Islam dalam Dimensi Kebudayaan Indonesia

RUANGNEGERI.com – Membicarakan Islam dalam konteks kebudayaan di tanah air sangatlah luas. Hal itu tentu saja tidak akan selesai hanya melalui wacana dan tulisan singkat.

Kajian yang mendalam dari para budayawan, ulama, antroplog dan sosilog lintas generasi telah banyak kita jumpai. Uraian singkat ini lebih membahas dimensi kecil yang secara umum bisa kita saksikan bersama.

Pengertian dari kebudayaan itu sendiri sangat luas. Kata budaya diambil dari bahasa sansekerta, yakni buddhayah yang mengandung makna akal dan budi manusia.

Hal itu bisa meliputi pengetahuan, pikiran, kepercayaan, seni, adat-istiadat, tradisi maupun berbagai aspek sosial lain sebagai hasil karya manusia.

Kebudayaan nusantara sebelum era kemerdekaan Indonesia banyak berafiliasi dengan Hindu dan Budha.

Mulai dari sistem sosial, pemerintahan, seni, bahasa, bangunan maupun tradisi lainnya sangatlah kental dengan nuansa Hindu dan Budha. Selain itu, kepercayaan animisme dan dinamisme juga sangat kental di masyarakat.

Berbicara tentang Islam dalam kerangka budaya di Indonesia, literatur dan kajian Islam lebih banyak mengarah ke Wali Songo (sembilan wali). Sebuah metode dakwah yang dikenal asimilatif serta melebur dengan tradisi yang ada (given).

Selain tetap menjaga toleransi terhadap budaya lokal, Wali Songo juga banyak dikenal masyarakat terutama karena sikap dan kearifan luhur mereka.

Metode dakwah yang dilakukannya tidak hanya seputar teologis. Namun juga aspek ekonomi, politik, sosial, budaya serta pendekatan ilmiah dalam beragama.

Sejarah mencatat bahwa pendekatan tersebut merupakan metode yang efektif dalam menyebarkan nilai-nilai Islam secara luas di masyarakat.

Terkait dengan metode dakwah tersebut, K.H. Abdurrahman Wahid (2001) atau biasa disapa Gus Dur dalam buku berjudul Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan, menyebutnya sebagai “pribumisasi Islam.”

Masyarakat pribumi yang pada awalnya cenderung bersifat puritan, tidaklah keberatan dengan ajaran ‘baru’ yang dibawakan oleh Wali Songo.

BACA JUGA: Politik Identitas: Tinjauan Sosial di Era Digital

Sufisme dan Ortodoksi Islam

Suparjo (2008) dalam tulisan berjudul Islam dan Budaya: Strategi Kultural Walisongo dalam Membangun Masyarakat Muslim Indonesia, menyebutkan bahwa metode dakwah dari pawa wali tersebut dengan istilah “inklusif-transformatif.”

Hal itu membuat ajaran Islam cepat berkembang ke seluruh penjuru Nusantara secara damai dan tanpa kekerasan. Dengan metode tersebut, peperangan dan pertumpahan darah tidak diperlukan sama sekali.

Selama kurun waktu sekitar 50 tahun, dari abad ke-14 hingga awal abad ke-15, kerajaan-kerajaan serta budaya masyarakat yang sebelumnya didominasi oleh tradisi Hindu dan Budha, mulai banyak diganti dengan Islam. Kerajaan-kerajaan bernuansa Islam bahkan kemudian menyebar hingga ke Brunai serta Malaysia.

Secara teologis, pokok-pokok ajaran Islam banyak disampaikan oleh Wali Songo dengan metode yang disertai dengan kearifan dan hikmah dari ajaran sufisme.

Kata sufisme, sufy atau tasawwuf diambil dari kata al-ikhsan. Yakni beribadah dan menyembah Allah swt seolah-olah melihat-Nya.

Dalam kamus Cambridge Advanced Learner’s Dictionary (2008), sufism didefinisikan sebagai “a member of an Islamic religious group which tries to achieve unity with God by living a simple life and by praying and meditating.

Yakni pandangan keagamaan dalam Islam yang bertujuan untuk ‘menyatu’ dengan Allah swt dengan cara hidup sederhana, berdoa dan i’tikaf (berdiam diri).

Secara epistemologis, sufisme merupakan ajaran Islam yang menekankan pada kemampuan seseorang untuk mampu ‘melihat’ sesuatu yang tidak dapat ‘dilihat’ melalui panca indra manusia.

Melihat Allah swt disini adalah bermakna melihat dengan menggunakan mata hati (internal sight atau insight). Farida Khanam (2009) dalam buku berjudul Sufism: An Introduction, menyebut bahwa hal itu bisa dicapai antara lain adalah dengan melakukan serangkaian ibadah, doa, meditasi serta berbagai aktivitas ritual keagamaan lainnya.

Sufisme diyakini sebagai filosofi tertinggi dalam tradisi keagamaan. Tujuannya adalah untuk mencapai derajat komunikasi keimanan langsung dengan Allah swt. Beberapa tahapan harus dilakukan oleh seseorang, yakni syari’at, thariqat, hakikat hingga ma’rifat. Ma’rifat merupakan tahapan tertinggi.

Muhammad Fazlur Rahman Ansari (1973), seorang sufi terkemuka asal Pakistan dalam bukunya berjudul The Qur’anic Foundations & Structure of Muslim Society, menyebutkan bahwa sufisme merupakan bentuk ajaran “piety, selflessness, truth, justice, love, wisdom and beauty” (sederhana, jujur, berserah diri, kesetiaan yang tulus, kasih sayang, kebijaksanaan serta keanggunan diri.

Pengajarannya secara umum merujuk ke tradisi pemikiran empat Imam Mazhab. Yakni Imam Syafi’i, Hanafi, Maliki serta Hanbali. Meskipun di Indonesia lebih banyak mengarah ke Imam Syafi’i, namun bukan berarti tertutup untuk imam mazhab lainnya.

Terkait karakteristik umat Islam di Indonesia tersebut, Clifford Geertz (1997) dalam buku berjudul The Religion of Java mengelompokkannya menjadi tiga.

Pertama, kelompok priyayi atau kelompok masyarakat elit. Kelompok yang terkategori ini adalah muslim yang memiliki keterkaitan dengan tradisi kerajaan (ningrat) serta kaum terpelajar.

Kedua, masyarakat abangan atau golongan yang kurang taat. Kategori ini secara umum masih awam dengan ajaran Islam. Selain itu, kelompok ini juga masih kental dengan budaya Hindu serta Budha (masyarakat sinkretis). Masyarakat ini juga seringkali dikenal dengan sebutan ‘Islam KTP’ (Kartu Tanda Penduduk).

Ketiga, kelompok santri (muslim taat). Kelompok yang terakhir ini termasuk ke dalam kategori yang secara umum memiliki keterkaitan erat dengan budaya dan pengajaran Islam di pesantren.

Pandangan umum masyarakat Indonesia dikategorikannya sebagai bentuk ortodoksi keislaman.

Istilah “ortodoks” pada awalnya berasal dari tradisi Kristen yang merujuk pada kekaisaran Byzantium Kristen Ortodoks (Romawi Timur) yang berpusat di Kota Konstantinopel. Kerajaan ini berdiri pada abad ke-3, hingga akhirnya runtuh abad ke-15 di tangan Turki Ustmani.

Kata orthodoxy dalam kamus Thesaurus didefinisikan sebagai “adhering to the accepted of traditional and established faith, especially in religion.

Cambridge Advanced Learner’s Dictionary (2008) menerjemahkan orthodoxy sebagai “the degree to which someone believes in traditional religious or political ideas.

Singkatnya, ortodoksi keislaman adalah keyakinan serta internalisasi nilai-nilai ajaran Islam yang telah mengakar kuat. Nilai ortodoksi keislaman tersebut bisa terlihat dari tradisi sosio-kultural, adat istiadat, seni, bangunan dan lain sebagainya yang ada di masyarakat.

Pengelompokan masyarakat ke dalam tiga kategori, sebagaimana yang diungkapkan oleh Clifford Geertz di atas, dinilai oleh beberapa kalangan masih terlalu umum.

Bahtiar Effendy (1998) misalnya, dalam buku berjudul Islam dan Negara; Transformasi Pemikiran dan Praktek Politik Islam di Indonesia, menyebut bahwa pengelompokan umat Islam Indonesia dalam tiga kategori tersebut dinilai lebih ke bentuk penyederhanaan.

Argumentasinya adalah karena pengelompokan tersebut tidak mempertimbangkan kenyataan bahwa Islam merupakan agama yang multi-interpretatif.

Selain itu juga adanya berbagai bentuk penafsiran dan penakwilan dalam Islam yang begitu dinamis seiring dengan perkembangan jaman.

Terlepas dari pertimbangan itu, saya melihat bahwa model pengelompokan tersebut cukup bisa mewakili komunitas besar (mainstream) pandangan kolektif masyarakat Muslim di Indonesia.

Tidak semata dilihat dari preferensi kekinian yang sering kali sarat dengan kepentingan politik maupun ekonomi jangka pendek.

BACA JUGA: Islam Sebagai Identitas Politik Luar Negeri Indonesia

Identitas Sosio-Kultural

Perpaduan nilai-nilai Islam yang dibawakan oleh Wali Songo berkembang secara serasi dan berjalan beriringan atau “niche formation” dengan tradisi Hindu-Budha, Arab, Tiongkok serta adat-istiadat ketimuran lainnya (Ricklefs, 2001).

Nilai-nilai lokal yang given di masyarakat tetap dilestarikan, tidak dihilangkan oleh para wali tersebut. Hal itu banyak diyakini menjadi cara yang paling tepat untuk menyebarkan nila-nilai kan Islam di seluruh penjuru Nusantara.

Sehingga melalui pendekatan tersebut, masyarakat tidak keberatan menerima Islam.

Ajaran Islam pada akhirnya cepat berkembang menjadi landasan kultural yang mudah diterima oleh masyarakat (given). Yakni, sebuah tradisi sosio-kultural keislaman yang secara umum telah menyatu dengan budaya masyarakat Indonesia maupun di Nusantara pada umumnya.

Berbagai bentuk akulturasi budaya tersebut dapat kita saksikan secara jelas pada seni, bahasa, bangunan maupun tradisi kemasyarakatan lainnya.

Kegiatan seni maupun budaya, peringatan hari besar Islam, shalawatan, tasyakuran, peringatan kematian, kelahiran dan lain sebagainya sangat nampak sebagai hasil perpaduan budaya antara Islam dengan Hindu dan Budha.

Kesenian wayang kulit juga menunjukkan contoh yang jelas dari adanya akulturasi nilai-nilai Islam dengan budaya Hindu dan Budha khususnya di masyarakat Jawa. Cerita pewayangan yang awalnya dari tradisi Hindu, saat ini sangat kental dengan nilai-nilai keislaman.

Dalam menjalankan dakwahnya, Sunan Kalijaga memasukkan nilai-nilai Islam seperti “jamus kalimasada” dalam cerita wayang kulit. Ajian utama tersebut adalah milik dari Pandawa Lima.

Jamus kalimasada itu sendiri merupakan alternatif pelafalan dari “Kalimat Syahadat,” yang menjadi syarat utama bagi seseorang untuk menjadi Muslim.

Beragam lakon (cerita) dalam pewayangan juga kental dengan tradisi keislaman. Beberapa dhalang bahkan banyak yang memiliki latar-belakang keislaman maupun pesantren yang kuat.

Budaya lain seperti gamelan, sekaten, grebeg maulid, bangunan gapura masjid, alun-alun dan lain sebagainya juga dimodifikasi dengan konsep penggabungan tradisi dan kulturasi budaya.

Aspek toleransi terhadap agama dan kepercayaan lain juga sudah dicontohkan oleh Wali Songo jauh sebelum era kemerdekaan.

Sunan Kudus contohnya. Sebagai penghormatan terhadap budaya masyarakat Hindu yang menyucikan sapi, beliau menggantinya dengan kerbau. Hingga saat ini, mayoritas hewan kurban di daerah itu adalah kerbau, bukan sapi.

Di bidang seni, masyarakat Jawa khususnya, familiar dengan lagu “Ilir-Ilir.” Lagu anak-anak tersebut merupakan salah satu karya Sunan Kalijaga dalam mendakwahkan Islam di Pulau Jawa.

Salah satu bagian dari lirik pada lagu tersebut adalah berbunyi “ijo royo-royo.” Warna tersebut kemudian banyak diasosiasikan sebagai warna yang ‘Islami’, yang berarti sangat hijau.

Setelah menelaah keseluruhan lirik lagu tersebut, saya menduga kuat bahwa “ijo royo-royo” diambil dari kata “khidzr” yang terdapat dalam Al-Qur’an.

Khidzr sendiri bermakna hijau. Beliau dikisahkan sebagai mahaguru dari seorang nabi, yakni Nabi Musa as. Sosok yang pandai serta bijaksana dengan bekal pengetahuan “dua samudera.”

Dari segi bangunan, masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal di Jakarta juga merupakan simbol toleransi keterbukaan masyarakat.

Bahkan, masjid yang lokasinya berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta itu didesain oleh Frederich Silaban, seorang arsitek yang beragama Kristen.

Selain itu, internalisasi tradisi keislaman juga sangat nampak pada penggunaan bahasa yang hingga kini masih dipakai. Kosa-kata berbahasa Arab banyak yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia.

Kata seperti mahkamah, majelis permusyawaratan, khasanah, niat, nikah, islah, mufakat, tamat, kalimat, ahad, senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, akbar, niat, tabiat, sahabat, tertib, berkah, barokah, doa, sejarah, khusus, alun-alun, jamak, paham, kalimat, hikmah, hakikat, katam, takwil, wajib, haram, awal, akhir dan lain-lain telah menjadi kosa-kata baku dalam Bahasa Indonesia.

Selain itu juga lahir, batin, badan, pikiran, kursi, makhluk, dunia, akhirat, silaturahim, hakikat, jaman, nasihat, sabar, mati, akbar, waktu, alam, ilmu, mukaddimah, aljabar, manfaat, ikhlas, batal, wakil, khusus, taat, manusia, manfaat, riwayat, almarhum/mah, jenazah, kubur dan lain-lain.

Kalender Hijriyah, yang penghitungannya adalah berdasarkan peredaran bulan, juga banyak memiliki kesamaan dengan kalender Saka. Hal itu berbeda dengan kalender Masehi yang berdasarkan perputaran matahari.

Awal mula kalender Saka adalah dari India. Pada pertengahan abad ke-16 Masehi, kerajaan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Sultan Agung kemudian menggabungkan kalender Saka dengan kalender Hijriyah, hingga lahirlah kalender Jawa sebagaimana yang bisa kita jumpai hari ini.

Dalam menentukan hajat, momen maupun kegiatan tertentu hingga kini masih banyak dijumpai masyarakat Indonesia yang berpedoman pada kalender tersebut.

Perhitungan siklus pertanian, pernikahan, beraktivitas serta tradisi lainnya masih banyak menggunakan kalender Jawa/Hijriyah. Tidak berdasarkan kalender Gregorian maupun Julian sebagaimana yang dijadikan acuan dari penanggalan Masehi.

Selain aspek-aspek di atas, penggunaan kata-kata yang bercirikan Islam, seperti assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh, alhamdulillah serta Insha Allah pada berbagai pidato kenegaraan juga menjadi hal yang lumrah di Indonesia.

Presiden Soekarno yang gemar mengenakan peci atau kopiah khas a la santri pesantren, saat ini bahkan menjadi simbol formal para pejabat di Indonesia.

Foto resmi kenegaraan mulai dari presiden, menteri, pejabat negara hingga duta besar Indonesia hampir semuanya mengenakan peci bagi yang laki-laki.

Kegiatan bernuansa keislaman seperti Mushabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Idul Adha, Idul Fitri, maulid Nabi Muhammad saw, Isra-Mi’raj serta Nudzulul Qur’an juga menjadi agenda kenegaraan rutin di Indonesia.

Dengan demikian, Islam dengan segala atribut identitasnya telah banyak menjadi simbol identitas sosio-kultural di Indonesia.

Ajaran keislamannya yang universal dan tetap terbuka merupakan instrumen utama dari terbentuknya kekuatan norma dan nilai keindonesiaan hingga saat ini.

Melihat aspek historis serta kekuatan ortodoksi keislamannya yang kuat, saya meyakini bahwa Indonesia bukanlah negara sekuler dan tidak akan menjadi sekuler secara konstitusional.

Sebaliknya, Indonesia juga tidak akan menjadi negara Islam, yang dalam hal ini adalah landasan konstitusinya berdasarkan syari’at Islam, sebagaimana nampak seperti di negara-negara kawasan Timur-Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *