Debus Surosowan: Ritual Keagamaan dan Tradisi di Banten

RUANGNEGERI.com – Setiap daerah di Indonesia mempunyai budaya yang menggambarkan kekhasan daerah masing-masing termasuk juga di dalamnya Banten.

Daerah ini berada paling barat ujung pulau Jawa. Dikenal juga sebagai kota santri dan kota jawara atau pendekar. Sejarah mencatat, pada awal abad 19, Banten dijadikan rujukan oleh para ulama di Nusantara, bahkan di Asia Tenggara khususnya terkait ilmu keislaman.

Ragam seni pertunjukan kesenian rakyat Banten, pada umumnya berkembang secara turun-temurun. Hal itu tidak terlepas dari nafas keagamaan serta dalam perjalanannya tidak terlepas dari pengaruh agama Islam, maupun juga agama lain.

Kesenian rakyat yang berkembang di Banten hingga sampai sekarang sangatlah beragam. Satu di antaranya yang sangat fenomenal sampai kini adalah seni Debus.

Menurut Hasani Ahmad Said (216) dalam artikelnya Islam dan Budaya di Banten: Menelisik Tradisi Debus dan Maulid, menyebutkan bahwa Debus adalah seni pertunjukan yang memperlihatkan permainan kekebalan tubuh.

Seni ini merupakan salah satu contoh nyata pertautan antara tradisi lokal Banten dengan Islam. Pertautan ini tidak hanya menimbulkan kesepahaman tetapi juga perselilihan dan pertentangan di kalangan umat

Debus menjadi salah satu bagian ragam seni budaya masyarakat Banten, sehingga kesenian ini banyak digemari oleh masyarakat sebagai hiburan yang langka dan menarik di Banten. Salah satu kesenian yang sangat popular di Banten adalah Seni Debus Surosowan Banten di Kecamatan Walantaka, Serang.

Debus Surosowan sudah berkembang dari abad ke-16 sejak pertama kali debus Surosowan lahir di tanah Banten. Padepokan ini sempat berhenti beraktivitas sampai pada akhirnya kembali dibangkitkan oleh kakek dari Elang Satria Negara selaku pemimpin Padepokan Surosowan saat ini pada awal abad ke 20.

Ada beberapa perbedaan antara Debus Surosowan dengan padepokan lainnya. Pertama, Debus di padepokan ini merupakan gabungan antara silat dan debus. Di mana ilmu bela diri silat, berasal dari kata silahturahmi.

Padepokan ini memiliki visi bahwa seni bela diri dan pertunjukkan ini adalah sebagai ajang silahturahmi antara tiap-tiap perguruan / padepokan. Bukan masalah pamer kekuatan atau kekebalan, namun lebih mengutamakan menjalin tali persaudaraan dan kekeluargaan dengan masyarakat di luar.

BACA JUGA: Suku Osing, Keunikan Adat dan Tradisi Asli Banyuwangi

Latar Belakang Debus Surosowan

Asal-usul debus tidak dapat dipisahkan dari penyebaran agama Islam di Indonesia. Debus tumbuh di Banten sebagai alat untuk menyebarkan ajaran Islam di daerah yang masih menganut ajaran Hindu dan Budha.

Pada Masa Kesultanan Sultan Ageng Tirtayasa sekitar abad ke-17, debus difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajahan Belanda. Oleh karena itu, Kesenian ini lebih bersifat kesenian bela diri  dan memupuk keimanan kepada Tuhan yang Maha Esa.

Pada masa lalu, pertunjukkan debus dilaksanakan di suatu ruangan di dalam Masjid Agung Banten yang disebut “Gedung Tiyamah”, yaitu sebuah banguanan tak jauh dari Masjid Agung Banten.

Selama pertunjukan Debus berlangsung, biasanya dipimpin oleh seorang atau dua orang guru yang disebut Khalifah atau Syekh yang bertanggung jawab terhadap kelancaran permainan dan menjaga keselmatan para pemain Debus.

Pada mulanya, permainan ini hanya dimainkan oleh kaum Adam, namun saat ini tidak jarang diminati pula oleh kaum perempuan.

Menurut Sandjin Aminuddin, seorang tokoh Banten, mengungkapkan bahwa pengaruh seni Debus terhadap masyarakat cukup luas, antara lain sebagai berikut:

  1. Kesenian Debus bergerak dibidang kekebalan. Kekebalan identik dengan bela diri. Dengan demikian kesenian ini mudah dicintai.
  2. Masyarakat Banten umunya fanatic agama, sehingga hanya kesenian yang bermanfaat bagi agamalh yang bias berkembang di masyarakat. Kesenian Debus selalu membawakan dzikiran yang memuji dan mengagungkan Allah swt dan Rasulullah saw.
  3. Kesenian Debus merupakan kesenian yang langka dan digemari oleh masyarakat sebagai hiburan rakyat.
  4. Para Alim Ulama menganggap kesenian Debus tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

BACA JUGA: Masjid Sigi Lamo dan Tradisi Islam di Ternate

Perkembangan dan Fungsi Debus Surosowan

Debus pada masa-masa awal perkembangannya dalam tradisi tarekat memiliki fungsi dan tujuan yang sangat berbeda dengan keadaan sekarang ini. Debus yang berkembang sekarang ini lebih merupakan suatu percikan dari tradisi tarekat yang telah mengalami pendangkalan, baik dalam fungsi mau pun tujuan.

Oleh karena itu tidak aneh kalau dalam permainan debus saat ini bercampur dengan sumber-sumber lain. Terutama dari pra-Islam, yang terkadang sangat bertentangan dengan tujuan dan fungsi tarekat pada tahap-tahap awal perkembangannya.

Tarekat yang telah mengalami “pribumisasi” tersebut sering kali disertai dengan praktik-praktik magis. Banten tercatat merupakan daerah yang mempunyai reputasi tentang hal itu.

Tidak sedikit orang di Banten yang memanfaatkan reputasi ini dengan bertindak sebagai guru ilmu kesaktian, juru ramal, pengusir setan, pengendali roh, pelancar usaha untuk mendapatkan kekayaan, kedudukan dan perlindungan supranatural serta kedamaian jiwa.

Sekarang ini, mayoritas yang memiliki keahlian magis di Banten sangat erat kaitannya dengan keahlian bermain silat. Yang memiliki keahlian seperti itu sekarang ini adalah para jawara.

Permainan debus yang mengandalkan pada kekebalan tubuh terhadap benda-benda tajam maupun api merupakan bagian yang mencolok dari sinkretisme antara amalan tarekat dengan kepercayaan magis.

Para guru debus pada umumnya memakai semua jenis praktek jenis magis baik yang diambil dari amalan tarekat mau pun yang diambil dari tradisi lokal.

BACA JUGA: Tradisi Unik Suku Sasak di Lombok, ‘Menculik’ Gadis yang Hendak Dinikahi

Percampuran Tradisi dalam Debus

Teknik permainan debus merupakan campuran dari tradisi Islam dan tradisi lokal. Bacaan-bacaan saktinya berasal dari doa-doa yang bersumber dari tradisi Islam yang berbahasa Arab dan bacaan yang berbahasa Jawa maupun Sunda.

1. Tradisi Islam

Istilah tradisi Islam dalam tulisan ini tidak secara langsung menunjukan bahwa hal tersebut sesuai dengan ajaran atau nilai-nilai Islam, apalagi kalau itu dinilai secara teologis atau fiqh.

Meskipun itu tetap dinamakan tradisi Islam, tetapi sering di dalamnya terjadi kontroversi antara yang setuju bahwa hal tersebut sesuai dengan nilai-nilai Islam ada juga yang menolaknya.

2. Wirid

Wirid berasal dari kata bahasa Arab, wird, bentuk pluralnya aurad. Wirid merupakan doa-doa pendek atau formula-formula untuk memuja Allah swt dan/atau memuji Nabi Muhamad saw.

Pembacaanya dilakukan dalam hitungan tertentu serta pada waktu-waktu yang telah ditentukan dan dipercayai akan memperoleh keajaiban atau paling tidak secara psikologis akan mendatangkan manfaat.

3. Tawasul dan Rabithah Syaikh

Dalam melakukan amalan debus pun, wasilah merupakan suatu keharusan. Praktek wasilah yang dilakukan dalam amalan debus pun persis sama dengan yang dilakukan pada tradisi tarekat.

Pembacaan wasilah ini selain berfungsi untuk menunjukan silsilah keilmuan, juga merupakan upaya untuk meminta pertolongan kepada para syaikh terdahulu untuk disampaikan maksudnya kepada Allah swt.

4. Tradisi Lokal

Istilah tradisi lokal pada tulisan ini merujuk pada praktek-praktek yang berasal dari sumber-sumber lokal, terutama berasal dari kepercayaan masyarakat sebelum Islam dipeluk oleh mayoritas masyarakaat Banten.

Praktek tersebut tidak dijumpai dalam ajaran Islam atau tradisi masyarakat muslim di belahan dunia lain.

5. Jangjawokan

Selain wirid yang sering diamalkan oleh para pemain, bacaan lainnya adalah jangjawokan. Jangjawokan merupakan bacaan-bacaan yang dipercayai memiliki kekuatan luar biasa apa bila diamalkan dengan penuh kesungguhan dan diikuti segala ketentuannya.

Berbeda dengan wirid yang berbahasa Arab, jangjawokan mempergunakan bahasa Jawa atau Sunda. Maknanya juga sering kali sudah tidak dapat dipahami sekalipun oleh orang yang mengamalkannya sendiri.

6. Musik Pengiring

Setiap permainan debus menurut Sandjin Aminudin dalam tulisannya Kesenian Rakyat Banten (1997) diiringi dengan alunan musik tradisional, yang dikenal waditra.

Musik ini berfungsi untuk atraksi permainan. Alunan musik biasanya disesuaikan dengan atraksi yang sedang berlangsung. Jumlah pemain musik ini sekitar lima orang, sesuai dengan alat-alat musik yang dipergunakan saat pertunjukan berlangsung, yakni yang berasal peralatan musik tradisional Banten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *