untuk Menghentikan Aksinya

Melihat hal ini, Uni Eropa (UE) geram dan protes terhadap tindakan sepihak Israel. Terlebih kepada bantuan yang sudah diberikan kepada komunitas Palestina, ikut dihancurkannya.

Juru bicara Uni Eropa, Peter Santo mendesak Israel untuk menghentikan semua pembongkaran tersebut. Mengingat dampak kemanusiaan dari pandemi Covid-19 yang saat ini masih menyebar.

“Pembongkaran besar-besaran ini menegaskan sekali lagi tren penyitaan dan pembongkaran yang tidak menguntungkan (diikuti) sejak awal tahun,” tegasnya.

Santo menekankan bahwa ini merupakan tambahan dari ancaman untuk menghancurkan sekolah Palestina di komunitas Ras El-Teen di Tepi Barat pusat yang didanai secara kolektif oleh negara-negara UE.

Tercatat ada 52 sekolah Palestina di bawah ancaman pembongkaran. “Belajar adalah hak asasi manusia yang harus dilindungi dan dipertahankan,” lanjut Santo.

Ia juga menyebutkan bahwa perkembangan seperti yang sedang terjadi saat ini merupakan hambatan bagi solusi dua negara. Uni Eropa menyerukan kepada Israel untuk mengakhiri semua penghancuran ini, termasuk penghancuran fasilitas yang dibiayai oleh UE.

Sejauh berita ini ditulis, pihak Amerika Serikat belum memberikan pernyataan terhadap aksi kejahatan Israel ini. Hal itu mungkin saja karena alasan sedang dalam masa pemilihan Presiden AS.

Namun sebelumnya, Presiden Donald Trump diketahui telah menyatakan dukungannya untuk kebijakan pemukiman Israel. Begitupun dengan Presiden terpilih AS, Joe Biden yang juga telah memberikan dukungan penuh untuk Israel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *