Coronavirus Dapat Menular Lewat Plasenta

RUANGNEGERI.com – Merebaknya wabah Coronavirus atau Covid-19 telah menyebabkan kekhawatiran bagi banyak orang di seluruh dunia. Khususnya di kalangan orang-orang dalam populasi yang rentan, seperti kelainan imun, lanjut usia dan perempuan yang sedang mengandung.

Dalam satu waktu, wanita hamil mengkhawatirkan segala kemungkinan terjadi serta konsekuensi bagi diri mereka dan bayinya. Membayangkan menjadi wanita yang sedang mengandung di masa pandemi seperti ini menimbulkan rasa kecemasan tersendiri.

Di minggu-minggu awal kelahiran yang biasanya disambut dengan sebuah perayaan kegembiraan dengan keluarga dan orang-orang terkasih, kini harus memperhitungkan adanya isolasi dan jarak sosial.

Kekhawatiran yang pada akhirnya menimbulkan pertanyaan bagi para wanita yang tengah mengandung yakni, apakah Covid-19 dapat membahayakan janin yang berada di dalam Rahim?

Dalam hal ini, studi kasus telah banyak dilakukan dan untuk sementara data menunjukkan bahwa orang hamil tampaknya tidak berisiko lebih tinggi terhadap virus ini.

Majalah New Scientist edisi 16 Mei 2020 merangkum penjelasan penularan virus dapat terjadi melalui plasenta. Para dokter dan peneliti mengatakan mereka lega melihat bahwa Covid-19 tampaknya tidak mematikan dalam kehamilan seperti SARS, yang membunuh seperempat dari wanita hamil yang memilikinya.

Pernyataan tersebut berdasarkan beberapa ratus kelahiran yang dikonfirmasi terkena virus. Marian Knight dari Universitas Oxford, Inggris, beserta rekan-rekannya telah mengumpulkan data dari 427 wanita hamil yang dirawat di rumah sakit Inggris dengan dilaporkan Covid-19.

Dari jumlah tersebut, tiga ibu meninggal dengan virus, sementara sembilan lainnya tetap dalam perawatan kritis. “Beberapa penelitian menunjukkan bukti yang cukup meyakinkan dengan adanya virus yang dapat ditularkan dari seseorang ke janin melalui plasenta,” kata Mullins seorang peneliti.

Sejumlah kecil bayi yang dilahirkan oleh orang-orang yang terkena Covid-19, tidak lama setelah kelahirannya, dan seorang wanita yang kehilangan kehamilannya pada 22 minggu ditemukan memiliki virus Corona di plasentanya.

Namun sebagian besar penelitian tidak menemukan bukti penularan seperti itu, “jadi jika itu melewati plasenta, ini jarang terjadi,” terang Andrew Shennan dari King’s College London.

Baca juga: Rumput Laut Dapat Menyelamatkan Peradaban Manusia?

Pasien Mengalami Cedera Plasenta

Sebuah studi yang dilakukan oleh Elisheva D Shanes, dkk (2020) dengan judul Placental Pathology in COVID-19, menjelaskan terkait fenomena ini. Metode yang dilakukannya adalah dengan memeriksa ibu hamil dampak potensial Covid-19 pada plasenta.

Mereka memeriksa 16 plasenta yang dikirim oleh wanita yang telah dikonfirmasi positif. Dari 15 wanita melahirkan selama trisemester ketiga, dan satu melahirkan selama trisemester ke-2 setelah mengalami kematian janin intrauterin.

Sangat penting untuk diingat bahwa ukuran sampel 16 sangat kecil. Sayangnya, karena Covid-19 masih sangat baru, sebagian besar penelitian yang dilakukan memiliki ukuran sampel yang sangat kecil. Hal itu berarti bahwa hasilnya dapat menambah basis pengetahuan kita tetapi tidak mutlak untuk mendefinisikannya.

Sebuah studi yang dilakukan antara akhir Maret hingga awal Mei di Northwestern’s Memorial Hospital di Chicago menunjukkan bahwa para ibu secara signifikan untuk mengembangkan pembuluh darah yang abnormal atau terluka.

Dr. Jeff Goldstein, seorang pakar penyakit di kampus tersebut menyatakan adanya arteri khusus di sisi ibu yang memberi darah ke plasenta.

“Dan apa yang kami tunjukkan ada beberapa masalah dengan cara pembuluh darah itu terbentuk. Kemudian kita melihat cedera pada pembuluh darah itu. Ini bisa menyebabkan aliran darah ke plasenta lebih sedikit, yang bisa mengurangi pengiriman oksigen dan nutrisi ke janin” jelasnya.

Sekitar 80 persen wanita dengan Covid-19 menunjukkan jenis cedera plasenta yang dikenal sebagai “malperfusi vaskular maternal” yang merupakan tanda aliran darah yang tidak mencukupi antara ibu dan bayi karena pembuluh darah abnormal.

Sebaliknya, 27 persen wanita dengan melanoma dan 44 persen dari semua kontrol (wanita tanpa Covid-19 dengan dan tanpa melanoma) menunjukkan kelainan ini.

“Temuan kami menunjukkan banyak aliran darah tersumbat, dan banyak plasenta lebih kecil dari seharusnya,” ungkap rekan penulis studi Dr. Emily Miller, asisten profesor kebidanan dan kandungan di Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern di Chicago.

Pada wanita dengan Covid-19, para peneliti juga mengamati trombi intervillous atau gumpalan darah di plasenta. Temuan ini sesuai dengan penelitian yang menunjukkan bahwa beberapa pasien dengan Covid-19 mengalami masalah pembekuan.

Dr. Miller menambahkan bahwa “saya tidak ingin menarik kesimpulan menyeluruh dari sebuah penelitian kecil. Tetapi pandangan awal tentang bagaimana Covid-19 dapat menyebabkan perubahan dalam plasenta membawa beberapa implikasi yang cukup signifikan bagi kesehatan kehamilan,” ungkapnya.

Dari 16 ibu, 15 di antaranya memiliki kelahiran hidup. Namun semuanya terinfeksi selama trisemester ketiga. Ibu yang tersisa terkena asimptomatik mengalami keguguran pada 16 minggu.

Baca juga: Obat yang Ditawarkan Presiden Trump Bisa Sebabkan Kematian

Tetap Menjaga Diri

Meskipun demikian, belum bisa dipastikan secara jelas apakah ini terkait dengan Covid-19. Studi ini tidak melihat apakah tahap kehamilan selama infeksi berperan dalam keparahan penyakit. Pertanyaan itu masih belum terjawab.

Sebanyak 15 ibu yang melahirkan tidak menunjukkan gejala atau memiliki gejala ringan Covid-19, hanya dua ibu yang membutuhkan penambahan oksigen. Sementara untuk 15 bayi dinyatakan negatif Corona dan baik-baik saja ketika meninggalkan rumah sakit.

Untuk menilai kesehatan dari 15 bayi yang baru lahir ini, Goldstein mengatakan setidaknya dalam jangka pendek bayi-bayi tersebut sangat baik. Meski begitu, dirinya yakin akan ada dampak seumur hidup pada anak-anak ini, tetapi dia tidak tahu pasti.

“Kita harus terus menindaklanjuti apa yang terjadi dengan anak-anak ini, meski mereka telah meninggalkan rumah sakit,” katanya. Penelitian ini memang masih dalam skala kecil namun tetap perlu dianggap serius. Terutama ketika negara kita sedang bergerak menuju pembukaan wilayah kembali.

Untuk itu, para wanita hamil tetap harus berhati-hati. Harus melakukan yang terbaik untuk mematuhi nasihat jarak sosial dan mencuci tangan.

“Saat ini, yang penting adalah bahwa wanita hamil melakukan apa pun yang mereka bisa untuk menghindari Covid-19,” kata Rasmussen.

Firdhausy Amelia

Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *