Indonesia dalam Bayang-bayang Resesi Ekonomi, Ini Strategi Pemerintah

RUANGNEGERI.com – Wabah pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir, membuat perekonomian hampir seluruh negara di dunia lumpuh.

Sebagian mencoba untuk terus bangkit, namun tidak sedikit yang gagal melakukan perbaikan dan akhirnya masuk dalam jurang resesi ekonomi.

Tahun 2020 ini bisa dibilang menjadi tahun yang cukup buruk. Dampak dari penyebaran Covid-19 ini tak hanya menjadi beban bagi pemerintah dan pelaku usaha, tetapi juga hampir semua lapisan masyarakat.

BACA JUGA: Melihat Tantangan dan Peluang Diplomasi Ekonomi Indonesia Pasca Covid-19

Resesi Ekonomi dan Dampaknya

Resesi ekonomi dalam pengertiannya berarti kondisi di mana pertumbuhan ekonomi suatu negara atau pemerintahan mengalami penurunan secara berturut-turut.

Hal ini disebabkan oleh banyak faktor. Namun utamanya adalah kegagalan pemerintahan dalam menstabilkan pertumbuhan ekonomi riil. 

Dilansir dari Detik.com (05/08/2020), resesi ekonomi berbeda dengan krisis ekonomi. Jika resesi berarti pertumbuhan ekonomi berada dalam nilai minus atau merosot, maka krisis adalah kondisi sebuah negara yang mengalami kemerosotan ekonomi secara drastis.

Penyebab dari krisis ekonomi adalah fundamental ekonomi yang dimiliki suatu negara terlalu rapuh. Oleh sebab itu, maka kondisi di lapangan terjadi laju inflasi yang sangat tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang macet.

“Kalau resesi itu kan perlambatan ekonomi yang menurun, namun dalam kondisi masih sehat. Sedangkan krisis ekonomi, kondisi ekonomi sudah sakit. Nah dunia usaha akan collapse pada titik ini,” jelas Ekonom Pieter Abdullah.

Resesi ekonomi yang terus berkepanjangan disebut sebagai depresi ekonomi. Dalam titik ini, berarti sebuah negara sudah cukup lama berada dalam pertumbuhan ekonomi yang minus dan tak kunjung menunjukkan perbaikan.

Dampak yang dihasilkan dari sebuah negara yang mengalami resesi ekonomi ini antara lain, turunnya aktivitas perekonomian secara simultan, seperti semakin menipisnya lapangan kerja dan justru lebih banyak terjadi PHK massal. 

Kemudian juga investasi yang lesu atau bahkan tidak ada sama sekali serta dunia usaha tak lagi bisa menghasilkan pendapatan atau keuntungan.

Hingga pada akhirnya angka kemiskinan akan sangat meningkat drastis. Hal terburuk yang bisa terjadi adalah gagalnya sebuah sistem pemerintahan.

BACA JUGA: Globalisasi dan Kekuatan Modernitas

Kapan Suatu Negara Memasuki Resesi?

Adapun sebuah negara disebut telah masuk dalam jurang resesi ekonomi apabila telah mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi secara berturut-turut.

Indikator yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui sebuah negara masuk dalam resesi ekonomi antara lain adalah jumlah angka produksi yang tidak seimbang dengan konsumsi masyarakat. 

Misalnya, jika produksi suatu negara sangat tinggi namun konsumsi masyarakat yang rendah, maka akan terjadi penumpukan persediaan barang. Begitu juga sebaliknya.

Apabila tingkat konsumsi masyarakat yang terlalu tinggi, sementara produksi sangat rendah, maka pemerintah mau tidak mau harus melakukan impor secara besar-besaran. Pada akhirnya juga akan mengganggu pertumbuhan ekonomi.

Indikator selanjutnya bisa diambil dari laporan pertumbuhan ekonomi suatu negara selama dua kuartal berturut-turut.

Jika pada kuartal pertama mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi, dan kemudian berlarut pada kuartal kedua, maka bisa disimpulkan negara tersebut sedang mengalami permasalahan ekonomi, dan statusnya masuk dalam resesi ekonomi.

BACA JUGA: MUI dan BPJPH ‘Berantem,’ Pengusaha Bingung Urus Label Halal

Negara yang Sudah Dinyatakan Resesi

Hampir seluruh negara di dunia saat ini sedang bergelut dan berusaha untuk menstabilkan kondisi perekonomian mereka akibat wabah pandemi.

Mereka yang gagal, maka akan mendapatkan status resesi. Sementara bagi yang masih mampu pun belum tentu bebas dari ancaman resesi. Mengingat kondisi global yang belum benar-benar membaik.

Tercatat, ada sejumlah negara yang disebut telah memasuki jurang resesi ekonomi. Sebagaimana diberitakan di laman Kompas.com (07/08/2020), setidaknya sudah ada 9 negara yang masuk dalam daftar tersebut.

Negara-negara yang dimaksud antara lain Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Filipina.

Amerika Serikat yang menjadi raksasa ekonomi dunia pun tak luput dari resesi ekonomi. Turunnya daya beli masyarakat, investasi, serta belanja pemerintah yang tidak lagi mampu mendukung, mengantarkan negeri Paman Sam itu masuk dalam jurang resesi ekonomi.

Mayoritas negara yang mengalami resesi ekonomi, bahkan merupakan negara-negara Eropa seperti, Jerman, Perancis dan Italia.

Wabah Covid-19 ini telah banyak membuat tingkat konsumsi rumah tangga menurun secara drastis. Selain itu juga karena ketidakmampuan pemerintah dalam meningkatkan ekspornya.

Sementara itu, hal yang unik terjadi pada Singapura. Negara yang memiliki SDA sangat kecil ini mendapatkan pukulan yang cukup telak karena adanya wabah pandemi.

Pasalnya, selama ini Singapura menggantungkan perekonomian dari sisi pariwisata. Kebijakan lock down dan pembatasan traveling, tentu menghancurkan industri pariwisata di negara tersebut.

BACA JUGA: Covid-19, Tiongkok dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia?

Lalu bagaimana dengan Indonesia, apakah kondisi yang dirasakan masyarakat kita saat ini sudah termasuk dalam resesi ekonomi?

Menteri Ekonomi Sri Mulyani mengatakan jika Indonesia saat ini belum masuk dalam resesi ekonomi. 

Padahal, dari catatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama dan kedua tahun 2020 ini berada pada posisi minus. Seperti diketahui pada kuartal pertama pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada posisi minus sebesar 2,41 persen. Kemudian di kuartal kedua kembali minus sebesar 4,19 % secara quarter to quarter (QtQ).

Sri Mulyani memiliki pemahaman yang berbeda terkait penilaian tersebut. “Biasanya dalam resesi itu dilihat year on year untuk dua kuartal berturut-turut. Oleh karenanya dengan teori QtQ itu, Indonesia masih belum bisa dikatakan masuk dalam fase resesi,” terangnya.

Menurut Sri, faktor lain juga perlu dipertimbangkan seperti laju inflasi. Pada bulan Juli sendiri, Indonesia justru mengalami deflasi sebesar 0,1 persen, masih cukup jauh dari kategori inflasi. 

BACA JUGA: Mungkinkah Bekerja dari Rumah Menjadi Tren di Masa Depan?

Tindakan dan Strategi Pemerintah

Jika melihat dari laporan badan statistik yang menyebut turunnya pertumbuhan ekonomi, jumlahnya dianggap masih terlampau jauh dari negara yang sudah masuk dalam jurang resesi. Meski demikian, pemerintah terus waspada dan tidak akan tinggal diam. 

Langkah pertama yang diambil pemerintah adalah mempercepat pemulihan ekonomi. Caranya dengan meningkatkan belanja pemerintah. Sehingga targetnya pada kuartal III atau IV, ekonomi Indonesia diharapkan bisa kembali membaik. 

Sebagai langkah perwujudan, pemerintah telah membentuk Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Tugas yang diemban oleh komite ini adalah melakukan koordinasi dan pelaksanaan kebijakan yang sudah dicanangkan pemerintah dalam rangka memulihkan kondisi ekonomi akibat wabah pandemi.

Kemudian, pemerintah juga akan berfokus pada masalah kesehatan, sehingga bisa menekan penyebaran dan mengakselerasi penyembuhan pasien yang telah terinfeksi. Langkah ini dianggap menjadi dasar untuk kembali menghidupkan roda ekonomi masyarakat, sehingga laju perekonomian bisa kembali bangkit.

Pemerintah juga telah mengalokasikan anggaran dalam jumlah besar yang ditempatkan di sejumlah bank umum mitra dan BPD.

Nantinya, dana tersebut bisa digunakan untuk skenario terburuk jika Indonesia benar-benar telah masuk dalam jurang resesi sebagai stimulus dan belanja negara. 

“Ya pada intinya kita harus punya anggaran yang solid untuk mengantisipasi potensi resesi dunia. Alokasinya pun dibuat dengan upaya untuk mencegah dampak terburuknya,” jelas Bambang Brodjonegoro selaku Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *