Hybrid Learning, Solusi Metode Pembelajaran di Masa Depan?

RUANGNEGERI.com – Dunia pendidikan sepanjang tahun 2020 diwarnai dengan sistem belajar online dari rumah. Model belajar online sangat mungkin masih terus berlanjut hingga tahun depan. Lantas, apakah belajar online atau daring ini efektif ke depannya?

Pertanyaan serupa sering menjadi perbincangan para pendidik, ilmuwan sosial dari sosiolog, ekonom, psikolog serta pemangku kebijakan. Sembari menerka-nerka bagaimana dampak pembelajaran daring apabila diterapkan dalam jangka panjang.

Sepanjang pembelajaran online diberlakukan, banyak sekali kendala yang ditemui. Kondisi psikologis siswa maupun guru juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Dalam pelaksanannya, kendala jaringan serta hal-hal teknis pembelajaran masih banyak terjadi.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa setelah nyaris 2 semester melakukan pembelajaran daring, banyak hal yang ‘hilang’ dalam pendidikan. Terlebih bagi sekolah vokasi, kesehatan, teknik maupun jurusan-jurusan kuliah yang mengharuskan lebih banyak praktek ketimbang teori.

Tak ketinggalan, majalah The Economist edisi November yang bertajuk The World in 2021, juga menyinggung dunia pendidikan di tengah penyebaran wabah Covid-19. Secara umum, fenomena ini mungkin bisa menjadi nostalgia buruk bagi sebagian besar masyarakat, khususnya golongan menengah ke bawah.

Meski demikian, pandemi Covid-19 ini telah nyata mengubah aktivitas dan pola kerja masyarakat dunia secara signifikan, termasuk dalam urusan pendidikan.

Melansir dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, model pembelajaran untuk tahun ajaran 2020/21, baik pendidikan formal maupun informal, rencananya akan dilakukan dengan cara kombinasi antara sistem tatap muka dengan online.

Baca juga:

Pengertian Hybrid Learning

Model pembelajaran campuran tersebut dikenal dengan istilah hybrid learning. Pengertian hybrid learning adalah sebuah model pembelajaran dengan sistem belajar yang mengkombinasikan antara pertemuan tatap muka selama beberapa jam, dengan pembelajaran daring.

Perbedaannya dengan model blended learning adalah terletak pada interaksinya. Dimana blended learning hanya fokus dengan jarak antara guru dengan pengajar saja, namun tidak menggabungkannya dengan penggunaan teknolologi pembelajaran jarak jauh.

Hybrid learning rencanya tidak hanya dilakukan untuk pendidikan dasar saja, namun juga hingga pendidikan tinggi. Tahun ajaran 2020/21 mungin saja menjadi momentum revolusi sistem pembelajaran baru di Indonesia. Kegiatan ekstrakulikuler di sekolah kemungkinan besar akan ditiadakan, namun proses pembelajaran harus tetap berjalan.

Melansir dari Kompas.com (21/12/2020), pelaksanan dari hybrid learning ini dilakukan secara bergantian. Misalnya saja, dari 32 orang dibagi menjadi dua kelompok, yang masing-masing berjumlah 16 orang. Sejumlah 16 orang itu mengikuti pertemuan tatap muka, sementara 16 orang lainnya belajar secata daring.

Pembelajaran tatap muka ini bisa juga diberikan khusus bagi peserta didik yang kesulitan dengan model belajar online. Orang tua diperbolehkan memilih model belajar mana yang sekiranya cocok. Jadwalnya disesuaikan bersama dengan para guru.

Baca juga:

Dinilai Sebagai Model Pembelajaran Ideal di Berbagai Negara

Pemilihan metode hybrid learning ini dinilai ideal karena dapat menjadi penyeimbang yang baik antara pendidikan dalam pembelajaran konvensional dengan sistem online. Di AS dikenal dengan istilah Edtech.

Edtech menjadi bagian penting dalam proses pengajaran karena menciptakan pengalaman belajar secara lebih spesifik dan memenuhi kebutuhan pendidikan. Terlebih lagi, pelaksanaan sistem pengajaran dilakukan dalam kelompok kecil, misalnya 1:1, 1:5 atau 1:10 untuk perbandingan guru dengan jumlah peserta didiknya.

Dengan jumlah tersebut, peserta didik akan lebih mudah terhubung dengan guru/dosen untuk menerima materi belajar, konten, tes akademik hingga evaluasi.

Laman media CRN India (18/12/2020), menyebutkan bahwa hybrid learning ini dianggap menjadi kompromi terbaik dalam model pembelajaran saat ini. Sebab, keseimbangan pembelajaran tatap muka dan daring tetap terjaga. Dengan begitu, guru/dosen masih tetap berinteraksi dengan peserta didiknya meski intensitasnya lebih dikurangi.

Melalui sistem pembelajaran hybrid, para guru/dosen dan peserta didiknya tetap dapat berinteraksi dengan baik. Arah pembelajaran memang lebih kompleks karena mengkombinasikan fasilitas digital, internet, video, konten dan interaksi sosial.

Meski demikian, hybrid learning ini sangat potensial dilakukan untuk sistem belajar formal dalam jangka panjang.

Sistem hybrid ini telah diterapkan di salah satu universitas di Inggris semenjak merebaknya Covid-19 awal tahun 2020 lalu. Dr Gareth Healey, seorang pengajar senior di Fakultas Kedokteran Universitas Swansea, membagikan pengalamannya menggunakan teknologi kolaboratif untuk penelitian dan pengembangan bisnis di kelas.

Ia mennyebutkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran dilakukan secara kolaborasi dengan jaringan bisnis kampusnya untuk mengembangkan penelitian bidang kesehatan.

“Di luar pengajaran, kami sudah memanfaatkan teknologi kolaboratif untuk memperluas jaringan bisnis universitas kami dengan menggabungkan fasilitas penelitianuntuk mengembangkan produk medis dan farmasi baru yang penting.”

“Sekarang kami mencari cara untuk menghadirkan teknologi ini ke dalam kelas, menghubungkan siswa kami dengan pakar global di bidangnya, dan memanfaatkan fitur seperti polling langsung dan pelacakan kehadiran untuk membantu kami mendukung mereka,” ujar Healey.

Baca juga:

Perlu Investasi Dana yang Besar

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat juga masih harus menyesuaikan berbagai model terbaik dalam aspek pendidikan semenjak merebaknya virus Corona. Pandemi yang belum juga usia seolah membuka mata untuk terus mengembangkan pembelajaran hybrid.

Investasi besar-besaran di dunia pendidikan menjadi hal yang tidak bisa dihindari ke depannya. World Economic Forum, sebuah organisasi internasional yang berbasis di Jenewa, Swiss, mencatat bahwa di tahun 2019, investasi untuk pengembangan teknologi dalam bidang pendidikan mencapai AS $ 18,66 miliar.

Jumlah tersebut mengalami lonjakan signifikan di tahun 2020. Hingga tahun 2025, diperkirankan alokasi dana yang digelontorkan untuk investasi pendidikan oleh seluruh negara di dunia mencapai angka $ 350 miliar.

Dana tersebut antara lain dialokasikan untuk pengembangan aplikasi, tutorial virtual, video konferensi serta berbagai tools online lainnya.

Tantangan kedepannya adalah masih banyaknya masyarakat yang masih terkendala teknis maupun finansial, termasuk di Indonesia. Tingkat efektifitas dan unsur ‘kemanusiaan’ dalam hybrid learning tetap harus diperhatikan.

Mengingat pendidikan adalah hak asasi manusia yang harus dipenuhi oleh negara, maka tugas pemerintah adalah menjamin terpenuhinya hak tersebut secara merata. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran hendaknya tetap memperhatikan nilai-nilai dasar dari tujuan pembelajaran itu sendiri.

Rosalina Pertiwi Gultom

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang.

Satu tanggapan untuk “Hybrid Learning, Solusi Metode Pembelajaran di Masa Depan?

  • 27 Desember 2020 pada 10:58 PM
    Permalink

    SEVIMA.CO.ID Saat ini program e-learning sedang menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan, seiring bertambah canggihnya teknologi akan mempengaruhi metode pembelajaran dan akan semakin cangih pula.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *