Grebeg Maulud: Menjaga Tradisi dalam Perayaan Maulid Nabi

RUANGNEGERI.com – Grebeg Maulud merupakan tradisi yang digunakan untuk memperingati kelahiran nabi Muhammad saw yang diadakan setiap tanggal 12 pada Bulan Mulud (Rabiul Awwal). Tradisi ini adalah kegiatan yang telah lama adanya.

Awal terbentuknya tak lepas dari kedatangan para pedagang dan ulama Islam dalam menyebarkan agama Islam di bumi Mataram. Proses Islamisasi di Nusantara dilakukan oleh para penyiar agama dan para pedagang dilakukan dengan cara yang halus, yakni dengan mamasukkan nilai-nilai Islam dalam dimensi kebudayaan masyarakat yang telah ada sebelumnya.

Ahmad Adib & Kundharu Saddhono (2018) dalam tulisan berjudul Paradigma Budaya Islam-Jawa dalam Grebeg Maulud Keraton Surakarta, menyebtukan bahwa proses tersebut dilakukan karena masa itu telah ada agama Hindu, dan Budha. Selain itu juga terdapat aliran kepercayaan Dinamisme serta Animisme.

Cara ini memang terkesan akan terlihat agama Islam tidak murni lagi karena adanya akulturasi kebudayaan. Namun demikian, cara ini dilakukan agar masyarakat mudah menerima ajaran baru dengan baik.

Di Jawa khususnya Kasunanan Surakarta, Islam banyak tercampur dengan ajaran sebelumnya seperti Hindu dan Budha. Percampuran tersebut banyak dikenal dengan Islam Kejawen.

Islam Kejawen ini merupakan agama Islam yang telah bercampur dengan konsep-konsep Hindu-Budha. Ciri khas yang paling mudah kita saksikan adalah adanya unsur mistis serta ritual dan tradisi yang berasal dari generasi sebelumnya.

Baca juga: Gunung Merapi: Mitologi Imajiner dan Letusan yang Mengubah Peradaban Jawa

Sejarah Grebeg Maulud

Istilah grebeg atau garebeg berasal dari kata gumrebeg, yang berarti memiliki arti luas keramaian atau perayaan. Grebeg Maulud dilaksanakan pada tanggal 12 Bulan Maulud, tujuannya untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw.

M.B. Rahimsyah (1997) dalam bukunya yang berjudul Biografi & Legenda Wali Sanga dan Para Ulama Penerus Perjuangannya, menguraikan bahwa setelah berdirinya kerajaan Demak dan Masjid Agung Demak, Sunan Kalijaga dengan para wali lainnya menyebarkan Islam dengan cara menerapkan kesenian yang sudah mendarah daging di masyarakat Jawa, seperti Karawitan.

Bertempat di pelataran Masjid Agung atas izin dari Sultan, para wali melakukan dakwah agama setelah bunyi gamelan berhenti. Bagi mereka yang tertarik dan bersedia memeluk agama baru (Islam), oleh para wali ditasbihkan dengan membaca dua kalimah syahadat serta diajarkan tuntunan praktik berwudlu.

Strategi yang diterapkan Sunan Kalijaga pun berhasil menarik perhatian masyarakat Jawa untuk datang ke Masjid dan mengucapkan ikrar syahadat sebagai syarat awal memeluk Islam.

Proses Islamisasi di tanah Jawa terus dilakukan salah satunya dengan cara ini. Bahkan tradisi Grebeg Maulud hingga kini tetap dilaksanakan oleh kerajaan penerus Mataram, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Baca juga: Suku Tengger, Kearifan Lokal di Kaki Gunung Bromo yang Menawan Hati Wisatawan

Grebeg Maulud di Kasunanan Surakarta

Puncak dari pelaksanaan Grebeg Maulud adalah dikeluarkannya gunungan yang berisi hasil bumi, yakni berupa sayuran hingga buah-buahan. Semua itu telah didoakan oleh ulama kraton yang kemudian dibawa ke halaman masjid Agung di dekat kraton.

Masyarakat percaya bahwa dengan mendapat hasil bumi yang ada pada gunungan, mereka akan memperoleh kemakmuran dan kebahagiaan.

Merinci perkembangan pelaksanaan grebeg maulud di Surakarta yang ditulis Ahmad Adib & Kundharu Saddhono (2018), Grebeg Maulud memiliki dua periode pelaksanaan.

1. Periode Normatif Mutlak (1749 – 1939)

Masa ini berada pada masa pemerintahan Paku Buwono III sampai Paku Buwono X. Dimana dalam pelaksanaannya, upacara ini bersifat normatif mutlak. Sebab, sunan pada masa ini masih memiliki kekuasaan penuh.

Selain itu, sunan juga sekaligus menjadi pemimpin agama. Sehingga upacara ini dapat dilaksanakan dengan meriah yang jumlahnya mencapai 24 gunungan besar (lanang wadon, laki-laki dan perempuan), 24 gunungan anakan (lanang wadon), dan 24 ancok cantoko (lanang wadon) dengan diiringi para pengikut kebesaran.

2. Periode Pelestarian budaya (1939 – Sekarang)

Periode ini dimulai sejak pemerintahan PB XI sampai sekarang. Kraton Surakarta sendiri mengalami berbagai macam pergeseran kekuasaan, sehingga membuat pelaksanaan Grebeg Maulud melihat kondisi kemampuan dari pihak kraton.

Seluruh rangkaian upacara Garebeg Maulud merupakan satu kesatuan dari sekumpulanan beberapa unsur yang masing-masing mengandung makna dan tuntunan hidup manusia dalam kehidupan beragama (ibadah) serta bermasyarakat (sosial).

Baca juga: Budaya Pandalungan: Akulturasi Ragam Etnis di Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur

Adapun beberapa unsur yang terkandung dalam Gunungan Garebeg Maulud dikaji dari aspek kesenirupaan adalah sebagai berikut:

Pertama, Gunungan Lanang (laki-laki)

Gunungan lanang berbentuk lingga yang tinggi. Hal ini melambangkan bahwa laki-laki itu mempunyai tanggung jawab yang tinggi (besar) terhadap kehidupan rumah tangganya.

Pada saat prosesi, gunungan ini berada di depan sebagai lambang bahwa laki-laki adalah pemimpin dalam rumah tangga yang sekaligus menjadi pelindung keluarganya.

Kedua, Gunungan Wadon (perempuan)

Gunungan wadon berbentuk lebih pendek seperti Yoni. Ini melambangkan ciri khas seorang wanita yang dalam prosesi upacara berada di belakang gunungan lanang dan gunungan anakan.

Gunungan wadon ini berfungsi sebagai pengawal gunungan anakan. Hal ini merupakan simbol seorang istri yang bertugas sebagai pengasuh utama anak dan menjaga rumah tangganya.

Baca juga: Tradisi Unik Suku Sasak di Lombok, ‘Menculik’ Gadis yang Hendak Dinikahi

Ketiga, Gunungan Anakan

Gunungan anakan (saradan) ini selalu berada di antara gunungan lanang dan gunungan wadon. Hal ini sesuai dengan jumlah Gunungan Besar. Gunungaan anakan mempunyai makna bahwa anak dari sebuah rumah tangga sudah barang tentu menjadi harapan keluarganya.

Anak diharapkan dapat menyambung sejarah keluarga atau dapat “mikul dhuwur mendhem jero.” Hal itu bermakna mengagungkan nama, orang tua atau dalam Islam dikenal istilah anak yang saleh yang mau mendoakan kedua orang tuanya.

Keempat, Gunungan Ancak-Cantoko

Ancak cantoko merupakan wujud dari selamatan kecil yang berupa tumpengan (gunungan kecil) yang jumlahnya tidak ditentukan, biasanya 24 buah.

Gunungan kecil ini dimaksudkan sebagai sedekah para abdi dalem dan krabat kraton yang dikeluarkan oleh Raja karena mereka ada di dalam lindungannya.

lsi gunungan ancak-cantoko melambangkan kehidupan yang makmur. Yakni tercukupi kebutuhan jasmani dan rohani, terbinanya kehidupan beragama dan tersedianya kebutuhan hidup (sandang, pangan dan papan).

Kelima, Canthang Balung

Canthang balung merupakan pengiring prosesi selamatan Gunungan Garebeg Maulud. Hal itu merupakan perwujudan dari sepasang manusia (laki-laki dan perempuan) yang dibuat dengan bentuk dan gaya yang aneh, lucu dan membadut. Sehingga apabila orang melihatnya akan merasa geli, risi dan jijik.

Pada waktu prosesi, kedua tokoh ini berjalan mendekat dan menjauh dari kerumunan penonton.

Baca juga: Suku Osing, Keunikan Adat dan Tradisi Asli Banyuwangi

Grebeg Maulud Sebagai Sarana Pendekatan ke Masyarakat

Perayaan Grebeg Maulud memiliki beberapa arti penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Dalam arti religius, Sunan memiliki kewajiban untuk menyiarkan agama Islam di dalam kerajaannya. Sebab, beliau memiliki peran sebagai pemimpin agama atau Sayyidina Panatagama Khalifatullah.

Secara historis adalah terkait dengan sunan yang memiliki kewajiban untuk meneruskan tradisi warisan raja-raja Mataram Islam sebelumnya. Adapun secara kultural adalah memiliki arti kedudukan sunan sebagai pemimpin Jawa yang mewarisi tradisi kebudayaan para leluhur dan harus melestarikannya.

Grebeg Maulud bagi masyarakat sekitar kraton, selain untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw juga sebagai sarana hiburan rakyat dengan kesenian gamelan. Perayaan ini juga turut membangkitkan perekonomian warga sekitar dengan dibukanya stan-stan untuk warga yang hendak berjualan di sekitar kraton.

Baca juga: Menelisik Berbagai Tradisi Pingitan di Indonesia

Meminjam istilah Abdul Munir Mulkhan (2007) dalam bukunya yang berjudul Manusia Al-Quran, upacara Grebeg Maulid merupakan upaya manusia memahami, menerapkan ajaran serta mencari dan menghampiri Tuhan.

Kebudayaan merupakan sintesis segala realitas sintetis ketuhanan dan kemanusiaan. Yakni merupakan sebuah ritus-ritus yang hidup dan aktual di mana manusia hadir di dalam perjamuan kepada Allah saw, Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan begitu, maka Tuhan pun hadir dalam kemanusiaan aktual. Lewat tradisi dan kebudayaan, masyarakat mencari eksistensi dirinya dalam berhubungan dengan-Nya. Manusia menempatkan kebudayaan dan kearifan lokal sebagai lokus iman dalam bercengkrama dengan Tuhan.

Dengan begitu, maka terciptalah aktualisasi kebudayaan yang tidak hanya mencerminkan sinkritisme atau akulturisme, melainkan juga penuh dengan nuansa kesakralan, keislaman serta keimanan.

Keberadaan Grebeg Maulud hingga kini masih diadakan sebagai sarana acara ritual. Satu keindahan budaya warisan Nusantara yang harus terus dilestarikan.

Febi Anggono Suryo

Mahasiswa Jurusan Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *