AS Masih Menghadapi Tantangan Ekonomi Berat Akibat Covid-19

RUANGNEGERI.com – Secara mengejutkan, tingkat belanja masyarakat secara umum di Amerika Serikat meningkat 2,7 persen pada bulan Mei 2020. Setelah sebelumnya sempat menurun drastis hingga 7,4 persen pada bulan April.

Melansir dari Reuters (26/06/2020), kondisi tersebut dinilai bisa mengundang sentimen positif pasar. Sebab, harapan akan bertahannya kondisi ekonomi makro di tengah pandemi virus dinilai masih cukup bagus.

Beberapa indikator ekonomi dilaporkan meningkat di bulan Mei lalu seperti sektor properti, manufaktur, kuliner dan ketenagakerjaan. Masyarakat menghabiskan uang untuk wisata dan pembelian barang-barang sekunder.

Pergeseran bisnis ke ranah online tidak mempengaruhi pengeluaran. Di sektor pasar uang dan pasar modal diharapkan akan stabil pada akhir Mei 2020.

“Ini akan menjadi musim panas yang lebih fluktuatif,” ujar Amy Wu Silverman, ahli strategi derivatif ekuitas di RBC Capital Markets.

Di sektor riil, peningkatan pengeluaran masyarakat pada bulan Mei dipengaruhi oleh dibukanya status lock down. Sebagian besar usaha beroperasi kembali dan memantik pergerakan positif ekonomi.

Saat itu, Gedung Putih membagikan satu kali tunjangan $1.200 pada jutaan orang. Pemerintah juga membagikan stimulasi fiskal $600 per minggu (atau sekitar Rp9 juta) sebagai bantuan akibat pandemi.

Baca juga: Aneksasi Israel Dikecam Dunia Internasional, AS Justru Beri Lampu Hijau

Total bantuan fiskal terstruktur saat itu adalah senilai $3 miliar atau setara dengan Rp 44 triliun. Pencabutan kembali tunjangan akibat pandemi di bulan Juli membuat ekonomi dihantui ketidakstabilan kembali.

Ditambah lagi pendapatan pribadi secara riil melorot hingga 4,2 persen. Penurunan terbesar sejak tahun 2013. Diperkirakan dengan skema pencabutan tersebut, sekitar 17 juta orang akan kehilangan pendapatan total selama kurang lebih 26 minggu.

Pemerintah juga mengeluarkan dana sangat besar untuk mendukung sistem kesehatan dan pengobatan. Bank Sentral AS, The Fed, menanggung selisih penurunan bunga hingga 700 juta Dollar. Dua hal yang membebani anggaran pengeluaran negara.

Namun, pada pertengahan Juni ini, tambahan kasus baru Covid-19 tercatat mengalami lonjakan. Akibat peningkatan itu, bursa saham di AS jatuh hingga 2 persen minggu ini. Kondisi tersebut menjadikan harapan pemulihan ekonomi nampak semakin sulit.

Gelombang penolakan rasial, “Black Lives Matter” juga menjadi tambahan beban bagi negeri Paman Sam. Kondisi stabilitas ekonomi banyak terjadi, baik di pasar uang dan modal maupun juga sektor riil.

Faktor pencabutan stimulasi fiskal menjadi pengaruh besar dalam perubahan harga saham. Pemerintah AS tidak akan memberikan cek tambahan untuk kesulitan akibat Covid-19 pada akhir Juli nanti.

Baca juga: Setahun Internet Dimatikan, Pengungsi Myanmar Tak Tahu Ada Virus

Akibatnya, investor bersikap lebih hati-hati dan menahan diri. Sebagian besar investor telah melepaskan beberapa saham.

Ancaman ketegangan perdagangan dengan Tiongkok juga memicu sentimen negatif pelaku pasar uang dan modal. Negara Tirai Bambu tersebut merupakan pemain besar di pasar global. Dengan porsi 17 persen dari seluruh perdagangan dunia.

Selepas Juli nanti, masih akan ada “jebakan besar bagi perekonomian,” ujar Gus Faucher, kepala ekonom di PNC Financial di Pittsburgh, Pennsylvania sebagaimana dilansir di laman Reuters. Jebakan yang dimaksud adalah berupa hilangnya pendapatan dan meningkatnya jumlah pengangguran.

Baca juga: Kegagalan Pemerintahan Populisme dalam Mengatasi Covid-19

Lonjakan Kasus Penularan Baru Mengancam Sektor Bisnis

Mengutip dari laman berita Reuters (27/06/2020), Florida mencatat lonjakan ribuan kasus penularan Covid-19 baru selama tiga hari terakhir. Per Jumat kemarin, tercatat 9,000 penularan baru virus di negara bagian tersebut. Secara nasional, dalam sehari tercatat lebih dari 36,000 kasus baru.

Angka tersebut menjadi salah satu yang terbesar di seluruh wilayah AS. Hal itu mengingatkan kembali peringatan dari Dr. Anthony S. Fauci kepada Presiden Donald Trump terkait rencana pembukaan kembali AS beberapa waktu lalu.

Lonjakan jumlah orang yang terkena virus ini berakibat langsung pada dunia usaha di Florida. Lini bisnis yang baru saja dibuka di awal Juni kemarin kembali harus ditutup. Hal yang mengejutkan bagi para pengusaha di wilayah tersebut.

Bisnis kuliner adalah salah satu lini bisnis yang paling terdampak. Peraturan pemerintah negara bagian tersebut membolehkan pembelian take away, tapi melarang pembelian dine-in.

Baca juga: Kasus Covid-19 di AS Masih Tinggi, Warganya Dilarang Memasuki Eropa

Sejumlah bar dan pub kembali ditutup. Walau pembelian take away juga dibolehkan di tempat tersebut, tapi pelaku bisnis mengeluhkan proses penutupan tersebut.

Sebagian besar pemiliknya menganggap pemerintah distrik bersikap tidak konsisten. Hal yang tentu saja mengganggu jalannya bisnis mereka.

Sebagian lagi merasa rela jika penutupan dapat memberi dampak baik bagi masyarakat. Sara Murray, manajer Cheers Pub di Friendswood, Texas menyatakan “kita harus melakukannya untuk memastikan semua orang aman.”

Fluktuasi dunia usaha yang mengarah ke sentimen negatif tersebut mempengaruhi jumlah pendapatan masyarakat. Selanjutnya, akan memangkas pengeluaran dan melemahkan kembali sektor ekonomi.

Saat ini para pelaku usaha sedang berkutat dengan pembayaran cicilan sewa dan utang yang kian bertumpuk. Sementara pendapatan berkurang hingga tinggal 25%.

Sehubungan dengan pemilu presiden AS pada November mendatang, sentimen positif pasar diharapkan meningkat. Harapan bahwa pemerintah akan kembali memberi bantuan fiskal pada masyarakat guna memancing optimisme pasar.

Aditarifa Rizki Pratigina

Penulis dan ibu rumah tangga, menulis novel berjudul Lingua Amoris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *