Akulturasi Budaya dan Spiritualitas di Masjid-masjid Tua Yogyakarta

RUANGNEGERI.com – Selama ini, Yogyakarta banyak dikenal sebagai kota pendidikan. Namun, orang sering kali lupa atau bahkan tidak tahu bahwa kota ini dahulunya juga merupakan pusat kerajaan sekaligus budaya Islam di tanah Jawa.

Salah satu bukti sejarah tersebut dapat kita jumpai dari banyaknya petilasan di kota yang juga dikenal dengan Kota Gudeg itu. Petilasan tersebut adalah berupa masjid, langgar, mushala atau surau tua yang berusia ratusan tahun.

Mulai dari Masjid Kota Gedhe yang dibangun pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma, Masjid Gedhe Kauman atau juga disebut Masjid Agung Kauman yang didirikan beberapa tahun setelah keraton berdiri, hingga Masjid Pathok Negara. Pathok Negara merupakan masjid tua yang membatasi Kota Yogyakarta dari segala penjuru arah mata angin.

Keberadaan masjid-masjid tersebut membuktikan bahwa Sultan tidak hanya merupakan pemimpin politik dan pemerintahan saja. Namun juga sekaligus berfungsi sebagai khalifatullah fil ardh atau wakil Allah di bumi yang diperintahkan untuk mengatur masyarakat Jawa khususnya, agar senantiasa sesuai dengan keseimbangan.

Sebagaimana umumnya masjid-masjid tua di Jawa, masjid tua di Yogyakarta juga memiliki serambi, pagar, dikelilingi kolam air yang tidak terlalu besar, tidak memiliki menara dan kubah.

Selain itu, bentuk atapnya juga disusun mengecil ke atas dengan puncaknya ada simbol bernama mustaka atau kepala dalam Bahasa Jawa halus.

Serambi masjid tersebut pada jaman dahulu digunakan untuk berbagai macam acara seperti pengajian, pengadilan bahkan rapat pemerintahan. Sementara, ruang utama masjid hanya digunakan untuk shalat dan tidak boleh digunakan untuk kepentingan lainnya.

Berikut beberapa masjid tua baik yang berlokasi di Kota Yogyakarta maupun di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada umumnya. Masjid di sini adalah bangunan yang besar, tidak termasuk langgar dan mushala yang ukurannya lebih kecil.

Baca juga:

1. Masjid Gedhe Kauman (dibangun tahun 1773)

Dengan mengikuti falsafah Jawa yang berbunyi Catur Gatra Tunggal, maka letak masjid ini tepat di sebelah barat Alun-Alun Utara dan kompleks Keraton Yogyakarta.

Ketika Anda sedang jalan jalan ke Malioboro dan mencari tempat shalat, tidak perlu kebingungan. Cukup ke masjid besar ini saja. Masjid Gedhe Kauman hingga kini masih aktif digunakan untuk shalat 5 waktu serta berbagai acara keagamaan lainnya.

Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1773, tepatnya pada hari Ahad Wage tanggal 29 Mei 1773 Masehi, atau 6 Rabi’ul Akhir 1187 Hijriah/Alip 1699 Jawa.

Pembangunannya diprakarsai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I beserta Kiai Fakih Diponingrat. Sedangkan desainnya dibuat oleh Kiai Wiryokusumo.

Melansir dari laman resmi Keraton Yogyakarta, Masjid Gedhe Kauman setidaknya pernah mengalami perbaikan sebanyak 5 kali sejak pertama kali didirikan. Yaitu pada tahun 1775 karena penambahan serambi, atap dan paviliun, tahun 1840  karena penambahan gerbang.

Kemudian renovasi pada tahun 1867 karena gerbang dan beberapa bagian bangunan roboh akibat gempa dan dua kali setelah kejadian tersebut hingga kini.

Meskipun demikian, perubahan struktur bangunan masjid kini tidak diperbolehkan. Sebab, masjid ini sudah menjadi situs warisan budaya Indonesia.

2. Masjid Mataram Kota Gedhe (dibangun tahun 1640an)

Jauh lebih tua dari Masjid Gedhe Kauman, masjid ini dibangun tahap pertama di masa Sultan Agung. Seorang Raja Mataram yang memerintah pada abad ke-15 Masehi. Pembangunan tahap kedua kemudian dilanjutkan oleh Raja Kasunanan Surakarta, Sri Paku Buwana X.

Melansir dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, masjid ini sudah resmi menjadi warisan cagar budaya pada tahun 2007 lalu.

Ruang utama masjid terdapat empat saka guru yang terbuat dari kayu jati yang utuh. Mimbar di ruang utama masjid dihiasi ornamen berbentuk geometris.

Hal yang unik dari mimbar ini adalah, di kaki-kaki mimbar, terdapat ornamen berbentuk sepasang binatang yang distilir dengan sempurna. Sehingga bentuk aslinya kini sudah tidak dapat dikenali lagi.

Masjid ini terletak di Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. Mungkin karena lokasinya tidak sestrategis Masjid Gedhe Kauman, wisatawan cenderung meneruskan laju kendaraannya ke makam Raja-raja di Imogiri meskipun melewati masjid ini.

Sama seperti Masjid Gedhe Kauman, masjid ini juga merupakan masjid dengan arsitektur bergaya Jawa. Hingga kini, masjid Kota Gedhe ini masih berfungsi sebagai tempat ibadah sehari-hari bagi warga.

BACA JUGA:

3. Masjid Pathok Negara (dibangun tahun 1724)

Membasuh Kaki di Kolam Masjid Pathok Negara Mlangi
Membasuh Kaki di Kolam Masjid Pathok Negara Mlangi

Masjid Pathok Negara adalah empat masjid yang berada di empat penjuru mata angin. Masjid ini dibangun pada masa Sultan Hamengku Buwono I. Lokasinya di Ploso Kuning, Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Provinsi DIY.

Melansir dari laman Keraton Yogyakarta, keempat masjid tersebut antara lain adalah masjid Jami’ Sulthoni Ploso Kuning (Utara), Masjid Jami’ Mlangi (Barat), Masjid Pathok Negara Dongkelan (Selatan) dan masjid Darojat Pathok Negara Babadan di sebelah timur.

Selain berfungsi sebagai tempat peribadatan, keempat masjid tersebut juga menjadi sumber pendidikan, pertahanan dan pusat layanan hukum bagi warga seperti akad nikah, waris maupun perceraian.

Sedangkan untuk urusan hukum perdata dan pidana lainnya, layanan peradilan langsung merujuk ke Peradilan Keraton di pusat kota.

Sama halnya dengan masjid Gedhe Kauman, masjid ini juga dibangun berdasarkan artistektur Jawa yang khas. Kolam yang mengelilingi masjid juga masih aktif digunakan untuk cuci kaki sebelum masuk masjid. Hanya saja, berbeda dengan masjid Gedhe, keempat masjid Pathok Negara hanya memiliki dua lapis atap.

Keempat masjid tersebut masih aktif digunakan untuk shalat lima waktu hingga kini. Selain itu juga berfungsi sebagai tempat kegiatan pendidikan.

Hingga kini, terdapat ribuan santri yang menuntut ilmu di 9 pondok pesantren di sekitar Masjid Pathok Negara Mlangi.

Baca juga:

4. Masjid Pajimatan dan Masjid Agung Giriloyo di Imogiri

Kedua Masjid tersebut dibangun oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma bersamaan dengan pembangunan kompleks makam Raja-raja Mataram di Imogiri yang diperkirakan dibangun pada tahun 1630an.

Pada mulanya, pembangunan Kompleks Pemakaman Giriloyo adalah ketika Sultan Agung Hanyakrakusuma selesai menunaikan Salat Jumat di Mekah, Arab Saudi. Tanpa sengaja, ia menemukan sebidang tanah yang berbau wangi.

Masjid ini terletak sekitar 16 kilometer di sebelah selatan Kota Yogyakarta, tepatnya di Kelurahan Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul.

Hingga kini, masjid yang berusia nyaris 400 tahun tersebut masih berdiri kokoh sesuai dengan bangunan aslinya. Meskipun telah beberapa kali sempat mendapatkan renovasi di beberapa bagian masjid.

Masjid tua itu juga masih digunakan untuk beribadah bagi masyarakat sekitar dan para pelancong, terutama bagi para peziarah makam Raja-raja di Imogiri.

Selain Masjid Pajimatan, Masjid Agung Giriloyo dibangun bersamaan dengan kompleks makam keluarga Keraton Mataram yang berada di dekatnya.

Masjid ini sering digunakan para peziarah khususnya, untuk bermalam sekaligus menunaikan ibadah Shalat Shubuh. Pada Bulan Ramadan, masjid ini ramai digunakan untuk beribadah terutama di 10 malam hari terakhir.

Baca juga:

Keunikan dan Ciri Khas Masjid-masjid Tua di Yogyakarta

Masjid-masjid di atas merupakan yang tertua di Provinsi DIY. Selain masjid tersebut, terdapat juga masjid yang terbilang lama, yaitu masjid Syuhada’ Kotabaru. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Selain itu, masih banyak lagi tempat ibadah bersejarah, seperti langgar atau mushola lama. Berbeda dengan masjid, desain langgar umumnya lebih sederhana.

Hal itu karena langgar pada mulanya adalah digunakan untuk keperluan ibadah pribadi dan keluarga dekat. Sehingga desainnya lebih umum dan sederhana.

Salah satunya adalah Langgar Kidul. Langgar ini awalnya adalah milik K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Musholla Aisiyah yang dikhususkan untuk jamaah wanita. Keduanya terletak di belakang Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Langgar milik K.H. Ahmad Dahlan misalnya merupakan bangunan berlantai dua dengan desain mirip rumah pada umumnya. Saat ini, bangunan tersebut juga sudah menjadi bangunan cagar budaya sehingga tidak bisa diperbaiki kecuali untuk perbaikan-perbaikan penting yang diijinkan oleh otoritas terkait.

Dibalik fungsi peribadatan, terdapat keunikan dan ciri khas yang menjadikan identitas bagi masjid-masjid tua di Yogyakarta. Beberapa fitur utama serta desain penting seolah menjadi hal yang ‘wajib’, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Tiang penyangga utama (soko guru). Tiang penyangga ini merupakan tiang dari satu gelondongan kayu penuh yang dipasang menjulang ke atas.
  2. Atap berbentuk tajuk. Khusus untuk Masjid Gedhe Kauman, tajuk terdiri dari tiga lapis yang bermakna tiga tahapan thariqah Islam yaitu syariat, ma’rifat dan hakekat atau Islam, Iman dan Ihsan. Masjid Pathok Negara hanya memiliki tajuk dua lapis;
  3. Memiliki puncak bernama mustaka (kepala). Mustaka ini terdiri dari bunga gambir, bunga kluwih yang berarti linuwih dan gada. Persatuan ketiganya melambangkan keesaan Allah swt, serta nilai kelebihan manusia yang menguasai syari’at, ma’rifat dan hakekat.
  4. Serambi digunakan untuk kegiatan keagamaan selain shalat. Awalnya, beberapa kegiatan mulai dari pengajian, simaan rutin, ijab qabul, rapat dan bahkan ruang pengadilan baik ruang pengadilan daerah (Masijid Pathok Negara) maupun juga Pengadilan Tinggi untuk Masjid Gedhe Kauman dilaksanakan di serambi masjid.
  5. Mihrab atau tempat Imam, baik untuk khotbah saat shalat Jumat maupun shalat hari raya.
  6. Tidak memiliki menara tapi memiliki bedug dan kenthongan sebagai alat pengumuman waktu shalat. Di beberapa masjid, dua alat ini sudah tergantikan dengan mikrofon.

Jika berkesempatan berkunjung ke Yogyakarta, jangan lupa singgah ke masjid-masjid tua tersebut. Hal-hal yang beraroma keraton, budaya dan spiritualitas niscaya akan bisa Anda rasakan di situ.

Farichatul Chusna

Alumnus Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, penggemar Kpop dan Budaya Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *