Cara Mengatasi Senioritas Agar Betah di Tempat Kerja

RUANGNEGERI.com – M. Alifarqi (2019) melalui bukunya yang berjudul Senioritas, menyebutkan bahwa ketidakmampuan dalam mengatasi senioritas sering kali menjadi alasan untuk mundur dari tempat bekerja.

Rasa tidak nyaman yang timbul dari perlakuan senior, tentu saja dapat menciptakan lingkungan kerja yang kurang kondusif. Dampaknya, motivasi kerja menjadi turun dan kinerja akan ikut turun. Hal ini sering kali terjadi pada lulusan baru atau fresh graduate.

Senioritas umumnya terjadi karena faktor usia atau lebih dulu bergabung dalam suatu institusi. Sehingga lulusan baru atau mahasiswa yang bekerja sampingan (magang dan freelance) tidak jarang menjadi sasaran empuk senioritas.

Usia yang lebih muda serta pengalaman yang masih kurang menjadi alasan utama munculnya hierarki dalam lingkungan kerja. Bertemu banyak senior di tempat kerja tentu menjadi sebuah tantangan.

Terlebih jika di antaranya ada yang tidak kooperatif. Selain menimbulkan rasa tidak nyaman, juga akan menghambat pekerjaan. Oleh sebab itu, hambatan seperti senioritas perlu segera ditaklukkan.

Berikut ini adalah hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengatasi senioritas di dunia kerja, terutama bagi fresh graduate.

BACA JUGA: Sejumlah Peluang Kerja buat Kamu yang Ingin Berkarier di Bidang Humaniora

1. Komunikasi Menjadi Kunci Utama

Cara termudah untuk dapat meruntuhkan batasan antara senior dan junior adalah saling mengenal lebih baik. Hal itu tidak dapat terwujud tanpa adanya komunikasi. Mulai dengan hal kecil seperti menyapa lebih dulu.

Tunjukkan kesan yang baik. Sebab, orang yang menganut paham senioritas biasanya merasa bahwa memulai komunikasi bukanlah tugasnya.

Namun komunikasi juga bukan hal yang dapat terwujud dengan mudah, karena tidak selalu mendapat tanggapan yang diharapkan. Saat ini terjadi, penting untuk tetap menunjukkan sikap baik dan tidak menyerah. Teruslah berusaha menjalin komunikasi hingga senior membuka diri.

Seringnya interaksi akan membuat pemahaman tentang karakter seseorang menjadi lebih baik. Dengan begitu, akan lebih mudah mengetahui hal-hal yang berpotensi menciptakan jarak dengan senior. Sehingga menemukan cara mengatasi senioritas menjadi lebih mudah.

Menjalin hubungan baik dengan senior juga akan mempercepat penerimaan di lingkungan kerja. Hal ini membuat proses adaptasi akan menjadi lebih mudah.

Komunikasi tidak hanya berperan untuk memberi kesan baik. Gunakanlah komunikasi untuk menyuarakan pendapat. Salah satu faktor yang membuat senioritas tetap ada adalah tidak adanya ketegasan dari junior.

Ungkapkan pada senior hal-hal yang terasa mengganggu. Gunakan bahasa yang baik dan sopan agar tidak menimbulkan prasangka buruk. Hal ini mungkin akan membuat senior lebih mawas diri dalam bertindak.

BACA JUGA: Intrapersonal Koleris Berpotensi Menjadi Pemimpin yang Sukses

2. Hindari Konfrontasi

Pada dasarnya, setiap orang berbeda. Bahkan antara senior dan junior di tempat kerja. Adanya perbedaan usia dapat menyebabkan perbedaan dalam pola pikir. Jangan mudah menyimpulkan bahwa pendapat senior kurang tepat karena terkesan kolot.

Pakai cara yang halus untuk menyampaikan ketidaksepakatan. Seperti mengajak senior untuk berdiskusi dan bertukar pikiran. Sampaikan pendapat atau kritikan tanpa menggurui. Memiliki pengetahuan lebih, tidak berarti boleh bersikap arogan.

Pada beberapa situasi, mungkin akan ditemui senior yang merasa pendapatnya benar karena merasa lebih tahu. Sehingga tidak mau mendengarkan pendapat orang lain.

Jika demikian, sebaiknya jangan melanjutkan dengan perdebatan. Selain tidak berguna, ini akan memperburuk hubungan nantinya.

Ada beberapa cara lain yang bisa dilakukan, misalnya saja meminta bantuan pada rekan kerja yang lebih dipercaya untuk membantu diskusi. Atau mencari jalan tengah dari perbedaan pendapat tersebut.

Terlalu sering melakukan konfrontasi langsung justru biasanya malah menjadi pemicu munculnya senioritas. Hal ini karena senior menjadi merasa kurang dihargai. Oleh sebab itu, minimalkan pergesekan dengan senior.

BACA JUGA: Motivasi Interpersonal Plegmatis Bisa Sukses Lewat Keahlian Melobi

3. Memberi Pengakuan dan Menunjukkan Kemampuan

Alifarqi (2019) menambahkan bahwa senioritas biasanya muncul karena rasa tidak percaya diri dan ketakutan pada ancaman hadirnya orang baru. Baik itu disebabkan oleh perbedaan tingkat pendidikan, maupun skills.

Yaitu untuk memenangkan ‘persaingan’ adalah mengandalkan usia yang lebih tua atau lamanya berada di tempat bekerja. Untuk mengatasi senioritas, para senior perlu diyakinkan bahwa ketakutan itu adalah hal yang tidak berguna.

Stephen Robbins & Timothy Judge (2008) melalui buku berjudul Perilaku Organisasi 1 (edisi ke-12), menyimpulkan bahwa senioritas memiliki hubungan positif dengan produktivitas.

Artinya, orang yang telah lama bekerja di suatu perusahaan memiliki produktivitas yang tinggi. Meskipun dengan latar belakang pendidikan yang kurang, namun senior lebih kaya pengalaman di tempat kerja.

Memberikan pengakuan terhadap hal ini dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Untuk menunjukkannya, dapat dengan meminta saran seputar bidang pekerjaan. Ketika senior merasa dibutuhkan dan memiliki posisi penting, senioritas akan digantikan dengan keinginan untuk mengayomi. Dengan begitu, senior justru akan banyak membantu.

Meski begitu, tetap perlu diingat juga bahwa bekerja bukan sekedar untuk mendengar pengalaman orang lain. Untuk mendapat penilaian baik, maka harus menunjukkan kinerja yang baik pula. Tunjukkan bahwa kemampuan yang dimiliki tidaklah kalah dengan para senior.

Kemampuan dan kinerja yang baik dapat membuat rekan kerja tidak memandang remeh. Mungkin rekan kerja akan mulai mengajak berdiskusi atau sharing, yang dapat meningkatkan kerja sama tim. Hal ini berguna dalam mengatasi senioritas karena menghapus batasan kemampuan.

Walaupun di satu sisi, ini juga dapat menimbulkan persaingan. Persaingan di lingkungan kerja memang dapat berdampak buruk.

Namun, persaingan yang sehat pada tingkat tertentu justru akan menambah motivasi. Sebab, hal ini akan menguntungkan perusahaan.

BACA JUGA: Tips buat Fresh Graduate agar Tidak Lama Menganggur

4. Berpikir Positif dalam Mengatasi Senioritas

Senioritas tidak selalu berkonotasi negatif. Kadang budaya senioritas diperlukan agar karyawan baru dapat lebih tertib dan tidak bertindak seenaknya. Asalkan senioritas tidak berlebihan atau bahkan mengarah pada sikap kasar.

Sehingga berpikirlah positif bahwa senioritas masih dibutuhkan dan bukan bertujuan untuk menekan karyawan baru atau masih muda. Pikiran positif seperti ini akan membantu memberikan perasaan nyaman di lingkungan kerja.

A. Satria (2019) dalam buku berjudul Cerdas Sebelum Lulus, menambahkan bahwa berpikir positif juga perlu ditujukan pada senior. Tidak semua senior akan bersikap kurang baik.

Terlalu antipati dan takut pada senior justru bisa menciptakan jarak dengan mereka. Terlepas dari kemampuan dan skills-nya, senior tetap patut untuk dihargai.

Berpikir positif juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan antusiasme. Menjadi muda adalah saat paling tepat menyerap pengalaman baru sebanyak-banyaknya. Hal itu tidak akan bisa didapatkan jika tidak bertemu dengan senior di tempat kerja.

Demikian hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi senioritas di tempat kerja. Senioritas memang akan terus ada muncul dalam berbagai situasi. Hanya saja dampaknya akan berbeda, tergantung dari sikap kita dalam menghadapinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *