Booming Aplikasi Zoom Selama Pandemi Covid-19

RUANGNEGERI.com – Zoom tumbuh menjadi bisnis yang menjual perangkat lunak yang sangat menguntungkan bagi bisnis perusahaan modal ventura.

Melansir CNN.com (21/05/2020), aplikasi tersebut digunakan untuk melakukan rapat lapangan virtual dari seluruh dunia dan bahkan eksekutif yang juga sedang melakukan kerja jarak jauh.

“Perusahaan kami yang dulunya 100 persen fokus pada perusahaan, sekarang memberdayakan dunia. Ini memberdayakan pemerintah, pendidikan dan kegiatan sosial. Dan kemudian ketika terdapat hal lainnya jatuh, rasanya seperti kita harus bersiap-siap untuk itu,” kata Subotovsky dari tim Zoom.

Sebagai pendiri Zoom, ide awal dari Eric Yuan membuat Zoom adalah untuk menyenangkan pelanggannya. Melalui aplikasi Zoom-talk, ia ingin memberikan kebahagiaan dengan memberikan platform konferensi video berkualitas tinggi kepada klien bisnisnya yang mudah digunakan.

Tetapi selama pandemi Covid-19, telah mengubah Zoom sebagai alat penting untuk pendidikan, seminar, ibadah dan berbagai aktivitas jarak jauh lainnya. Bahkan rapat dan pertemuan penting para kepala negara juga menggunakan aplikasi tersebut.

“Sekarang, Zoom bukan hanya perusahaan komunikasi bisnis, namun sudah menjadi perusahaan infrastruktur,” ujar Yuan.

Baca juga: Mungkinkah Bekerja Dari Rumah Menjadi Tren di Masa Depan?

Pembuatan Zoom Tidak Sesederhana Pemakaiannya

Banyak orang yang senang menggunakan konferensi video dengan tidak perlu memikirkan banyak hal. Seperti tidak harus mengunduh aplikasi atau mendaftar akun jika mereka tidak perlu. Mereka hanya ingin benda itu bekerja.

Meski produk yang diinginkan sesederhana mungkin, tapi ternyata pembuatan produknya tidak pernah sederhana. Menurut Oded Gal, mantan veterab WebEX yang menjabat sebagai pimpinan produksi Zoom, mengatakan bahwa perlu membangun banyak disiplin ke dalam produk bila ingin mewujudkannya.

Sama seperti WebEx membangun platform berbagi layar terdepan dari bandwidth baru yang diaktifkan oleh jalur DSL dan T1 tahun 1990-an, Zoom akan dibangun dari jaringan data canggih yang mampu streaming video HD.

“Video tidak mungkin pada tahun 2000-an karena bandwidth tidak ada, itu berubah” kata Iyer. Dalam panggilan Zoom, setiap pengguna dapat mengunggah ke atas dari dua aliran (satu untuk video, dan satu untuk berbagi layar) ke server cloud.

Kemudian mengompres setiap aliran, menyesuaikan output untuk bandwidth dan kemampuan CPU dari setiap komputer atau telepon. Data tersebut kemudian dikirimnya kembali, dengan latensi serendah mungkin. Lipat gandakan hingga 100 pengguna, dan masalahnya menjadi lebih rumit secara eksponensial.

“Anda tidak tahu apa yang tidak Anda lihat, Anda hanya mengalami hasil akhirnya,” kata Iyar menegaskan kerumitan pembuatan aplikasi.

“Semua orang berpikir konferensi video itu mudah dan ternyata teknologi yang diperlukan sangat sulit untuk dilakukan. Anda tidak mengontrol jaringan, tidak mengontrol ISP dan tidak mengontrol apakah seseorang menyalakan microwave dan mengganggu WiFi,” kata Knight.

Sementara mencari tahu bagaimana membuat panggilan video yang dapat diukur adalah tantangan yang menakutkan bagi tim Zoom. Namun, itu hanya setengah dari pertempuran.

Mereka juga harus membuat Zoom yang dapat digunakan oleh siapa pun, tanpa terkecuali. Dengan begitu mudahnya, hal ini yang dapat membuat orang menggunakannya dengan senang.

Zoom dapat berfungsi di browser apa pun. Orang yang menggunakannya tidak perlu menyesuaikan pengaturan firewall. Dan tidak seperti pertemuan WebEx, dengan pin dan ID rapat yang sulit diingat, Zoom akan dapat diakses dengan tautan sederhana.

Yuan menggunakan strategi freemium demi memikat banyak pelanggan, dan ini berhasil dilakukannya. Perusahaan-perusahaan teknologi yang terpesona oleh kesederhanaan dan efisiensi Zoom, mendaftar untuk berlangganan Zoom premium.

Saat musim pandemi Covid-19 mendunia, Zoom menjadi nama yang dibutuhkan oleh banyak orang. Dengan kondisi dunia yang sedang menerapkan karantina wilayah, dalam hitungan minggu, setiap lembaga, sekolah, perguruan tinggi dan keluarga sekarang merasa sangat membutuhkan cara untuk berkomunikasi.

“Kita tidak masuk ke pandemi dengan solusi konferensi video yang diinginkan. Kita masuk ke situasi dengan solusi konferensi video yang kita miliki,” kata Bill Marczak, seorang peneliti di Citizen Lab.

Selama pandemi, pertumbuhan lalu lintas Zoom naik 3.000 persen sejak Desember. Zoom secara tak terduga bergabung dengan Google, Kleenex dan Band-Aid dalam merek branding.

Dan selama lonjakan lalu lintas yang belum pernah terjadi sebelumnya, jaringan cloud Zoom, dibangun di atas AWS dan Oracle. Hal itu ditingkatkan untuk memenuhi permintaan yang meningkat.

Dalam beberapa tahun singkat, Zoom menemukan dirinya sebagai pemimpin pasar konferensi video. Setelah sukses melakukan IPO pada tahun 2019, Yuan menjadi miliarder berkali-kali lipat. Ketika saham banyak perusahaan besar anjlok, saham Zoom justru melonjak hingga 2 kali lipat.

Baca juga: Moralitas Beberapa Miliarder AS Saat Pandemi Covid-19

Memperbaiki Layanan Zoom dari Kritik

Hubungan lama Zoom dengan China juga menjadi pertanggungjawaban yang meningkat. Perusahaan telah memanfaatkan pengembang dari China sejak awal. Penelitian dan pengembangannya juga berada di negeri Tirai Bambu dengan lebih dari 700 karyawan.

Melansir CNBC.com (15/04/2020), Ketua DPR AS, Nancy Pelosi secara keliru menyebut Zoom sebagai “entitas China”, sambil menolak gagasan Zoom yang mengaktifkan sesi Kongres jarak jauh.

Padahal Zoom adalah perusahaan yang berbasis di Amerika, berkantor pusat di San Jose, California. Yuan mengakui bahwa ketika ketegangan antara China dan AS meningkat, Zoom mungkin harus menyesuaikan ikatan lama dengan Beijing.

Kota-kota di Amerika Serikat seperti Denver, Ohio atau Virginia sebagai tempat yang memungkinkan untuk pusat Zoom R&D yang direlokasi.

“Jika keadaan bertambah buruk, kita memang punya rencana,” ujar Yuan sebagaimana dilansir di laman CNN.

Pengawasan yang diterima Zoom telah menjadi berkah tersembunyi, bagi Yuan. Karena memungkinkannya untuk meningkatkan perusahaannya dengan cara-cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Baca juga: Meski Terkoreksi, Pemulihan Ekonomi Jepang Lebih Baik Dari AS dan Tiongkok

Sekarang ia mencurahkan seluruh harinya hanya untuk masalah keamanan dan privasi. “Kritik paling keras mungkin adalah kata-kata terbaik yang pernah kamu dengar,” ujarnya menambahkan.

“Jika dunia salah memahami kita, maka saya tidak menyalahkan orang lain, itu masalah kita. Kami adalah perusahaan Amerika yang sangat bangga dengan itu.”

“Perusahaan itu adalah perusahaan publik Nasdaq, yang berkantor pusat di San Jose. Saya seorang China-Amerika. Saya benar-benar percaya, selama kita melakukan hal yang benar, cepat atau lambat mereka akan mengetahuinya, bersabarlah,” katanya.

“Dalam sepuluh hingga dua puluh tahun, ketika orang menulis sejarah Covid-19, saya ingin mereka menulis bahwa Zoom melakukan hal yang benar bagi dunia,” tambah Yuan.

Sejak pandemi, Yuan justru memiliki sedikit waktu untuk menikmati kekayaan keluarganya yang berlipat ganda itu. Pria yang diperkirakan berpenghasilan sekitar US$8 miliar (Rp116,3 triliun) tersebut justru menyebutkan bahwa minggu-minggu ini menjadi paling yang menegangkan dalam hidupnya.

Firdhausy Amelia

Alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *