Mengenal Cryptocurrency dan Bitcoin, Instrumen Investasi di Era Digital

RUANGNEGERI.com – Hadirnya internet secara masif selama dua dekade ini telah menghadirkan banyak inovasi, termasuk ke ranah keuangan digital. Produk keuangan tersebut dikenal dengan istilah cryptocurrency atau mata uang kripto.

Melansir dari laman Investopedia.com, disebutkan bahwa pengertian dari cryptocurrency adalah sebuah media pertukaran uang secara digital/virtual melalui kriptografi. Kriptografi ini bersifat rahasia.

Pengoperasian dilakukan secara terpusat melalui sebuah jaringan public ledger (buku besar) yang dikenal sebagai teknologi blockchain. Modelnya berupa semacam ‘token virtual.’

Token ini nantinya memungkin untuk melakukan berbagai transaksi keuangan, verifikasi transfer aset maupun sebagai unit tambahan nilai. Mata uang kripto yang banyak dikenal saat ini adalah Bitcoin.

Beberapa jenis uang kripto lainnya ada Ethereum, Ripple, Litecoin, Dogecoin, Mrai dan Dashcoin. Bitcoin pertama kali dirilis pada awal tahun 2009 lalu, sesaat setelah terjadinya krisis kredit macet perumahan (subprime mortgage) di Amerika Serikat.

Awal kemunculannya nampak kurang banyak menarik perhatian, namun sangat berbeda dengan sekarang. Bahkan, kini banyak orang yang berharap bisa menjadi kaya raya keesokan harinya dengan membeli Bitcoin. 

Baca juga: Indonesia Bentuk Sovereign Wealth Fund, Apa Manfaatnya?

Cryptocurrency dan Bitcoin di Indonesia

Transformasi di era digital yang sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir telah membuat cryptocurrency cepat populer di berbagai belahan dunia dalam waktu singkat, termasuk juga di Indonesia.

Euforia dari penggunaan cryptocurrency ternyata semakin meningkat di Indonesia. Melansir dari Asiatimes.com (25/03/2020), sebanyak 11 persen dari total jumlah penduduk Indonesia telah memiliki mata uang kripto.

Itu artinya bahwa dengan jumlah penduduk yang berkisar 270 juta jiwa, maka kurang lebih terdapat 30 juta orang Indonesia telah menggunakan cryprocurrency.

Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat ke depannya. Hingga tahun 2020, Indonesia tercatat menempati posisi nomor 6 terbanyak pengguna cryptocurrency setelah Filipina, Brazil, Afrika Selatan, Thailand dan Nigeria.

Baca juga: Investasi yang Cocok Bagi Milenial, Ini 5 Pilihannya

Bitcoin Bukan Alat Pembayaran yang Sah

Melansir dari CNBC Indonesia (22/01/2021), Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) saai ini telah mengakui sebanyak 229 jenis cryptocurrency. Bappebti juga mengizinkan perdagangan mata uang kripto ini di bursa berjangka.

“Dengan terbitnya peraturan Bappebti (Perba) tersebut, diharapkan perdagangan fisik aset kripto di Indonesia mampu memberikan kepastian hukum sekaligus perlindungan bagi masyarakat yang bertransaksi fisik aset kripto di Indonesia,” ungkap Kepala Bappebti, Sidharta Utama. 

Meski keberadaan cryptocurrency sudah dinyatakan legal, namun Bitcoin bukan merupakan alat pembayaran. Pemerintah dan Bank Indonesia telah melarang Bitcoin menjadi alat pembayaran yang sah, sebagaimana uang kertas dan logam.

Bitcoin sebagai cryptocurrency baru bisa diperdagangkan di Bursa Berjangka saja. Hal itu sesuai dengan Peraturan Bappebti No 5/2019 tentang ketentuan teknis penyelenggaraan pasar fisik aset kripto. Jadi, Bitcoin bisa dikategorikan sebagai futures.

Baca juga: Inilah Tips Investasi Tanah untuk Milenial dan Pemula

Investasi Cryptocurrency dan Bitcoin

Bagi para investor yang berminat untuk investasi di cryptocurrency, penggunaannya tidak perlu memiliki identitas seperti di bank pada umumnya. Pencatatan ke dalam buku besar (public ledger) digunakan untuk mencatat transaksi oleh penggunanya.

Nilainya sesuai dengan saldo yang dimiliki di dalam buku besar Bitcoin, yakni teknologi blockchain. Ketika terdapat sebuah transaksi, miner (orang yang melakukan mining) akan menggunakan teknik komputasi yang rumit untuk memasukkan transaksi tersebut ke dalam public ledger.

Sehingga tidak sembarang orang bisa melakukan mining. Nilainya akan sesuai dengan transaksi meskipun jaringan public ledger ini dapat diakses oleh semua orang.

Seperti rekening keuangan pada umumnya, cryptocurrency juga tersedia, yakni wallet. Di sini terdapat kunci keamanan, atau di Bitcoin disebut sebagai seed yang berbentuk tanda tangan kriptografi. 

Baca juga: Raih Keuntungan Investasi Emas Sejak Kuliah, Begini Caranya

Investasi Bitcoin

Selama pandemi, banyak orang yang memperluas investasi melalui Bitcoin. Hal itu banyak digunakan sebagai bentuk diversifikasi investasi atau membagi ke beberapa jenis instrumen investasi yang berbeda.

Hal itu diungkap oleh Fitri Hastuti, seorang dosen di Departemen Ilmu Ekonomi sekaligus Wakil Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad Bandung, saat menjelaskan perihal investasi cryptocurrency dan Bitcoin yang mulai marak terjadi di Indonesia.

“Diversifikasi itu bisa dianalogikan seperti telur. Jangan taruh telur dalam satu keranjang, karena ketika jatuh semua telur akan hancur. Maka taruhlah telur dalam beberapa keranjang, agar ketika sebagian jatuh masih ada sebagian yang utuh.”

Selain itu, ia juga mewanti-wanti pentingnya diversifiksi kepada para investor. “Jangan simpan (uang) hanya di deposito saja tapi juga di saham, obligasi, rumah, dan investasi lainnya seperti cryptocurrency,” ungkapnya. 

Namun demikian, dalam berinvestasi juga perlu diingat mengenai risiko yang akan didapat. Konsep high return high risk (untung besar risiko besar) perlu dipertimbangkan. Cryptocurrency juga tidak bisa memberi informasi terkait laporan keuangannya. Hal itu berbeda dengan investasi saham maupun obligasi yang sudah tertera di Bursa Efek Indonesia.

Terkait fenomena uang digital ini, majalah The Economist edisi 9 Januari 2021, menyebutkan bahwa cryptocurrency dengan merk Bitcoin mungkin masih menyuguhkan harga tinggi. Per tanggal 23 Januari 2021 misalnya, harga 1 Bitcoin adalah senilai AS $32.428,20 (atau setara dengan Rp457.172.763,60). 

Meskipun harganya tinggi, namun hal itu dinilai tidak akan mampu meningkatkan keuangan global karena harganya yang sangat fluktuatif. Sehingga hampir tidak bisa diandalkan sebagai tempat untuk ‘berlindung’. 

Ni Luh Lovenila Sari Dewi

Mahasiswi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *