Indonesia Siap Menjadi Produsen Vaksin Covid-19 Tingkat Dunia

RUANGNEGERI.com – Perseroan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Bio Farma telah dipercaya oleh Coalition for Epidemic Preparedness Inovation (CEPI) untuk menjadi salah satu produsen yang memproduksi vaksin covid-19 di tingkat global.

Kepercayaan tersebut bukan suatu hal yang mudah didapat. Mengingat proses seleksi yang dilakukan oleh CEPI dikabarkan cukup selektif dalam memilih. Dari sekian banyaknya produsen vaksin yang ada di dunia, Bio Farma termasuk ke dalam salah satu pilihannya.

Melansir dari laman Kompas.com (21/10/2020), Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir mengatakan bahwa kepercayaan itu merupakan kelanjutan dari hasil due diligence pada 15 September 2020.

Di mana, CEPI memberikan penilaian pada aspek sistem produksi vaksin dan mutunya, sistem analitik laboratorium, dan sistem teknologi informasi yang digunakan oleh Bio Farma dalam memproduksi vaksin itu sendiri.

Sebelumnya, laman berita Republika.co.id (19/10/2020) menyebutkan bahwa fasilitas Bio Farma yang akan digunakan oleh CEPI, adalah untuk memproduksi vaksin Covid-19 dengan multi platform.

Yakni sebanyak 100 juta dosis per tahunnya. Rencananya akan dimulai pada akhir kuartal ke empat 2021/kuartal 1 di awal tahun 2022 mendatang. Harga yang ditawarkan rencananya berkisar Rp 200 ribu.

Pada masa yang akan datang, CEPI juga ikut menyambut baik untuk kerja sama strategis jangka panjang dengan Indonesia. Tidak sebatas pandemi Covid-19, melainkan turut dalam pengembangan vaksin pandemi lainnya melalui berbagai teknologi terkini.

Yakni pengembangan berbagai platform teknologi rapid vaccine dan imunoprofilaksis. Keduanya bermanfaat untuk memitigasi munculnya patogen yang tidak diketahui.

Diharapkan, Bio Farma bisa mendapatkan akses terhadap berbagai teknologi pembuatan vaksin. Sehingga akan memperkuat kemandirian vaksin di Indonesia.

CEPI sendiri merupakan lembaga dari koalisi antara pemerintah, swasta dan filantropis, yang berpusat di Norwegia. Bertujuan dalam mengatasi epidemi, dengan cara mempercepat pengebangan vaksinnya yang aman, efektif dan terjangkau yang dapat membantu menahan wabah sedini mungkin.

BACA JUGA: Dampak Covid-19 terhadap Ekosistem Laut

Harga Vaksin Ditentukan Bio Farma

Melansir dari CNN Indonesia (22/10/2020), bahwa meski vaksin dari Bio Farma belum beredar secara massal, namun desas desus harga vaksinnya sudah menimbulkan topik disksusi baru di masyarakat.

Menaggapi hal ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan bila distribusi vaksin corona secara mandiri atau berbayar akan dikelola langsung oleh PT Bio Farma. Nantinya, pemerintah akan memberikan arahan kepada Bio Farma dalam mendistribusikan vaksin virus Covid-19.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menjelaskan soal skema penyebaran vaksin akan dilakukan berdasarkan prioritas, dikarenakan produksi vaksin masih secara bertahap.

Mekanisme prioritas itu mengacu pada orang yang berisiko tinggi terpapar virus seperti dokter, tenaga kesehatan, dan perawat yang setiap hari bersentuhan dengan pasien.

“Nanti ada pertimbangan tersendiri apakah diberikan kepada orang yang berisiko tinggi dan juga diberikan ke daerah,” terang Wiku.

Di sisi lain, Airlangga menyatakan pemerintah juga akan menyiapkan vaksin gratis atau bersubsidi kepada penerima bantuan iuran (PBI) BPJS Kesehatan dan berusia 15-59 tahun.

Pemilihan umur berusia 15-59 tahun untuk penerima target vaksin, sengaja ditentukan oleh pemerintah, dikarenakan selama ini percobaan vaksinasi dilakukan kepada masyarakat berusia 15-59 tahun.

“Kami akan siapkan siapa saja yang dapatkan secara dari pemerintah dan subsidi atau bahkan digratiskan. Itu yang tercatat di BPJS Kesehatan dan usia 15-59 tahun,” jelas Airlangga.

BACA JUGA: Memaknai Diplomasi Alat Kesehatan Korea Selatan terhadap Indonesia

FKM UI Ingatkan Pemerintah untuk Tidak Terburu-terburu

Sampai saat ini, memang belum ada satupun vaksin Covid-19 yang telah lolos uji klinis fase 3 dan disetujui penggunaannya oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono, mengingatkan pemerintah untuk tetap berhati-hati dalam melaksanakan program vaksin virus corona di Indonesia. Bahaya dari efek samping penggunannya belum teruji dari hasil uji klinis.

Pandu menjelaskan, tiga kandidat vaksin yang akan digunakan di Indonesia baru saja selesai melalui tahapan uji klinis fase 3. Namun bukan berarti vaksin covid-19 tersebut aman digunakan.

Sebab, penggunaan di beberapa negara masih berlandaskan pada izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA).

Pandu menambahkan, jika EUA sesungguhnya tidak tepat digunakan sebagai dasar pemakaian vaksin covid-19 di tengah pandemi.

Masa darurat Covid-19 di Indonesia menurutnya masih bisa ditangani dengan kembali pada disiplin protokol kesehatan. Pandu menilai, bahwa pemerintah semestinya tidak terburu-buru dalam membeli vaksin yang belum teruji keamanan dan efektivitasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *